Mohon tunggu...

IMG-LOGO
Agt 21, 2026 | 69

Terapi Oksigen

Terapi Oksigen (Oksigen Tambahan): Manfaat, Prosedur, Jenis Alat, Risiko, dan Kapan Dibutuhkan


 

Oksigen merupakan unsur penting yang dibutuhkan setiap sel tubuh untuk menghasilkan energi. Saat kadar oksigen dalam darah menurun, organ-organ vital seperti otak, jantung, Ginjal, dan paru-paru tidak dapat bekerja secara optimal. Jika kondisi ini berlangsung lama, kekurangan oksigen dapat menyebabkan kerusakan organ yang serius hingga mengancam jiwa.

Terapi oksigen atau oksigen tambahan (supplemental oxygen) adalah pemberian oksigen dengan konsentrasi lebih tinggi daripada udara yang dihirup sehari-hari untuk membantu memenuhi kebutuhan oksigen tubuh. Terapi ini sering digunakan pada pasien dengan penyakit paru, gangguan jantung, infeksi berat, atau kondisi medis lain yang menyebabkan kadar oksigen dalam darah menurun (hipoksemia). Tujuan utamanya bukan untuk mengobati penyebab penyakit, melainkan meningkatkan kadar oksigen sehingga organ tubuh dapat berfungsi dengan baik sambil pasien mendapatkan terapi sesuai penyebabnya. ()

Terapi oksigen dapat diberikan dalam jangka pendek di rumah sakit, misalnya pada pasien pneumonia atau serangan asma berat, maupun dalam jangka panjang di rumah bagi penderita penyakit paru kronis yang membutuhkan oksigen setiap hari. Jenis alat, aliran oksigen, dan lama terapi akan disesuaikan dengan kondisi medis masing-masing pasien.

 

Apa Itu Terapi Oksigen?

 

Terapi oksigen adalah tindakan medis yang memberikan oksigen tambahan kepada pasien melalui alat tertentu untuk meningkatkan kadar oksigen di dalam darah. Udara yang kita hirup sehari-hari mengandung sekitar 21% oksigen, sedangkan terapi oksigen memberikan oksigen dengan konsentrasi yang lebih tinggi sesuai kebutuhan pasien.

Pemberian oksigen dilakukan apabila tubuh tidak mampu memperoleh oksigen yang cukup secara alami akibat gangguan pada paru-paru, jantung, atau sistem peredaran darah. Sebelum terapi diberikan, dokter biasanya akan menilai kadar oksigen menggunakan pulse oximeter atau pemeriksaan analisis gas darah (arterial blood gas/ABG) untuk memastikan apakah pasien benar-benar membutuhkan oksigen tambahan.

Penting untuk dipahami bahwa terapi oksigen bukan sekadar diberikan karena seseorang merasa Sesak napas. Beberapa orang dapat mengalami sesak meskipun kadar oksigen normal, sementara pasien lain mungkin tidak merasakan keluhan meski kadar oksigennya rendah. Oleh karena itu, keputusan pemberian oksigen harus didasarkan pada hasil pemeriksaan medis, bukan hanya gejala yang dirasakan.

 

Bagaimana Terapi Oksigen Bekerja?

 

Saat seseorang menghirup oksigen tambahan, jumlah oksigen yang masuk ke alveolus (kantung udara kecil di paru-paru) meningkat. Kondisi ini memperbesar perbedaan konsentrasi oksigen antara alveolus dan pembuluh darah sehingga lebih banyak oksigen dapat berpindah ke dalam aliran darah.

Selanjutnya, oksigen akan diikat oleh hemoglobin di dalam Sel darah merah  dan diedarkan ke seluruh tubuh untuk digunakan dalam proses produksi energi. Dengan meningkatnya pasokan oksigen, kerja organ-organ penting menjadi lebih optimal sehingga gejala akibat kekurangan oksigen, seperti sesak napas, mudah lelah, atau kebingungan, dapat berkurang.

 

Kapan Terapi Oksigen Dibutuhkan?

 

Dokter akan mempertimbangkan terapi oksigen apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya hipoksemia atau kondisi lain yang menyebabkan tubuh kekurangan oksigen.

Beberapa kondisi yang sering memerlukan terapi oksigen meliputi:

 

Selain pada kondisi darurat, terapi oksigen juga dapat diberikan sebagai Long-Term Oxygen Therapy (LTOT) bagi pasien dengan penyakit paru kronis yang memiliki kadar oksigen rendah secara menetap. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan terapi oksigen jangka panjang pada pasien yang memenuhi kriteria dapat membantu meningkatkan harapan hidup dan kualitas hidup.

 

Manfaat Terapi Oksigen

 

Terapi oksigen memberikan berbagai manfaat bagi pasien yang mengalami hipoksemia. Manfaat tersebut terutama diperoleh apabila terapi diberikan sesuai indikasi medis dan dengan dosis yang tepat.

 

1.    Meningkatkan Kadar Oksigen dalam Darah

 

Manfaat utama terapi oksigen adalah meningkatkan saturasi oksigen sehingga organ-organ tubuh memperoleh pasokan oksigen yang cukup untuk menjalankan fungsinya secara normal.

 

2.    Mengurangi Gejala Akibat Kekurangan Oksigen

 

Pada pasien dengan hipoksemia, terapi oksigen dapat membantu mengurangi berbagai gejala, seperti:

 

  • sesak napas,
  • mudah lelah,
  • pusing,
  • sulit berkonsentrasi,
  • bibir atau ujung jari membiru (sianosis).

 

Perlu diketahui bahwa pada sebagian pasien, terutama dengan penyakit paru kronis, rasa sesak napas tidak selalu hilang sepenuhnya meskipun kadar oksigen telah membaik.

 

3.    Membantu Kerja Organ Vital

 

Otak, jantung, ginjal, dan organ lainnya memerlukan pasokan oksigen yang cukup agar dapat bekerja secara optimal. Dengan meningkatkan kadar oksigen dalam darah, terapi oksigen membantu mengurangi risiko kerusakan organ akibat kekurangan oksigen yang berlangsung lama.

 

4.    Meningkatkan Kemampuan Beraktivitas

 

Pada sebagian pasien dengan penyakit paru kronis, terapi oksigen dapat membantu meningkatkan toleransi terhadap aktivitas fisik. Pasien mungkin dapat berjalan lebih jauh atau melakukan aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman karena tubuh memperoleh oksigen yang lebih memadai selama bergerak.

 

5.    Meningkatkan Kualitas Hidup

 

Bagi pasien yang memerlukan terapi oksigen jangka panjang, penggunaan oksigen secara rutin dapat membantu memperbaiki kualitas tidur, mengurangi rasa lelah, serta meningkatkan kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari apabila digunakan sesuai anjuran dokter.

 

Siapa yang Membutuhkan Terapi Oksigen Jangka Panjang?

 

Tidak semua pasien dengan penyakit paru memerlukan oksigen setiap hari. Terapi oksigen jangka panjang umumnya dipertimbangkan pada pasien dengan hipoksemia kronis yang telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan medis.

Dokter dapat merekomendasikan terapi ini pada pasien yang memiliki:

 

  • PPOK stadium lanjut.
  • Fibrosis paru.
  • Penyakit paru interstisial.
  • Hipertensi pulmonal tertentu.
  • Gagal jantung dengan hipoksemia.
  • Penyakit paru kronis lain yang menyebabkan saturasi oksigen rendah saat istirahat atau saat tidur.

 

Keputusan untuk memulai terapi oksigen jangka panjang didasarkan pada hasil pemeriksaan kadar oksigen, bukan hanya berdasarkan keluhan sesak napas.

 

 

Apakah Terapi Oksigen Aman?

 

Secara umum, terapi oksigen aman apabila diberikan sesuai indikasi dan di bawah pengawasan tenaga kesehatan. Namun, oksigen tetap merupakan terapi medis yang memiliki dosis dan target tertentu. Pemberian oksigen yang terlalu sedikit dapat menyebabkan organ kekurangan oksigen, sedangkan pemberian yang berlebihan pada kondisi tertentu juga dapat meningkatkan risiko komplikasi, terutama pada sebagian pasien dengan PPOK atau penyakit paru kronis tertentu. Oleh karena itu, dokter akan menyesuaikan target saturasi oksigen sesuai kondisi masing-masing pasien.

 

Jenis-Jenis Alat Terapi Oksigen

 

1.    Kanul Hidung (Nasal Cannula)

 

Kanul hidung merupakan alat terapi oksigen yang paling sering digunakan karena sederhana, nyaman, dan memungkinkan pasien tetap berbicara maupun makan selama terapi berlangsung.

Alat ini terdiri atas dua selang kecil yang dimasukkan ke dalam lubang hidung dan dihubungkan dengan sumber oksigen.

Kanul hidung umumnya digunakan pada pasien yang masih dapat bernapas sendiri dan hanya memerlukan oksigen tambahan dalam jumlah rendah hingga sedang.

 

Kelebihan

 

  • Lebih nyaman digunakan dalam waktu lama.
  • Memudahkan pasien makan dan berbicara.
  • Cocok untuk terapi oksigen di rumah.
  • Relatif ringan dan mudah dipasang.

 

Kekurangan

 

  • Konsentrasi oksigen yang diberikan dapat berubah sesuai pola napas pasien.
  • Kurang efektif pada pasien yang bernapas melalui mulut.
  • Tidak cocok untuk pasien dengan kebutuhan oksigen yang sangat tinggi.

 

2.    Masker Oksigen Sederhana (Simple Face Mask)

 

Masker oksigen sederhana menutupi hidung dan mulut sehingga dapat memberikan konsentrasi oksigen yang lebih tinggi dibandingkan kanul hidung.

Masker ini sering digunakan pada pasien yang memerlukan oksigen dalam jumlah sedang, misalnya setelah operasi atau pada beberapa kasus pneumonia.

Namun, pasien harus melepas masker sementara saat makan atau minum sehingga penggunaannya kurang nyaman dibandingkan kanul hidung.

 

3.    Masker Venturi

 

Masker Venturi dirancang untuk memberikan konsentrasi oksigen yang lebih akurat dan konsisten.

Alat ini menggunakan adaptor dengan kode warna tertentu sehingga tenaga kesehatan dapat mengatur kadar oksigen sesuai kebutuhan pasien.

Masker Venturi banyak digunakan pada pasien dengan PPOK karena kelompok pasien ini memerlukan pengaturan kadar oksigen yang lebih hati-hati untuk menghindari retensi karbon dioksida.

 

Keunggulan Masker Venturi

 

  • Memberikan konsentrasi oksigen yang presisi.
  • Cocok untuk pasien dengan target saturasi tertentu.
  • Membantu mengurangi risiko pemberian oksigen berlebihan.

 

4.    Masker Non-Rebreathing (Non-Rebreather Mask)

 

Masker non-rebreathing dilengkapi dengan kantong reservoir yang memungkinkan pasien menghirup oksigen berkonsentrasi tinggi.

Masker ini biasanya digunakan pada kondisi gawat darurat, misalnya:

 

  • trauma berat,
  • syok,
  • sepsis,
  • pneumonia berat,
  • keracunan karbon monoksida,
  • gangguan pernapasan akut.

 

Masker non-rebreathing bukan untuk penggunaan jangka panjang dan umumnya hanya digunakan di rumah sakit atau unit gawat darurat.

 

5.    High-Flow Nasal Cannula (HFNC)

 

High-Flow Nasal Cannula merupakan teknologi yang mampu mengalirkan oksigen hangat dan dilembapkan dengan laju aliran tinggi melalui kanul hidung khusus.

Selain meningkatkan kadar oksigen, HFNC membantu mengurangi kerja otot pernapasan sehingga pasien merasa lebih nyaman dibandingkan penggunaan masker pada beberapa kondisi.

HFNC banyak digunakan pada pasien dengan:

 

  • pneumonia berat,
  • COVID-19,
  • gagal napas hipoksemik,
  • pasien pascaekstubasi.

 

Penggunaan HFNC memerlukan pemantauan ketat di rumah sakit karena pengaturan aliran dan konsentrasi oksigen harus disesuaikan secara terus-menerus.

 

6.    Konsentrator Oksigen

 

Konsentrator oksigen adalah alat yang mengambil udara dari lingkungan, kemudian menyaring nitrogen sehingga menghasilkan oksigen dengan konsentrasi lebih tinggi.

Berbeda dengan tabung oksigen, konsentrator tidak menyimpan oksigen di dalam tabung sehingga dapat digunakan terus-menerus selama tersedia sumber listrik.

Konsentrator banyak digunakan oleh pasien yang memerlukan terapi oksigen jangka panjang di rumah.

 

Kelebihan

 

  • Tidak perlu mengisi ulang tabung.
  • Lebih ekonomis untuk penggunaan jangka panjang.
  • Dapat digunakan setiap hari.

 

Kekurangan

 

  • Membutuhkan listrik.
  • Umumnya tidak mudah dibawa bepergian.
  • Memerlukan perawatan dan pembersihan rutin.

 

7.    Tabung Oksigen Portabel

 

Tabung oksigen portabel berisi oksigen bertekanan tinggi sehingga mudah dibawa saat pasien bepergian.

Jenis alat ini banyak digunakan oleh pasien yang masih aktif bekerja atau beraktivitas di luar rumah tetapi tetap memerlukan terapi oksigen.

Tabung harus diisi ulang secara berkala setelah oksigen habis.

 

Bagaimana Prosedur Terapi Oksigen Dilakukan?

 

Sebelum memberikan oksigen, tenaga kesehatan akan melakukan beberapa langkah untuk memastikan terapi diberikan secara tepat.

Secara umum prosedurnya meliputi:

 

1.    Mengukur saturasi oksigen menggunakan pulse oximeter.

2.    Menilai kondisi klinis pasien, seperti frekuensi napas, denyut jantung, dan tingkat kesadaran.

3.    Memilih alat terapi oksigen yang sesuai.

4.    Menentukan laju aliran oksigen atau target saturasi.

5.    Memasang alat oksigen pada pasien.

6.    Memantau respons pasien selama terapi.

7.    Menyesuaikan dosis oksigen bila diperlukan.

 

Pada beberapa kondisi tertentu, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan analisis gas darah arteri (arterial blood gas/ABG) untuk memperoleh informasi yang lebih akurat mengenai kadar oksigen, karbon dioksida, dan keseimbangan asam-basa tubuh.

 

Persiapan Sebelum Menjalani Terapi Oksigen

 

Pada keadaan darurat, terapi oksigen dapat diberikan segera tanpa persiapan khusus. Namun, pada penggunaan yang direncanakan, terutama terapi jangka panjang di rumah, pasien biasanya akan menjalani evaluasi terlebih dahulu.

Dokter dapat melakukan:

 

  • pemeriksaan fisik,
  • pengukuran saturasi oksigen,
  • analisis gas Darah,
  • foto toraks atau CT scan bila diperlukan,
  • evaluasi penyakit yang mendasari,
  • penentuan target saturasi oksigen.

 

Pasien juga dianjurkan memberi tahu dokter mengenai obat-obatan yang sedang digunakan serta riwayat penyakit paru, jantung, atau gangguan tidur agar terapi dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

 

Cara Menggunakan Terapi Oksigen di Rumah

 

Penggunaan oksigen di rumah harus mengikuti petunjuk dokter dan penyedia layanan kesehatan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:

 

  • gunakan oksigen sesuai laju aliran yang telah ditentukan,
  • jangan mengubah dosis tanpa berkonsultasi dengan dokter,
  • pastikan selang oksigen tidak tertekuk atau tersumbat,
  • bersihkan kanul atau masker secara berkala sesuai petunjuk,
  • periksa fungsi alat secara rutin,
  • simpan tabung oksigen pada posisi tegak dan aman.

 

Apabila menggunakan konsentrator oksigen, pastikan alat ditempatkan di ruangan dengan sirkulasi udara yang baik agar dapat bekerja secara optimal.

 

Hal yang Harus Dihindari Selama Menggunakan Oksigen

 

Meskipun oksigen tidak mudah terbakar, gas ini dapat mempercepat proses pembakaran sehingga meningkatkan risiko kebakaran apabila digunakan secara tidak benar.

Selama menjalani terapi oksigen, pasien sebaiknya:

 

  • tidak merokok,
  • menjauhkan alat dari api terbuka,
  • tidak menggunakan lilin atau kompor gas di dekat sumber oksigen,
  • menghindari penggunaan produk berbahan dasar Minyak  bumi (petroleum jelly) di sekitar hidung atau wajah, kecuali atas anjuran tenaga kesehatan,
  • memastikan instalasi listrik dalam kondisi baik apabila menggunakan konsentrator oksigen.

 

Langkah-langkah tersebut penting untuk menjaga keselamatan pasien maupun orang di sekitarnya.

 

Efek Samping Terapi Oksigen

 

Sebagian besar pasien dapat menjalani terapi oksigen tanpa mengalami masalah serius. Namun, beberapa efek samping ringan dapat muncul, terutama jika terapi digunakan dalam waktu lama atau dengan aliran oksigen yang tinggi.

Efek samping yang paling sering meliputi:

 

  • hidung terasa kering,
  • mulut kering,
  • iritasi pada hidung,
  • Mimisan ringan,
  • kulit  di sekitar telinga atau wajah mengalami iritasi akibat gesekan selang atau masker,
  • rasa tidak nyaman saat menggunakan masker dalam waktu lama.

 

Keluhan tersebut umumnya dapat dikurangi dengan penggunaan pelembap oksigen (humidifier) atau penyesuaian posisi alat oleh tenaga kesehatan.

 

Risiko Terapi Oksigen

 

Selain efek samping ringan, terdapat beberapa risiko yang perlu diperhatikan selama terapi oksigen.

 

1.    Keracunan Oksigen (Oxygen Toxicity)

 

Menghirup oksigen berkonsentrasi tinggi dalam waktu yang lama dapat menyebabkan keracunan oksigen (oxygen toxicity). Kondisi ini dapat merusak jaringan paru dan menyebabkan peradangan pada alveolus.

Risiko ini lebih sering terjadi pada pasien yang menerima oksigen berkonsentrasi tinggi dalam waktu lama, misalnya di unit perawatan intensif (ICU), dibandingkan pada pasien yang menggunakan terapi oksigen rumahan dengan dosis rendah.

 

2.    Penumpukan Karbon Dioksida (Hiperkapnia)

 

Pada sebagian pasien dengan PPOK berat atau penyakit paru kronis tertentu, pemberian oksigen yang terlalu tinggi dapat menyebabkan peningkatan kadar karbon dioksida (CO₂) di dalam darah atau hiperkapnia.

Karena itu, pasien dengan PPOK biasanya memiliki target saturasi oksigen yang lebih rendah dibandingkan pasien lain, sehingga kadar oksigen perlu dipantau secara hati-hati.

 

3.    Risiko Kebakaran

 

Oksigen bukan merupakan gas yang mudah terbakar, tetapi dapat mempercepat proses pembakaran. Oleh sebab itu, penggunaan oksigen di dekat api atau sumber panas dapat meningkatkan risiko kebakaran.

Risiko ini meningkat apabila pasien:

 

  • merokok saat menggunakan oksigen,
  • berada di dekat kompor gas,
  • menggunakan lilin,
  • menggunakan alat listrik yang rusak,
  • menyimpan tabung oksigen di tempat yang tidak sesuai.

 

Karena alasan tersebut, pasien dan keluarga perlu mendapatkan edukasi mengenai keselamatan penggunaan oksigen di rumah.

 

4.    Cedera Akibat Tekanan Tabung Oksigen

 

Tabung oksigen berisi gas bertekanan tinggi. Apabila tabung terjatuh atau mengalami kerusakan, dapat terjadi kebocoran atau kerusakan katup yang berpotensi membahayakan.

Oleh karena itu, tabung oksigen harus selalu:

 

  • disimpan dalam posisi tegak,
  • diikat dengan penyangga,
  • dijauhkan dari benturan,
  • disimpan pada tempat yang sejuk dan memiliki ventilasi baik.

 

Apakah Terapi Oksigen Memiliki Kontraindikasi?

 

Tidak ada kontraindikasi absolut terhadap terapi oksigen pada pasien yang benar-benar mengalami hipoksemia. Namun, terapi ini harus diberikan secara hati-hati pada beberapa kondisi, seperti:

 

  • PPOK dengan retensi karbon dioksida,
  • bayi prematur (karena risiko gangguan retina bila kadar oksigen terlalu tinggi),
  • pasien yang menerima obat-obatan tertentu seperti bleomycin atau pernah terpapar paraquat, yang dapat meningkatkan risiko kerusakan paru akibat konsentrasi oksigen tinggi.

Pada kondisi tersebut, dokter akan menyesuaikan target saturasi oksigen dan melakukan pemantauan yang lebih ketat.

 

Bagaimana Pemantauan Selama Terapi Oksigen?

 

Selama terapi berlangsung, tenaga kesehatan akan memantau kondisi pasien secara berkala untuk memastikan terapi tetap efektif dan aman.

Beberapa parameter yang biasanya dipantau meliputi:

 

  • saturasi oksigen menggunakan pulse oximeter,
  • frekuensi napas,
  • denyut jantung,
  • tekanan darah,
  • tingkat kesadaran,
  • warna kulit dan bibir,
  • hasil analisis gas darah bila diperlukan.

 

Apabila kadar oksigen sudah mencapai target yang diinginkan, dokter dapat menyesuaikan atau menurunkan aliran oksigen secara bertahap.

 

Kapan Terapi Oksigen Dihentikan?

 

Terapi oksigen tidak selalu digunakan seumur hidup. P

zada banyak pasien, terapi hanya diperlukan selama kondisi akut, misalnya saat pneumonia atau serangan asma berat.

Dokter dapat mempertimbangkan penghentian terapi apabila:

 

  • kadar oksigen telah kembali normal,
  • penyebab hipoksemia telah teratasi,
  • pasien mampu mempertahankan saturasi oksigen sesuai target tanpa bantuan oksigen tambahan.

 

Sebaliknya, pada pasien dengan penyakit paru kronis dan hipoksemia menetap, terapi oksigen jangka panjang mungkin tetap diperlukan untuk menjaga fungsi organ dan kualitas hidup. Keputusan menghentikan atau melanjutkan terapi harus didasarkan pada evaluasi medis, bukan atas inisiatif pasien sendiri.

 

Kapan Harus Segera Mencari Pertolongan Medis?

 

Pasien yang sedang menjalani terapi oksigen sebaiknya segera mencari pertolongan medis apabila mengalami:

  • sesak napas yang semakin berat meskipun telah menggunakan oksigen,
  • saturasi oksigen tetap rendah sesuai petunjuk dokter,
  • bibir atau ujung jari tampak kebiruan,
  • nyeri dada,
  • penurunan kesadaran,
  • kebingungan atau mengantuk berlebihan,
  • alat terapi oksigen tidak berfungsi dengan baik dan tidak tersedia cadangan.

 

Penanganan segera sangat penting untuk mencegah komplikasi akibat kekurangan oksigen yang berkepanjangan.

 

Ringkasan

Terapi oksigen merupakan tindakan medis yang memberikan oksigen tambahan kepada pasien dengan kadar oksigen darah rendah. Terapi ini bertujuan meningkatkan pasokan oksigen ke jaringan tubuh sehingga organ-organ vital dapat bekerja secara optimal.

Pemberian oksigen harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien, baik dari segi jenis alat, laju aliran, maupun target saturasi oksigen. Penggunaan yang tepat dapat membantu memperbaiki gejala, meningkatkan kualitas hidup, dan pada pasien tertentu bahkan memperpanjang harapan hidup.

Meskipun relatif aman, terapi oksigen tetap memiliki risiko, seperti iritasi saluran napas, hiperkapnia pada pasien tertentu, keracunan oksigen akibat penggunaan konsentrasi tinggi dalam waktu lama, serta risiko kebakaran bila tidak digunakan dengan benar. Oleh karena itu, terapi oksigen sebaiknya selalu dilakukan sesuai anjuran dokter dan disertai pemantauan secara berkala.

 

FAQ

 

1.    Apakah terapi oksigen hanya digunakan di rumah sakit?

 

Tidak. Terapi oksigen dapat diberikan di rumah sakit maupun di rumah. Pasien dengan penyakit paru kronis tertentu dapat menjalani terapi oksigen jangka panjang menggunakan konsentrator atau tabung oksigen portabel sesuai anjuran dokter.

 

2.    Apakah semua orang yang sesak napas membutuhkan oksigen?

 

Tidak. Sesak napas tidak selalu disebabkan oleh kadar oksigen yang rendah. Dokter akan mengukur saturasi oksigen atau melakukan pemeriksaan lain sebelum memutuskan apakah pasien memerlukan terapi oksigen.

 

3.    Apakah terapi oksigen dapat menyembuhkan penyakit paru?

 

Tidak. Terapi oksigen tidak mengobati penyebab penyakit. Fungsinya adalah meningkatkan kadar oksigen dalam darah sehingga tubuh tetap mendapatkan pasokan oksigen yang cukup selama penyakit yang mendasarinya ditangani.

 

4.    Berapa lama terapi oksigen harus digunakan?

 

Lama terapi bergantung pada penyebab dan kondisi pasien. Pada penyakit akut, terapi mungkin hanya diperlukan selama beberapa jam atau hari. Sementara itu, pasien dengan hipoksemia kronis dapat memerlukan terapi oksigen setiap hari dalam jangka panjang.

 

5.    Apakah boleh merokok saat menggunakan oksigen?

 

Tidak. Merokok saat menjalani terapi oksigen sangat berbahaya karena dapat meningkatkan risiko kebakaran dan menyebabkan cedera serius. Pasien juga dianjurkan menjauhkan sumber api, lilin, dan percikan listrik dari area penggunaan oksigen.

 

Daftar Referensi

 

1.    American Thoracic Society (ATS). Oxygen Therapy – Patient Information Series.
https://site.thoracic.org/advocacy-patients/patient-resources/oxygen-therapy (MedlinePlus)

2.    American Thoracic Society. Jacobs SS, Krishnan JA, Lederer DJ, et al. Home Oxygen Therapy for Adults with Chronic Lung Disease. An Official American Thoracic Society Clinical Practice Guideline. American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine. 2020.
https://www.atsjournals.org/doi/10.1164/rccm.202009-3608ST

3.    American Lung Association. Oxygen Therapy.
https://www.lung.org/lung-health-diseases/lung-procedures-and-tests/oxygen-therapy (MedlinePlus)

4.    MedlinePlus. Oxygen Therapy. U.S. National Library of Medicine.
https://medlineplus.gov/oxygentherapy.html (MedlinePlus)

5.    British Thoracic Society (BTS). O'Driscoll BR, Howard LS, Earis J, Mak V. BTS Guideline for Oxygen Use in Adults in Healthcare and Emergency Settings. Thorax. 2017.
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/28507176/ (PubMed)

6.    Merck Manual Professional Edition. Oxygen Therapy.
https://www.merckmanuals.com/professional/critical-care-medicine/respiratory-failure-and-mechanical-ventilation/oxygen-therapy

7.    National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI). Oxygen Therapy.
https://www.nhlbi.nih.gov/health/oxygen-therapy

8.    PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis)

9.    MedlinePlus Medical Encyclopedia. Oxygen Safety.
https://medlineplus.gov/ency/patientinstructions/000049.htm (MedlinePlus)

10.                       StatPearls Publishing. Oxygen Administration. NCBI Bookshelf.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK551617/ (PubMed)

 

 

IncredibleOffers

 

 

Keranjang Anda

Keranjang anda kosong