Mohon tunggu...

IMG-LOGO
Agt 21, 2026 | 89

Palpitasi Jantung

Palpitasi Jantung: Gejala, Penyebab, Diagnosis, Pengobatan, dan Kapan Harus ke Dokter | Keapotek


Pernahkah Anda merasakan jantung berdetak sangat cepat, berdebar keras, terasa berdebar di dada, leher, atau Tenggorokan, bahkan seperti "melompat" sesaat? Kondisi tersebut dikenal sebagai palpitasi jantung. Pada sebagian orang, palpitasi hanya berlangsung beberapa detik dan tidak berbahaya. Namun, pada kondisi tertentu, palpitasi dapat menjadi tanda adanya gangguan irama jantung (aritmia) atau penyakit lain yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Palpitasi dapat terjadi saat beristirahat maupun ketika beraktivitas. Berbagai faktor dapat memicunya, mulai dari stres, kecemasan, konsumsi kafein, kurang tidur, olahraga berat, hingga gangguan pada jantung, hormon, atau metabolisme tubuh. Sebagian besar kasus bersifat ringan, tetapi apabila disertai nyeri dada , Sesak napas, pusing  berat, atau pingsan, kondisi ini memerlukan penanganan medis segera.

 

Apa Itu Palpitasi Jantung?

 

Palpitasi jantung adalah sensasi ketika seseorang merasakan detak jantungnya lebih jelas dari biasanya.

Penderita dapat merasakan jantung:

 

  • berdetak sangat cepat,
  • berdetak lebih kuat,
  • berdebar tidak teratur,
  • terasa berdebar di dada, leher, atau tenggorokan,
  • seperti berhenti sesaat lalu berdetak lebih kuat.

 

Palpitasi sendiri bukan merupakan penyakit, melainkan gejala yang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, mulai dari yang tidak berbahaya hingga gangguan jantung yang serius.

 

Bagaimana Palpitasi Terjadi?

 

Jantung memiliki sistem kelistrikan yang mengatur irama dan kecepatan denyut jantung.

Dalam keadaan normal, impuls listrik dimulai dari nodus sinoatrial (SA node), kemudian menyebar ke seluruh otot jantung sehingga jantung berdetak secara teratur.

Palpitasi dapat terjadi apabila:

 

  • denyut jantung menjadi lebih cepat (takikardia),
  • denyut jantung menjadi lebih lambat (bradikardia),
  • muncul denyut tambahan (premature beats),
  • atau terjadi gangguan irama jantung (aritmia).

 

Selain gangguan pada sistem kelistrikan jantung, peningkatan hormon adrenalin akibat stres, olahraga, atau kecemasan juga dapat menyebabkan jantung berdetak lebih kuat sehingga terasa sebagai palpitasi.

 

Apakah Palpitasi Selalu Berbahaya?

 

Tidak.

 

Sebagian besar palpitasi tidak berbahaya dan dapat hilang dengan sendirinya, terutama apabila dipicu oleh:

 

  • stres,
  • kecemasan,
  • konsumsi kopi atau minuman berkafein,
  • olahraga,
  • kurang tidur,
  • Demam.

 

Namun, palpitasi perlu mendapat perhatian apabila:

 

  • terjadi berulang tanpa penyebab yang jelas,
  • berlangsung cukup lama,
  • disertai gejala lain seperti nyeri dada atau pingsan,
  • terjadi pada penderita penyakit jantung.

 

Pada kondisi tersebut, pemeriksaan oleh dokter diperlukan untuk memastikan penyebabnya.

 

Penyebab Palpitasi Jantung

 

Palpitasi dapat dipicu oleh berbagai kondisi yang berasal dari jantung maupun di luar jantung.

 

Penyebab yang Tidak Berkaitan dengan Penyakit jantung

 

Beberapa pemicu yang sering ditemukan antara lain:

 

  • stres emosional,
  • gangguan kecemasan,
  • serangan panik,
  • kurang tidur,
  • kelelahan,
  • olahraga berat,
  • konsumsi kopi, teh, minuman berenergi, atau kafein berlebihan,
  • merokok,
  • konsumsi Alkohol,
  • penggunaan obat-obatan tertentu,
  • penggunaan zat stimulan.

 

Pada banyak kasus, palpitasi akibat faktor-faktor tersebut akan membaik setelah pemicunya diatasi.

 

Penyakit jantung

 

Palpitasi juga dapat menjadi tanda adanya gangguan pada jantung, seperti:

 

 

Gangguan irama jantung merupakan salah satu penyebab penting yang perlu dievaluasi, terutama apabila palpitasi sering kambuh atau disertai gejala lain.

 

Gangguan Hormonal dan Metabolik

 

Beberapa penyakit di luar jantung juga dapat menyebabkan palpitasi, misalnya:

 

Mengatasi penyebab yang mendasarinya sering kali dapat mengurangi atau menghilangkan palpitasi.

 

Obat dan Suplemen

Beberapa obat dapat menyebabkan jantung berdebar sebagai efek samping, misalnya:

 

  • obat dekongestan untuk hidung tersumbat,
  • inhaler asma tertentu,
  • hormon tiroid,
  • beberapa obat penurun berat badan,
  • obat stimulan,
  • suplemen atau produk herbal yang mengandung stimulan.

 

Karena itu, selalu beri tahu dokter mengenai semua obat, vitamin, maupun suplemen yang sedang digunakan.

 

Faktor Risiko Palpitasi

 

Beberapa faktor dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami palpitasi.

Di antaranya:

 

  • stres berkepanjangan,
  • gangguan kecemasan,
  • konsumsi kafein berlebihan,
  • merokok,
  • konsumsi alkohol,
  • penggunaan narkoba,
  • penyakit jantung,
  • hipertensi,
  • hipertiroidisme,
  • anemia,
  • diabetes,
  • kehamilan,
  • riwayat keluarga dengan gangguan irama jantung.

 

Memiliki faktor risiko tidak selalu berarti seseorang akan mengalami palpitasi, tetapi peluang terjadinya kondisi ini menjadi lebih besar.

 

Siapa yang Lebih Berisiko Mengalami Palpitasi?

 

Palpitasi dapat dialami oleh siapa saja.

Namun, kondisi ini lebih sering ditemukan pada:

 

  • orang yang mengalami stres atau kecemasan,
  • penderita penyakit jantung,
  • lansia,
  • wanita hamil,
  • orang yang sering mengonsumsi kafein atau minuman berenergi,
  • penderita gangguan tiroid,
  • perokok.

 

Sebagian besar palpitasi tidak berbahaya, tetapi pada kelompok berisiko tinggi, evaluasi medis sering kali diperlukan untuk memastikan tidak terdapat gangguan irama jantung atau penyakit jantung lainnya.

 

Gejala Palpitasi Jantung, Diagnosis, dan Pemeriksaan

 

Palpitasi jantung dapat dirasakan secara berbeda pada setiap orang. Ada yang hanya mengalami sensasi jantung berdebar selama beberapa detik, sementara yang lain merasakannya selama beberapa menit hingga berulang kali dalam sehari. Palpitasi dapat muncul saat beristirahat, beraktivitas, setelah berolahraga, atau ketika mengalami stres emosional. Meskipun sebagian besar tidak berbahaya, palpitasi yang disertai gejala tertentu dapat menandakan adanya gangguan irama jantung atau penyakit jantung yang memerlukan penanganan segera.

 

Gejala Palpitasi Jantung

 

Gejala utama palpitasi adalah sensasi detak jantung yang terasa lebih jelas dari biasanya.

Penderita dapat merasakan:

 

  • jantung berdetak sangat cepat,
  • jantung berdetak lebih keras,
  • detak jantung tidak teratur,
  • jantung terasa "meloncat" atau "berhenti sesaat" kemudian berdetak kuat,
  • sensasi berdebar di dada, leher, atau tenggorokan.
  •  

Gejala dapat berlangsung hanya beberapa detik atau bertahan lebih lama, tergantung penyebabnya.

 

Gejala Penyerta

Selain sensasi jantung berdebar, sebagian penderita juga dapat mengalami:

 

  • pusing,
  • kepala terasa ringan,
  • mudah lelah,
  • sesak napas,
  • berkeringat,
  • rasa cemas,
  • dada terasa tidak nyaman,
  • sulit berkonsentrasi.
  •  

Apabila palpitasi disebabkan oleh stres atau kecemasan, gejala psikologis seperti rasa takut atau panik juga dapat muncul.

 

 

Kapan Palpitasi Biasanya Terjadi?

 

Palpitasi dapat muncul pada berbagai situasi, misalnya:

 

  • setelah mengonsumsi kopi atau minuman berenergi,
  • saat mengalami stres emosional,
  • ketika merasa cemas,
  • setelah olahraga berat,
  • saat kurang tidur,
  • ketika demam,
  • selama kehamilan,
  • setelah mengonsumsi obat tertentu.

 

Sebagian orang juga mengalami palpitasi saat sedang berbaring atau menjelang tidur karena detak jantung menjadi lebih mudah dirasakan dalam posisi tersebut.

 

Tanda Bahaya yang Memerlukan Penanganan Darurat

 

Segera cari pertolongan medis apabila palpitasi disertai:

 

  • nyeri dada,
  • sesak napas berat,
  • pingsan atau kehilangan kesadaran,
  • pusing berat,
  • kelemahan mendadak,
  • bibir atau ujung jari membiru,
  • detak jantung sangat cepat yang tidak kunjung membaik.
  •  

Gejala-gejala tersebut dapat mengindikasikan gangguan irama jantung yang serius atau kondisi medis lain seperti serangan jantung.

 

Bagaimana Dokter Menegakkan Diagnosis?

 

Diagnosis palpitasi dimulai dengan wawancara medis dan pemeriksaan fisik.

Dokter akan menanyakan:

 

  • kapan palpitasi mulai terjadi,
  • berapa lama setiap episode berlangsung,
  • seberapa sering gejala muncul,
  • apakah palpitasi muncul saat beristirahat atau beraktivitas,
  • apakah ada pemicu tertentu,
  • apakah disertai nyeri dada, sesak napas, atau pingsan,
  • riwayat penyakit jantung,
  • riwayat keluarga dengan gangguan irama jantung,
  • obat, suplemen, atau minuman berkafein yang dikonsumsi.

 

Informasi tersebut membantu dokter memperkirakan penyebab palpitasi dan menentukan pemeriksaan lanjutan yang diperlukan.

 

Pemeriksaan Fisik

 

Selama pemeriksaan fisik, dokter akan mengevaluasi:

 

  • denyut nadi,
  • tekanan darah,
  • irama jantung,
  • bunyi jantung,
  • tanda-tanda gagal jantung,
  • pembesaran kelenjar tiroid,
  • tanda anemia,
  • kondisi umum pasien.

 

Pemeriksaan ini membantu mengidentifikasi kemungkinan penyebab yang mendasari.

 

Pemeriksaan Penunjang

Elektrokardiogram (EKG)

 

EKG merupakan pemeriksaan pertama yang paling sering dilakukan pada pasien dengan palpitasi.

Pemeriksaan ini merekam aktivitas listrik jantung sehingga dapat mendeteksi:

 

  • aritmia,
  • denyut jantung terlalu cepat,
  • denyut jantung terlalu lambat,
  • tanda penyakit jantung tertentu.

 

Namun, apabila palpitasi tidak terjadi saat pemeriksaan dilakukan, hasil EKG dapat tampak normal.

 

Holter Monitor

 

Holter monitor adalah alat EKG portabel yang digunakan selama 24–48 jam atau lebih untuk merekam aktivitas listrik jantung selama pasien menjalani aktivitas sehari-hari.

Pemeriksaan ini membantu mendeteksi gangguan irama jantung yang muncul sesekali dan tidak tertangkap pada EKG biasa.

 

Event Recorder atau Monitor Jantung Portabel

 

Apabila palpitasi jarang terjadi, dokter dapat menyarankan penggunaan event recorder atau alat pemantau irama jantung yang digunakan selama beberapa minggu.

Alat ini merekam irama jantung ketika gejala muncul sehingga memudahkan dokter menentukan penyebabnya.

 

Ekokardiografi

 

Ekokardiografi menggunakan gelombang Ultrasonografi untuk melihat struktur dan fungsi jantung.

Pemeriksaan ini dapat membantu mendeteksi:

 

  • kelainan katup jantung,
  • gangguan fungsi pompa jantung,
  • pembesaran ruang jantung,
  • penyakit jantung bawaan.

 

Tes Darah

 

Dokter juga dapat menyarankan pemeriksaan Darah  untuk mencari penyebab palpitasi, seperti:

 

  • anemia,
  • gangguan fungsi tiroid,
  • gangguan elektrolit,
  • infeksi,
  • kadar gula darah yang terlalu rendah.

 

Pemeriksaan dilakukan sesuai dengan dugaan penyebab berdasarkan gejala dan riwayat pasien.

 

Kondisi yang Memiliki Gejala Mirip Palpitasi

 

Tidak semua sensasi berdebar di dada disebabkan oleh gangguan irama jantung.

Beberapa kondisi lain yang dapat menimbulkan gejala serupa antara lain:

 

  • gangguan kecemasan,
  • serangan panik,
  • hipertiroidisme,
  • anemia,
  • hipoglikemia,
  • efek samping obat,
  • penyakit katup jantung,
  • penyakit jantung koroner.

 

Karena penyebabnya sangat beragam, pemeriksaan medis diperlukan untuk menentukan diagnosis yang tepat.

 

Apakah Semua Palpitasi Memerlukan Pemeriksaan?

 

Tidak selalu.

Palpitasi yang hanya sesekali muncul, berlangsung singkat, dan tidak disertai gejala lain umumnya tidak berbahaya.

Namun, pemeriksaan oleh dokter sangat dianjurkan apabila:

 

  • palpitasi sering kambuh,
  • berlangsung lama,
  • semakin berat,
  • disertai nyeri dada, sesak napas, atau pingsan,
  • terjadi pada penderita penyakit jantung.

 

Evaluasi sejak dini membantu memastikan apakah palpitasi merupakan kondisi ringan atau memerlukan penanganan khusus.

 

Pengobatan Palpitasi Jantung, Pencegahan, dan Kapan Harus ke Dokter

 

Pengobatan palpitasi jantung bergantung pada penyebab yang mendasarinya. Sebagian besar palpitasi tidak memerlukan terapi khusus dan dapat membaik setelah faktor pemicunya diatasi. Namun, apabila palpitasi disebabkan oleh gangguan irama jantung atau penyakit tertentu, dokter akan memberikan penanganan sesuai dengan diagnosis. Tujuan pengobatan adalah mengurangi gejala, mengatasi penyebab, mencegah komplikasi, serta menjaga fungsi jantung tetap optimal.

 

Pengobatan Palpitasi Jantung

 

Penanganan palpitasi sangat bergantung pada hasil pemeriksaan dokter.

 

1.    Mengatasi Penyebab yang Mendasari

 

Apabila palpitasi disebabkan oleh kondisi tertentu, maka terapi akan difokuskan pada penyebab tersebut.

Sebagai contoh:

 

  • hipertiroidisme diobati dengan terapi untuk gangguan tiroid,
  • anemia ditangani sesuai penyebabnya,
  • gangguan elektrolit diperbaiki,
  • dehidrasi diatasi dengan pemberian cairan,
  • gangguan kecemasan ditangani melalui psikoterapi, teknik relaksasi, atau obat bila diperlukan.

 

Mengatasi penyebab utama sering kali membuat palpitasi berkurang atau menghilang.

 

2.    Perubahan Gaya Hidup

 

Pada banyak orang, perubahan gaya hidup sudah cukup untuk mengurangi frekuensi palpitasi.

Beberapa langkah yang dianjurkan meliputi:

 

  • mengurangi konsumsi kopi, teh, minuman berenergi, dan sumber kafein lainnya,
  • berhenti merokok,
  • membatasi konsumsi alkohol,
  • menghindari penggunaan narkoba atau zat stimulan,
  • tidur yang cukup,
  • mengelola stres,
  • berolahraga secara teratur sesuai kemampuan.

 

Perubahan gaya hidup merupakan bagian penting dalam pencegahan kekambuhan palpitasi.

 

3.    Obat-Obatan

 

Apabila palpitasi disebabkan oleh gangguan irama jantung, dokter dapat meresepkan obat sesuai penyebabnya.

Beberapa kelompok obat yang mungkin digunakan antara lain:

 

  • beta blocker,
  • calcium channel blocker,
  • obat antiaritmia,
  • obat pengencer darah (antikoagulan) pada kondisi tertentu, misalnya fibrilasi atrium untuk membantu menurunkan risiko stroke.

 

Pemilihan obat disesuaikan dengan jenis aritmia, kondisi kesehatan pasien, serta risiko efek samping.

 

4.    Ablasi Kateter

 

Pada beberapa jenis gangguan irama jantung yang berulang atau sulit dikendalikan dengan obat, dokter dapat menyarankan ablasi kateter.

Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan kateter melalui pembuluh darah menuju jantung untuk menghancurkan area kecil jaringan yang menyebabkan gangguan sinyal listrik.

Ablasi kateter dapat menjadi pilihan terapi jangka panjang pada beberapa jenis aritmia.

 

5.    Pemasangan Alat Pacu Jantung atau ICD

 

Pada sebagian kecil pasien dengan gangguan irama jantung tertentu, dokter dapat mempertimbangkan pemasangan alat seperti:

 

  • alat pacu jantung (pacemaker), untuk mengatasi denyut jantung yang terlalu lambat,
  • implantable cardioverter-defibrillator (ICD), untuk mencegah kematian mendadak akibat aritmia yang mengancam jiwa.

 

Tindakan ini hanya dilakukan pada pasien dengan indikasi medis tertentu.

 

Cara Mencegah Palpitasi

 

Tidak semua palpitasi dapat dicegah. Namun, beberapa langkah berikut dapat membantu menurunkan risikonya.

 

Batasi Konsumsi Kafein

 

Pada sebagian orang, kopi, teh, minuman berenergi, atau suplemen berkafein dapat memicu jantung berdebar.

Apabila Anda menyadari hubungan tersebut, kurangi atau hindari konsumsi kafein sesuai toleransi tubuh.

 

Kelola Stres

 

Stres dan kecemasan merupakan pemicu palpitasi yang cukup sering.

Beberapa cara mengurangi stres antara lain:

 

  • latihan pernapasan,
  • meditasi,
  • yoga,
  • olahraga ringan,
  • tidur yang cukup,
  • melakukan aktivitas yang menyenangkan.

 

Tidur yang Cukup

 

Kurang tidur dapat meningkatkan aktivitas hormon stres sehingga memicu palpitasi pada sebagian orang.

Usahakan tidur sekitar 7–9 jam setiap malam bagi sebagian besar orang dewasa.

 

Jalani Gaya Hidup Sehat

 

Menjaga kesehatan jantung juga membantu mengurangi risiko palpitasi.

Langkah yang dianjurkan meliputi:

 

  • makan makanan bergizi seimbang,
  • menjaga berat badan ideal,
  • berolahraga secara teratur,
  • mengontrol tekanan darah,
  • mengontrol kadar gula darah,
  • mengelola kadar kolesterol.

 

Komplikasi Palpitasi

 

Sebagian besar palpitasi tidak menyebabkan komplikasi.

Namun, apabila disebabkan oleh gangguan irama jantung yang serius, komplikasi yang mungkin terjadi meliputi:

 

  • stroke (terutama pada fibrilasi atrium),
  • gagal jantung,
  • penurunan tekanan darah,
  • pingsan,
  • henti jantung mendadak pada aritmia tertentu.

 

Risiko komplikasi bergantung pada penyebab yang mendasari serta kecepatan penanganannya.

 

Kapan Harus ke Dokter?

 

Segera jadwalkan pemeriksaan ke dokter apabila:

 

  • palpitasi sering kambuh,
  • berlangsung lebih lama dari biasanya,
  • semakin berat,
  • muncul tanpa penyebab yang jelas,
  • disertai sesak napas ringan, mudah lelah, atau pusing,
  • memiliki riwayat penyakit jantung,
  • memiliki riwayat keluarga dengan gangguan irama jantung atau kematian jantung mendadak.

 

Pemeriksaan sejak dini membantu mengetahui apakah palpitasi disebabkan oleh kondisi yang ringan atau memerlukan terapi khusus.

 

Kapan Harus ke IGD?

 

Segera cari pertolongan medis darurat apabila palpitasi disertai:

 

  • nyeri dada yang hebat,
  • sesak napas berat,
  • pingsan,
  • penurunan kesadaran,
  • detak jantung sangat cepat atau tidak teratur yang tidak kunjung membaik,
  • kelemahan mendadak pada salah satu sisi tubuh,
  • sulit berbicara,
  • kejang.

 

Gejala-gejala tersebut dapat menandakan keadaan darurat, seperti serangan jantung, stroke, atau gangguan irama jantung yang mengancam jiwa.

 

Ringkasan

 

Palpitasi jantung adalah sensasi ketika detak jantung terasa lebih cepat, lebih kuat, tidak teratur, atau seperti melompat. Kondisi ini merupakan gejala, bukan penyakit, dan dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari stres, konsumsi kafein, kurang tidur, hingga gangguan irama jantung atau penyakit lain.

Diagnosis dilakukan melalui wawancara medis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang seperti EKG, Holter monitor, ekokardiografi, dan tes darah sesuai kebutuhan. Penanganan bergantung pada penyebabnya, mulai dari perubahan gaya hidup, pengobatan, hingga prosedur seperti ablasi kateter pada kasus tertentu.

Sebagian besar palpitasi bersifat ringan dan tidak berbahaya. Namun, apabila disertai nyeri dada, sesak napas, pingsan, atau terjadi pada penderita penyakit jantung, segera cari pertolongan medis untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.

 

FAQ

 

1.    Apakah palpitasi jantung selalu berbahaya?

 

Tidak. Sebagian besar palpitasi bersifat ringan dan dipicu oleh stres, kafein, olahraga, atau kurang tidur. Namun, palpitasi yang sering terjadi atau disertai gejala lain seperti nyeri dada, sesak napas, atau pingsan perlu diperiksa oleh dokter.

 

2.    Apakah kopi dapat menyebabkan palpitasi?

 

Ya, pada sebagian orang, kafein dalam kopi, teh, minuman berenergi, atau suplemen tertentu dapat memicu jantung berdebar, terutama bila dikonsumsi dalam jumlah banyak.

 

3.    Apakah stres bisa menyebabkan jantung berdebar?

 

Ya. Saat stres atau cemas, tubuh melepaskan hormon adrenalin yang dapat meningkatkan denyut dan kekuatan kontraksi jantung sehingga menimbulkan sensasi palpitasi.

 

4.    Apakah olahraga aman bagi penderita palpitasi?

 

Tergantung penyebabnya. Bila palpitasi disebabkan oleh kondisi yang tidak berbahaya, olahraga umumnya tetap dapat dilakukan sesuai anjuran dokter. Namun, bila palpitasi berkaitan dengan gangguan irama jantung tertentu, dokter akan menentukan jenis dan intensitas olahraga yang paling aman.

 

5.    Bisakah palpitasi sembuh sendiri?

 

Ya. Palpitasi yang dipicu oleh faktor sementara, seperti stres, kurang tidur, atau konsumsi kafein, sering kali membaik setelah pemicunya diatasi. Namun, bila palpitasi terus berulang atau disebabkan oleh penyakit jantung, diperlukan evaluasi dan pengobatan sesuai penyebabnya.

 

Daftar Referensi

 

1.https://www.nhlbi.nih.gov/health/heart-palpitationsMayo ClinicNational Heart, Lung, and Blood Institute. Heart Palpitations.

2.https://www.heart.org/en/health-topics/arrhythmiawww.heart.orgAmerican Heart Association. Arrhythmia.

3.    Cleveland Clinic. Heart Palpitations: Symptoms, Causes & Treatment.
https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17084-heart-palpitations (Cleveland Clinic)

4.    https://keapotek.com/Article/Detail/10055/penyakit-jantung

5.    MedlinePlus. Heart Palpitations. U.S. National Library of Medicine.
https://medlineplus.gov/ency/article/003081.htm (MedlinePlus)

6.    Merck Manual Consumer Version. Palpitations.
https://www.merckmanuals.com/home/heart-and-blood-vessel-disorders/symptoms-of-heart-and-blood-vessel-disorders/palpitations

7.https://www.hrsonline.org/patient-resourcesHeart Rhythm Society. Patient Resources: Heart Rhythm Disorders.

8.https://www.cardiosmart.org/topics/heart-rhythm-problemsAmerican College of Cardiology. CardioSmart – Heart Rhythm Problems.

9.    National Health Service (NHS). Heart Palpitations.
https://www.nhs.uk/conditions/heart-palpitations/

10.American Academy of Family Physicians (AAFP). Palpitations: Evaluation in the Primary Care Setting.
https://www.aafp.org/pubs/afp/issues/2017/1215/p784.html

 



 

Keranjang Anda

Keranjang anda kosong