Mohon tunggu...

IMG-LOGO
Agt 12, 2026 | 43

Kejang

kejang epilepsi, penyebab kejang, gejala kejang, obat kejang, epilepsi pada anak


 

Mantra paroksismal adalah kejadian yang muncul tiba-tiba dan sementara, yang bisa disebabkan oleh berbagai hal seperti gangguan saraf, masalah jantung, faktor psikologis, atau kondisi lain seperti pingsan, gangguan gerakan, dan gangguan tidur. Kejang epilepsi termasuk salah satu bentuknya, yaitu kondisi ketika aktivitas listrik Otak menjadi tidak normal, berlebihan, dan terjadi secara serentak, sehingga menimbulkan gejala seperti perubahan kesadaran atau gerakan tubuh yang tidak terkendali.

Kejang adalah kondisi ketika aktivitas listrik di otak menjadi tidak normal. Akibatnya, seseorang bisa mengalami perubahan kesadaran (misalnya bingung atau tidak sadar) dan gerakan tubuh yang tidak terkendali. Kejang punya beberapa jenis, dan sering juga disebut “step” oleh masyarakat.

 

Kejang pada orang yang sudah pernah mengalaminya

 

Kalau seseorang pernah mengalami kejang sebelumnya, biasanya ia didiagnosis epilepsi. Epilepsi adalah kondisi di mana kejang bisa terjadi berulang.

Penyakit ini umumnya bisa dikendalikan dengan obat atau terapi tertentu. Pengobatan bisa membantu mengurangi seberapa sering dan seberapa berat kejang terjadi, tetapi biasanya tidak bisa menyembuhkannya sepenuhnya.

Epilepsi terjadi karena adanya gangguan pada bagian otak tertentu, sehingga aktivitas saraf menjadi tidak stabil.

·      Jika epilepsi muncul sejak bayi atau anak-anak, biasanya disebabkan oleh gangguan perkembangan otak, masalah metabolisme (tubuh sulit memproses zat tertentu), atau gangguan perkembangan seperti autisme atau cerebral palsy.

·      Jika muncul saat dewasa, penyebabnya sering terkait cedera kepala, stroke , atau infeksi otak.

 

Kejang pada orang yang belum pernah mengalaminya

 

Kejang juga bisa terjadi pertama kali tanpa riwayat sebelumnya. Ini belum tentu berarti epilepsi. Kadang, kejang hanya terjadi sekali karena ada masalah kesehatan tertentu. Jika penyebabnya sudah diatasi, biasanya kejang tidak akan muncul lagi.

Beberapa penyebab kejang yang bukan epilepsi antara lain:

 

·        Infeksi pada otak atau selaput otak (seperti meningitis atau ensefalitis)

·        Ketidakseimbangan zat penting dalam darah (misalnya natrium, kalium, atau kalsium)

·        Perdarahan di otak

·        Kelainan Pembuluh darah  di otak

·        Stroke

·        Cedera atau benturan kepala

·        Pengaruh Alkohol atau obat-obatan (keracunan atau putus zat)

·        Kondisi darurat pada diabetes

 

Beberapa kondisi seperti stroke bisa menyebabkan kerusakan otak permanen, yang akhirnya memicu epilepsi. Tapi ada juga kondisi lain yang tidak menyebabkan kejang berulang jika segera ditangani.

 

Risiko kejang berulang

 

Sulit untuk memastikan apakah kejang pertama akan berkembang menjadi epilepsi. Namun, ada beberapa hal yang bisa meningkatkan risikonya, seperti:

·        Kejang terjadi berulang dalam waktu dekat

·        Hasil pemeriksaan otak menunjukkan adanya kelainan  

·        Hasil tes seperti EEG atau pemeriksaan saraf tidak normal

 

Jenis dan Lokasi Kejang di Otak

 

Salah satu hal yang membedakan jenis kejang adalah di bagian mana kejang itu mulai di otak. Ini penting karena cara pengobatannya bisa berbeda, tergantung apakah kejang muncul di satu sisi otak atau langsung melibatkan kedua sisi.

Kejang onset fokus: dimulai dari satu area tertentu di otak

Kejang onset umum: langsung melibatkan kedua sisi otak

Kadang, kejang yang awalnya hanya di satu area bisa menyebar ke seluruh otak. Ini disebut kejang fokus yang kemudian menjadi kejang umum.

 

Kejang Fokus

Kejang fokus terjadi ketika gangguan listrik di otak dimulai dari satu bagian saja. Kondisi ini bisa dideteksi lewat pemeriksaan seperti EEG, pencitraan otak, atau dari gejala awal yang muncul.

Beberapa bagian otak yang sering menjadi awal kejang fokus:

 

·        Lobus temporal Bisa menimbulkan tanda awal seperti perasaan deja vu (seperti pernah mengalami kejadian yang sama), mencium bau aneh, atau firasat bahwa kejang akan terjadi.

·        Lobus frontal Bisa menyebabkan gerakan tidak sadar pada satu tangan atau satu kaki.

·        Lobus parietal Bisa menimbulkan sensasi aneh di tubuh, seperti kesemutan atau rasa tidak biasa di satu sisi tubuh.

 

Kejang Umum

 

Kejang onset umum adalah kejang yang sejak awal langsung melibatkan kedua sisi otak. Biasanya, kondisi ini membuat seseorang kehilangan kesadaran.

Beberapa jenis kejang umum yang sering terjadi:

 

·        Kejang absence (sering pada anak-anak) Ditandai dengan kehilangan kesadaran singkat. Anak bisa terlihat seperti sedang melamun atau “bengong” beberapa detik, lalu kembali normal tanpa sadar bahwa tadi terjadi kejang.

·        Kejang tonik-klonik umum Ini adalah jenis kejang yang paling mudah dikenali. Ditandai dengan tubuh menjadi kaku lalu diikuti gerakan kejang-kejang di seluruh tubuh, disertai hilangnya kesadaran.

 

Bentuk Gerakan pada Kejang Umum

 

Kejang umum bisa menimbulkan beberapa jenis gerakan atau efek pada tubuh, seperti:

 

·        Tonik: otot menjadi kaku

·        Atonik: otot tiba-tiba lemas (bisa menyebabkan jatuh)

·        Mioklonik: sentakan singkat pada bagian tubuh

·        Klonik: gerakan berulang seperti tersentak atau mengguncang

·         

Kejang Umum yang Berawal dari Kejang Fokus

 

Kadang, kejang yang awalnya hanya terjadi di satu bagian otak (kejang fokus) bisa cepat menyebar ke seluruh otak. Saat itu terjadi, gejalanya bisa terlihat seperti kejang umum, terutama kejang tonik-klonik. Karena penyebarannya bisa sangat cepat, tanda-tanda awal kejang fokus sering tidak sempat terlihat.

 

Jenis Kejang yang Umum pada Anak

 

Beberapa jenis kejang yang sering terjadi pada anak-anak meliputi:

 

·        Spasme infantile Ditandai dengan gerakan tubuh yang tiba-tiba dan singkat, seperti tersentak.

·        Kejang karena demam Terjadi saat anak mengalami Demam   tinggi.

·        Kejang absence Anak tampak seperti melamun atau menatap kosong selama beberapa detik.

·        Sindrom epilepsi pada anak Kondisi ini biasanya muncul sejak kecil dan bisa disertai keterlambatan perkembangan, berbagai jenis kejang, serta kejang yang sulit diobati.

 

Komplikasi Kejang

Penanganan kejang tidak hanya bertujuan untuk menghentikan kejang saat terjadi, tetapi juga untuk mencari dan mengatasi penyebabnya agar tidak menimbulkan masalah lanjutan. Pada kondisi tertentu, terutama jika kejang berlangsung lama atau berat, pasien mungkin memerlukan perawatan tambahan seperti bantuan pernapasan dan pemantauan fungsi jantung serta sirkulasi darah. Selama proses ini, tenaga medis akan mengawasi kondisi penting seperti Tekanan darah   dan kadar oksigen dalam tubuh, karena gangguan pada keduanya dapat memperparah kondisi dan meningkatkan risiko kerusakan otak jika tidak segera ditangani.

Selain itu, kejang juga dapat menimbulkan komplikasi berupa cedera fisik, misalnya luka pada lidah atau kepala akibat terjatuh saat kejang. Pada kasus yang lebih serius seperti kejang berkepanjangan (status epileptikus), dampaknya bisa lebih berat karena dapat merusak sel-sel otak dan meningkatkan kemungkinan kejang berulang di masa depan. Bahkan, ada jenis kejang yang tidak terlihat secara jelas tanpa gerakan tubuh, yang hanya bisa dideteksi dengan alat seperti EEG, namun tetap berbahaya jika tidak segera ditangani. Oleh karena itu, penanganan yang cepat, tepat, dan menyeluruh sangat penting untuk mencegah komplikasi dan menjaga kesehatan otak.

Segera cari pertolongan medis jika kejang berlangsung lebih dari 5 menit, terjadi berulang tanpa sadar penuh di antaranya, disertai cedera kepala berat, kesulitan bernapas, atau terjadi pada ibu hamil. Interaksi obat antikejang juga perlu diperhatikan karena beberapa obat dapat memengaruhi efektivitas kontrasepsi hormonal, pengencer darah, dan obat tertentu lainnya.

 

Pengobatan Kejang

 

Kejang bisa ditangani dengan berbagai cara, tergantung penyebab dan tingkat keparahannya. Umumnya, pengobatan bertujuan untuk mengurangi frekuensi dan tingkat keparahan kejang.

Beberapa metode pengobatan yang sering digunakan:

 

1.      Obat-obatan Ada obat yang bekerja cepat untuk menghentikan kejang saat sedang terjadi, dan ada juga obat yang diminum rutin untuk mencegah kejang datang kembali.

2.      Obat darurat (kerja cepat) Obat seperti lorazepam dan diazepam digunakan untuk menghentikan kejang yang sedang berlangsung, terutama pada kondisi darurat seperti status epileptikus.

3.      Obat pencegah kejang Obat seperti levetiracetam, oxcarbazepine, dan etosuximide diminum secara rutin untuk mencegah kejang. Banyak orang cukup dengan satu jenis obat, tetapi ada juga yang membutuhkan kombinasi beberapa obat.

4.      Operasi epilepsy Dalam beberapa kasus, terutama jika kejang berasal dari satu area tertentu di otak dan tidak membaik dengan obat, operasi bisa menjadi pilihan.

5.      Diet ketogenic Pola makan tinggi lemak dan sangat rendah karbohidrat ini kadang digunakan, terutama pada anak-anak dengan epilepsi yang sulit dikontrol.

6.      Perubahan gaya hidup Mengatur pola tidur, menghindari stres, dan menjauhi pemicu tertentu juga bisa membantu mengurangi kejang.

 

Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Kehidupan Sehari-hari

 

·        Mengemudi Perlu diskusi dengan dokter untuk menentukan apakah aman untuk mengemudi. Jika tidak, bisa mencari alternatif transportasi.

·        Sekolah Anak dengan epilepsi mungkin membutuhkan penyesuaian, seperti waktu tambahan untuk belajar atau menyelesaikan tugas.

·        Pekerjaan Beberapa pekerjaan mungkin kurang aman, terutama yang melibatkan mengemudi, mesin berat, ketinggian, atau alat berbahaya. Penting juga untuk berdiskusi dengan tempat kerja tentang kondisi ini dan kemungkinan izin jika terjadi kejang.

 

FAQ Tambahan:

 

Apakah semua kejang berarti epilepsi?

 

Tidak.

 

Apakah kejang bisa dicegah?

 

Kejang tidak selalu bisa dicegah sepenuhnya, tetapi risikonya dapat dikurangi dengan pengobatan rutin, menghindari pemicu seperti kurang tidur atau stres, serta menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan. Pada penderita epilepsi, kepatuhan minum obat sangat penting untuk mencegah kejang berulang.

 

Apakah kejang karena demam pada anak berbahaya?

 

Kejang karena demam umumnya tidak berbahaya jika berlangsung singkat dan terjadi hanya saat demam tinggi. Kondisi ini sering dialami anak-anak dan biasanya tidak menyebabkan kerusakan otak. Namun, jika kejang berlangsung lama, berulang, atau disertai gejala lain yang mengkhawatirkan, perlu segera diperiksa oleh dokter untuk memastikan tidak ada penyebab lain yang lebih serius.

 

Kenapa penderita epilepsi harus minum obat rutin?

 

Obat epilepsi berfungsi untuk menstabilkan aktivitas listrik di otak agar tidak mudah terjadi kejang. Jika obat tidak diminum secara rutin, kadar obat dalam tubuh bisa turun sehingga risiko kejang meningkat kembali. Itulah sebabnya kepatuhan minum obat sangat penting, meskipun penderita sudah merasa sehat.

 

Apakah kurang tidur dapat memicu kejang?

 

Ya, pada sebagian penderita

 

Kenapa kejang bisa berbeda-beda pada setiap orang?

 

Kejang berbeda-beda karena bagian otak yang terganggu tidak selalu sama pada setiap orang. Selain itu, penyebab, kondisi kesehatan, dan respons tubuh terhadap gangguan listrik otak juga berbeda. Itulah sebabnya gejala kejang bisa sangat beragam, mulai dari yang ringan hingga yang berat.

 

Bisakah penderita epilepsi berolahraga?

 

Umumnya bisa dengan pengawasan yang sesuai

 

Catatan dari Keapotek: Kejang tidak selalu berarti epilepsi, karena bisa terjadi satu kali akibat berbagai penyebab seperti infeksi otak, stroke, cedera kepala, gangguan zat dalam darah, atau pengaruh obat dan Alkohol, dan epilepsi sendiri adalah kondisi kejang berulang akibat gangguan otak yang menetap. Kejang dapat berasal dari satu bagian otak (fokus) atau langsung melibatkan seluruh otak (umum), dengan gejala yang berbeda-beda seperti melamun singkat, kejang seluruh tubuh, atau gerakan mendadak pada bagian tubuh tertentu. Pada anak, kejang sering berupa kejang demam atau absence, sedangkan pada kasus tertentu kejang bisa berbahaya jika berlangsung lama atau tidak ditangani cepat karena dapat menimbulkan cedera atau kerusakan otak. Meskipun demikian, kejang dan epilepsi umumnya dapat dikendalikan dengan obat, terapi, dan perubahan gaya hidup, sehingga penderita tetap bisa menjalani kehidupan sehari-hari dengan normal jika ditangani dengan tepat.

 


 

Source:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK430765/

https://www.verywellhealth.com/seizures-7546651

Otak Manusia: Fungsi, Struktur, Gangguan & Cara Menjaga Kesehatan

 

Tonton melalui youtube

Unggah Resep

INSTAGRAM


Keranjang Anda

Keranjang anda kosong