Mohon tunggu...

IMG-LOGO
Agt 20, 2026 | 43

Asthenia

Asthenia: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Kapan Harus ke Dokter | Keapotek


Merasa lelah setelah beraktivitas merupakan hal yang normal. Namun, jika tubuh terasa sangat lemah meskipun sudah cukup beristirahat atau bahkan kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut tidak boleh diabaikan. Salah satu penyebab yang mungkin mendasarinya adalah asthenia, yaitu kondisi yang ditandai dengan rasa lemah atau berkurangnya kekuatan fisik maupun mental.

Asthenia bukanlah suatu penyakit, melainkan gejala yang dapat muncul akibat berbagai kondisi medis, mulai dari infeksi ringan hingga penyakit kronis, gangguan hormonal, Penyakit autoimun, gangguan saraf, maupun masalah kesehatan mental . Karena penyebabnya sangat beragam, penanganan asthenia berfokus pada mencari dan mengatasi penyakit yang mendasarinya.

Pada sebagian orang, asthenia hanya berlangsung sementara, misalnya setelah mengalami infeksi virus atau kurang tidur. Namun, pada kasus lain, kelemahan dapat menetap selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan sehingga memerlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter. Mengenali penyebabnya sejak dini penting agar pengobatan yang diberikan sesuai dan komplikasi dapat dicegah.

 


Apa Itu Asthenia?

 

Asthenia adalah istilah medis yang menggambarkan kelemahan atau berkurangnya tenaga sehingga seseorang merasa kesulitan melakukan aktivitas yang sebelumnya dapat dilakukan dengan mudah. Kelemahan ini dapat mengenai seluruh tubuh (generalized asthenia) atau hanya bagian tubuh tertentu (localized asthenia).

Pada generalized asthenia, penderita biasanya merasa seluruh tubuh tidak bertenaga, cepat lelah, dan membutuhkan usaha lebih besar untuk melakukan aktivitas sehari-hari, seperti berjalan, naik tangga, atau mengangkat barang. Sementara itu, localized asthenia menyebabkan kelemahan pada kelompok otot tertentu, misalnya hanya pada lengan atau tungkai, yang sering berkaitan dengan gangguan saraf atau otot.

Perlu dipahami bahwa asthenia berbeda dengan rasa lelah biasa. kelelahan  normal umumnya membaik setelah beristirahat atau tidur yang cukup. Sebaliknya, pada asthenia, rasa lemah dapat tetap dirasakan meskipun seseorang telah beristirahat dengan baik karena penyebab utamanya sering kali merupakan kondisi medis tertentu.

 

Perbedaan Asthenia dengan Kelelahan Biasa

 

Banyak orang menganggap asthenia sama dengan kelelahan (fatigue), padahal keduanya memiliki arti yang berbeda.

Fatigue merupakan rasa lelah yang menyebabkan seseorang ingin beristirahat atau tidur, tetapi kekuatan otot sebenarnya masih normal. Sebaliknya, asthenia lebih mengarah pada berkurangnya kemampuan otot atau tubuh untuk menghasilkan tenaga sehingga aktivitas terasa jauh lebih berat dilakukan.

Perbedaan ini penting karena dapat membantu dokter memperkirakan penyebab yang mendasarinya. Pada beberapa kondisi, seseorang dapat mengalami fatigue tanpa asthenia, asthenia tanpa fatigue, atau keduanya sekaligus.

 

Asthenia

Fatigue

Tubuh terasa lemah atau kehilangan tenaga

Tubuh terasa lelah dan ingin beristirahat

Aktivitas fisik menjadi lebih sulit dilakukan

Kekuatan otot umumnya masih normal

Istirahat tidak selalu memperbaiki kondisi

Biasanya membaik setelah tidur atau istirahat

Sering berkaitan dengan penyakit tertentu

Dapat terjadi akibat aktivitas berat atau kurang tidur

 

Jenis Asthenia

 

Berdasarkan penyebab dan lokasi kelemahan, asthenia dapat dibedakan menjadi beberapa jenis.

 

1.    Generalized Asthenia

2.     

Generalized asthenia adalah kelemahan yang dirasakan hampir di seluruh tubuh. Jenis ini paling sering ditemukan dan biasanya berkaitan dengan penyakit sistemik, seperti infeksi, anemia, Penyakit Ginjal , gangguan hormon, kanker, atau penyakit kronis lainnya.

 

3.    Localized Asthenia

 

Localized asthenia hanya memengaruhi kelompok otot tertentu, misalnya salah satu lengan atau tungkai.

Penyebabnya sering berkaitan dengan:

 

  • cedera saraf,
  • stroke,
  • gangguan sumsum tulang belakang,
  • penyakit otot,
  • gangguan saraf perifer.

 

Kelemahan jenis ini biasanya membutuhkan evaluasi neurologis yang lebih mendalam.

 

Penyebab Asthenia

 

Asthenia bukan merupakan diagnosis akhir, melainkan gejala yang dapat disebabkan oleh berbagai penyakit. Oleh karena itu, dokter perlu mencari penyebab yang mendasarinya sebelum menentukan pengobatan.

Beberapa penyebab yang paling sering meliputi:

 

1.    Infeksi

 

Berbagai infeksi dapat menyebabkan tubuh terasa sangat lemah, baik infeksi virus, bakteri, maupun parasit.

 

Contohnya:

 

 

Pada beberapa orang, rasa lemah bahkan dapat bertahan selama beberapa minggu setelah infeksi sembuh, terutama setelah COVID-19 atau infeksi virus tertentu.)

 

2.    Anemia

 

Anemia menyebabkan jumlah Sel darah merah  atau HEMOGLOBIN   berkurang sehingga pasokan oksigen ke jaringan tubuh menurun.

Akibatnya, penderita dapat mengalami:

 

  • tubuh lemas,
  • mudah lelah,
  • pusing ,
  • sesak saat beraktivitas,
  • jantung berdebar.

 

Anemia merupakan salah satu penyebab asthenia yang cukup sering ditemukan, terutama pada wanita usia reproduktif dan lansia.

 

3. Gangguan Hormon

 

Beberapa gangguan hormon juga dapat menyebabkan kelemahan yang menetap, misalnya:

 

Gangguan hormonal dapat memengaruhi metabolisme tubuh sehingga produksi energi menurun dan menyebabkan tubuh terasa lemah.

 

3.    Penyakit jantung dan Paru

 

Jantung dan paru-paru berperan penting dalam menyalurkan oksigen ke seluruh tubuh.

Apabila fungsi kedua organ ini terganggu, tubuh akan lebih mudah mengalami kelelahan  dan kelemahan.

Beberapa contohnya meliputi:

 

 

4.    Gangguan Saraf dan Otot

 

Penyakit yang memengaruhi otak, saraf, atau otot dapat menyebabkan kelemahan yang nyata.

Misalnya:

 

 

Pada kondisi ini, kelemahan sering kali disertai gejala neurologis lain, seperti kesemutan, mati rasa, gangguan keseimbangan, atau kesulitan berbicara.

 

6. Gangguan Kesehatan Mental

 

Stres berkepanjangan, depresi, dan Ganggua kecemasan  juga dapat menyebabkan tubuh terasa lemah serta kehilangan energi.

Meskipun penyebab utamanya bukan gangguan pada otot, perubahan aktivitas otak, hormon stres, kualitas tidur, dan nafsu makan dapat memengaruhi kemampuan tubuh dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

 

Gejala Asthenia

 

Gejala utama asthenia adalah tubuh terasa lemah atau kehilangan tenaga sehingga aktivitas yang sebelumnya mudah dilakukan menjadi terasa lebih berat. Tingkat keparahan gejala dapat berbeda pada setiap orang, mulai dari kelemahan ringan hingga kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.

Beberapa gejala yang sering menyertai asthenia meliputi:

 

  • tubuh terasa lemah meskipun sudah beristirahat,
  • mudah lelah saat melakukan aktivitas ringan,
  • penurunan kekuatan otot,
  • sulit mengangkat atau membawa barang,
  • kesulitan berjalan jauh atau naik tangga,
  • gerakan terasa lebih lambat,
  • berkurangnya kemampuan bekerja atau berolahraga.

 

Apabila asthenia disebabkan oleh penyakit tertentu, gejala lain juga dapat muncul sesuai penyebabnya, misalnya Demam pada infeksi, Sesak napas pada penyakit paru, atau Penurunan berat badan pada penyakit kronis.

 

Gejala Berdasarkan Penyebabnya

 

Karena penyebab asthenia sangat beragam, tanda dan gejala yang muncul juga dapat berbeda.

Asthenia akibat infeksi

Selain tubuh lemah, penderita dapat mengalami:

 

 

Kelemahan biasanya membaik secara bertahap setelah infeksi teratasi, meskipun pada beberapa infeksi virus dapat bertahan lebih lama.

 

Asthenia akibat anemia

 

Gejala yang sering menyertai meliputi:

 

  • wajah tampak pucat,
  • jantung berdebar,
  • sesak saat beraktivitas,
  • pusing,
  • tangan dan kaki terasa dingin.

 

Gejala tersebut muncul karena jaringan tubuh tidak mendapatkan pasokan oksigen yang cukup.

 

Asthenia akibat gangguan saraf

 

Pada penyakit saraf, kelemahan sering disertai:

 

  • kesemutan,
  • mati rasa,
  • gangguan keseimbangan,
  • sulit menggenggam benda,
  • gangguan koordinasi,
  • kelemahan hanya pada salah satu sisi tubuh.

 

Kondisi seperti ini memerlukan pemeriksaan medis segera, terutama bila muncul secara mendadak karena dapat menandakan stroke.

 

Asthenia akibat gangguan hormon

 

Gangguan hormon dapat menimbulkan gejala tambahan berupa:

 

  • berat badan berubah tanpa sebab yang jelas,
  • Kulit  Kering,
  • rambut rontok,
  • intoleransi terhadap suhu dingin atau panas,
  • perubahan denyut jantung,
  • perubahan suasana hati.

 

Gejala yang muncul bergantung pada hormon yang mengalami gangguan.

 

Faktor Risiko Asthenia

 

Siapa pun dapat mengalami asthenia, tetapi beberapa kondisi dapat meningkatkan risikonya.

Faktor-faktor tersebut antara lain:

 

  • usia lanjut,
  • penyakit kronis,
  • infeksi berat,
  • kekurangan gizi,
  • kurang tidur,
  • stres berkepanjangan,
  • depresi atau gangguan kecemasan ,
  • penyakit autoimun,
  • kanker,
  • Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti obat penenang, kemoterapi, atau kortikosteroid dalam jangka panjang.

 

Bagaimana Dokter Menegakkan Diagnosis?

 

Karena asthenia bukan merupakan penyakit melainkan gejala, dokter akan berusaha mencari penyebab yang mendasarinya. Proses diagnosis biasanya dimulai dengan wawancara medis mengenai keluhan yang dialami pasien.

Dokter mungkin akan menanyakan beberapa hal berikut:

 

  • kapan kelemahan mulai dirasakan,
  • apakah kelemahan muncul tiba-tiba atau perlahan,
  • apakah mengenai seluruh tubuh atau hanya bagian tertentu,
  • aktivitas apa yang memperberat atau mengurangi keluhan,
  • riwayat penyakit sebelumnya,
  • obat-obatan yang sedang dikonsumsi,
  • riwayat keluarga dengan penyakit tertentu.

 

Informasi tersebut membantu dokter memperkirakan apakah kelemahan lebih mungkin disebabkan oleh gangguan otot, saraf, hormon, jantung, paru, atau penyebab lainnya.

 

Pemeriksaan Fisik

 

Setelah wawancara medis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh.

Pemeriksaan dapat meliputi:

 

  • pengukuran Tekanan darah,
  • denyut nadi,
  • suhu tubuh,
  • pemeriksaan kekuatan otot,
  • refleks,
  • koordinasi gerakan,
  • kemampuan berjalan,
  • pemeriksaan saraf,
  • pemeriksaan jantung dan paru-paru.

 

Pemeriksaan ini membantu menentukan lokasi gangguan sekaligus memilih pemeriksaan penunjang yang diperlukan.

 

Pemeriksaan Penunjang

 

Tidak semua pasien memerlukan pemeriksaan tambahan. Jenis pemeriksaan akan disesuaikan dengan dugaan penyebab asthenia.

Beberapa pemeriksaan yang mungkin dilakukan antara lain:

 

Pemeriksaan darah

 

Tes darah dapat membantu mendeteksi:

 

Pemeriksaan pencitraan

 

Apabila dicurigai terdapat gangguan pada otak, tulang belakang, atau organ tertentu, dokter dapat menyarankan pemeriksaan seperti:

 

Jenis pemeriksaan akan disesuaikan dengan gejala yang dialami pasien.

 

Pemeriksaan saraf dan otot

 

Pada beberapa kasus, dokter dapat melakukan:

 

 

Pemeriksaan tersebut membantu mengevaluasi gangguan pada saraf perifer maupun otot.

 

Kondisi yang Memiliki Gejala Mirip Asthenia

 

Beberapa kondisi lain dapat menimbulkan keluhan yang menyerupai asthenia sehingga perlu dibedakan melalui pemeriksaan medis.

Di antaranya:

 

 

Karena gejalanya saling tumpang tindih, diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan rasa lemah yang dirasakan pasien.

 

Kapan Asthenia Menjadi Tanda Bahaya?

 

Asthenia memerlukan penanganan medis segera apabila disertai salah satu dari gejala berikut:

 

 

Gejala-gejala tersebut dapat mengindikasikan kondisi serius seperti stroke, infeksi berat, gangguan jantung  , atau penyakit neurologis yang memerlukan penanganan segera.

 

Pengobatan, Perawatan di Rumah, Pencegahan, dan Kapan Harus ke Dokter

Pengobatan asthenia bergantung sepenuhnya pada penyebab yang mendasarinya. Karena asthenia merupakan gejala, bukan penyakit, tidak ada satu jenis obat yang dapat mengatasi semua kasus. Setelah penyebab diketahui, dokter akan menyusun rencana pengobatan yang sesuai agar kelemahan tubuh dapat berangsur membaik. Pada sebagian pasien, perbaikan dapat terjadi dalam beberapa hari, sedangkan pada penyakit kronis atau gangguan neurologis, proses pemulihan mungkin memerlukan waktu lebih lama.

 

Pengobatan Asthenia

 

Pendekatan pengobatan akan disesuaikan dengan kondisi yang menyebabkan asthenia.

 

1.    Mengatasi Penyakit yang Mendasari

 

Langkah utama dalam menangani asthenia adalah mengobati penyebabnya.

Sebagai contoh:

 

 

Ketika penyakit yang mendasari berhasil dikendalikan, keluhan asthenia umumnya akan berangsur membaik.

 

2.    Mengoptimalkan Asupan Nutrisi

 

Kekurangan kalori, protein, vitamin, maupun mineral dapat menyebabkan tubuh kehilangan energi dan kekuatan.

Bila ditemukan kekurangan nutrisi, dokter dapat menyarankan:

  • memperbaiki pola makan,
  • meningkatkan asupan protein,
  • mengonsumsi vitamin atau mineral bila memang diperlukan,
  • berkonsultasi dengan ahli gizi.

 

Namun, suplemen sebaiknya tidak dikonsumsi secara rutin tanpa adanya indikasi medis atau hasil pemeriksaan yang menunjukkan adanya kekurangan nutrisi.

 

3.    Fisioterapi dan Rehabilitasi

 

Pada pasien dengan penyakit saraf, stroke, cedera otot, atau kelemahan akibat tirah baring dalam waktu lama, fisioterapi dapat membantu meningkatkan kekuatan otot, keseimbangan, koordinasi, serta kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari.

Program latihan akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien agar pemulihan berlangsung secara aman dan bertahap.

 

4.    Penyesuaian Obat

 

Beberapa jenis obat dapat menyebabkan kelemahan sebagai efek samping, misalnya:

 

  • obat penenang,
  • obat tidur,
  • relaksan otot,
  • beberapa obat kemoterapi,
  • kortikosteroid jangka panjang,
  • obat penurun kolesterol tertentu (statin pada sebagian kecil pasien).

Apabila dokter menduga obat menjadi penyebab asthenia, dosis dapat disesuaikan atau diganti dengan obat lain yang lebih sesuai.

Jangan menghentikan obat sendiri tanpa berkonsultasi dengan dokter.

 

Perawatan di Rumah

 

Selain pengobatan medis, beberapa langkah sederhana dapat membantu mempercepat pemulihan dan mengurangi keluhan asthenia.

 

Istirahat yang Cukup

 

Tidur selama 7–9 jam setiap malam membantu tubuh memperbaiki jaringan dan memulihkan energi.

Apabila mengalami gangguan tidur, konsultasikan dengan dokter agar penyebabnya dapat diatasi.

 

Tetap Aktif Sesuai Kemampuan

 

Meskipun tubuh terasa lemah, aktivitas fisik ringan secara bertahap justru dapat membantu mempertahankan kekuatan otot.

Aktivitas dapat dimulai dari:

 

  • berjalan santai,
  • peregangan,
  • latihan keseimbangan,
  • latihan sesuai anjuran fisioterapis.

 

Hindari memaksakan diri apabila aktivitas justru memperburuk gejala.

 

Mengonsumsi Makanan Bergizi Seimbang

 

Pola makan yang sehat membantu memenuhi kebutuhan energi dan nutrisi tubuh.

Usahakan mengonsumsi:

 

  • protein tanpa lemak,
  • sayur dan buah,
  • biji-bijian utuh,
  • kacang-kacangan,
  • cukup cairan setiap hari.

 

Apabila nafsu makan menurun akibat penyakit tertentu, konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi.

 

Mengelola Stres

 

Stres berkepanjangan dapat memperburuk rasa lemah dan kelelahan.

Beberapa cara yang dapat membantu meliputi:

 

  • latihan pernapasan,
  • meditasi,
  • Yoga ,
  • melakukan hobi,
  • berbicara dengan keluarga atau tenaga profesional bila diperlukan.

 

Apakah Asthenia Dapat Dicegah?

 

Tidak semua kasus asthenia dapat dicegah karena sebagian berkaitan dengan penyakit tertentu. Namun, risiko terjadinya kelemahan tubuh dapat dikurangi dengan menerapkan gaya hidup sehat.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

 

  • mengonsumsi makanan bergizi seimbang,
  • berolahraga secara teratur,
  • tidur yang cukup,
  • menghindari merokok ,
  • membatasi konsumsi Alkohol ,
  • mengelola stres,
  • menjaga berat badan ideal,
  • mengontrol penyakit kronis sesuai anjuran dokter,
  • melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi kelompok berisiko.

 

Langkah-langkah tersebut juga membantu menurunkan risiko berbagai penyakit yang dapat menyebabkan asthenia.

 

Komplikasi Asthenia

 

Asthenia yang tidak ditangani dapat memengaruhi kualitas hidup dan meningkatkan risiko komplikasi, terutama bila penyebab utamanya merupakan penyakit serius.

Komplikasi yang mungkin terjadi meliputi:

 

  • penurunan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari,
  • peningkatan risiko jatuh pada lansia,
  • kehilangan massa otot (muscle wasting),
  • ketergantungan terhadap bantuan orang lain,
  • penurunan kualitas hidup,
  • keterlambatan diagnosis penyakit yang mendasari.

 

Komplikasi tersebut dapat diminimalkan apabila penyebab asthenia dikenali dan ditangani sejak dini.

 

Kapan Harus ke Dokter?

 

Segera berkonsultasi dengan dokter apabila kelemahan tubuh:

 

  • berlangsung lebih dari beberapa hari tanpa penyebab yang jelas,
  • semakin memburuk,
  • tidak membaik meskipun sudah cukup beristirahat,
  • mengganggu aktivitas sehari-hari,
  • sering kambuh.

 

Segera cari pertolongan medis darurat apabila asthenia disertai:

 

  • kelemahan mendadak pada salah satu sisi tubuh,
  • sulit berbicara,
  • wajah tampak mencong,
  • sesak napas berat,
  • nyeri dada,
  • kehilangan kesadaran,
  • kejang,
  • demam tinggi disertai penurunan kesadaran.

Gejala-gejala tersebut dapat menandakan kondisi yang mengancam jiwa, seperti stroke, serangan jantung, infeksi berat, atau gangguan neurologis akut.

 

Ringkasan

 

Asthenia adalah gejala berupa kelemahan tubuh yang dapat memengaruhi seluruh tubuh atau hanya bagian tertentu. Berbeda dengan kelelahan biasa, asthenia sering kali tidak membaik hanya dengan beristirahat dan dapat menjadi tanda adanya penyakit yang mendasarinya.

Penyebab asthenia sangat beragam, mulai dari infeksi, anemia, gangguan hormon, penyakit jantung, penyakit paru, gangguan saraf, hingga masalah kesehatan mental. Oleh karena itu, pengobatan difokuskan pada mengatasi penyebab utama, disertai perbaikan pola hidup, pemenuhan nutrisi, dan rehabilitasi bila diperlukan.

Apabila kelemahan berlangsung lama, semakin berat, atau disertai gejala seperti sesak napas, nyeri dada, atau kelemahan mendadak pada salah satu sisi tubuh, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

 

FAQ

 

1.    Apakah asthenia sama dengan kelelahan?

 

Tidak. Asthenia adalah kelemahan tubuh atau berkurangnya kekuatan fisik, sedangkan kelelahan (fatigue ) lebih menggambarkan rasa letih atau keinginan untuk beristirahat. Keduanya dapat terjadi bersamaan, tetapi merupakan kondisi yang berbeda.

 

2.    Apakah asthenia bisa sembuh?

 

Ya. Asthenia dapat membaik apabila penyebab yang mendasarinya berhasil diobati. Lama pemulihan bergantung pada jenis penyakit, tingkat keparahan, dan kondisi kesehatan setiap orang.

3.    Apakah asthenia merupakan tanda penyakit serius?

 

Tidak selalu. Asthenia dapat disebabkan oleh kondisi ringan seperti kurang tidur atau infeksi virus. Namun, kelemahan juga dapat menjadi tanda penyakit serius, seperti stroke, gangguan saraf, penyakit jantung, atau kanker, sehingga perlu dievaluasi apabila berlangsung lama atau disertai gejala lain.

 

4.    Apakah olahraga boleh dilakukan saat mengalami asthenia?

 

Boleh, selama penyebabnya telah diketahui dan dokter menyatakan aman. Aktivitas fisik ringan yang dilakukan secara bertahap dapat membantu mempertahankan kekuatan otot, tetapi sebaiknya hindari Olahraga berat hingga kondisi membaik.

 

5.    Kapan saya harus segera ke rumah sakit?

 

Segera cari pertolongan medis apabila asthenia muncul secara tiba-tiba, disertai kelemahan pada satu sisi tubuh, sulit berbicara, sesak napas berat, nyeri dada, penurunan kesadaran, atau kejang karena kondisi tersebut dapat menandakan keadaan darurat medis.

 

Daftar Referensi

 

1.    Cleveland Clinic. Weakness (Muscle Weakness): Causes, Symptoms & Treatment.
https://my.clevelandclinic.org/health/symptoms/25015-weakness

2.    Setiap orang pasti pernah merasa lelah Namun, kelelahan ekstrem berbeda dari lelah biasa. Kondisi ini membuat seseorang merasa sangat lelah hingga sulit untuk bangun

3.    Merck Manual Professional Edition. Weakness.
https://www.merckmanuals.com/professional/neurologic-disorders/symptoms-of-neurologic-disorders/weakness

4.    https://www.nhlbi.nih.gov/health/anemiaNational Heart, Lung, and Blood Institute. Anemia.

5.    https://www.niddk.nih.gov/health-information/endocrine-diseasesNational Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Endocrine Diseases.

6.    https://www.ninds.nih.gov/health-information/disordersNational Institute of Neurological Disorders and Stroke. Disorders A–Z Index.

7.    https://www.cdc.gov/covid/long-term-effects/Centers for Disease Control and Prevention. Long COVID or Post-COVID Conditions.

8.    https://www.nimh.nih.gov/health/topics/depressionNational Institute of Mental Health. Depression.

9.  National Institutes of Health – Office of Dietary Supplements (ODS). Dietary Supplements.
https://ods.od.nih.gov/

10.World Health Organization (WHO). Healthy Diet.
https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/healthy-diet

 



 

Keranjang Anda

Keranjang anda kosong