Mohon tunggu...
Asthenia: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Kapan Harus ke Dokter | Keapotek
Merasa lelah setelah beraktivitas merupakan hal yang normal. Namun, jika tubuh terasa sangat lemah meskipun sudah cukup beristirahat atau bahkan kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut tidak boleh diabaikan. Salah satu penyebab yang mungkin mendasarinya adalah asthenia, yaitu kondisi yang ditandai dengan rasa lemah atau berkurangnya kekuatan fisik maupun mental.
Asthenia bukanlah suatu penyakit, melainkan gejala yang dapat muncul akibat berbagai kondisi medis, mulai dari infeksi ringan hingga penyakit kronis, gangguan hormonal, Penyakit autoimun, gangguan saraf, maupun masalah kesehatan mental . Karena penyebabnya sangat beragam, penanganan asthenia berfokus pada mencari dan mengatasi penyakit yang mendasarinya.
Pada sebagian orang, asthenia hanya berlangsung sementara, misalnya setelah mengalami infeksi virus atau kurang tidur. Namun, pada kasus lain, kelemahan dapat menetap selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan sehingga memerlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter. Mengenali penyebabnya sejak dini penting agar pengobatan yang diberikan sesuai dan komplikasi dapat dicegah.
Apa Itu Asthenia?
Asthenia adalah istilah medis yang menggambarkan kelemahan atau berkurangnya tenaga sehingga seseorang merasa kesulitan melakukan aktivitas yang sebelumnya dapat dilakukan dengan mudah. Kelemahan ini dapat mengenai seluruh tubuh (generalized asthenia) atau hanya bagian tubuh tertentu (localized asthenia).
Pada generalized asthenia, penderita biasanya merasa seluruh tubuh tidak bertenaga, cepat lelah, dan membutuhkan usaha lebih besar untuk melakukan aktivitas sehari-hari, seperti berjalan, naik tangga, atau mengangkat barang. Sementara itu, localized asthenia menyebabkan kelemahan pada kelompok otot tertentu, misalnya hanya pada lengan atau tungkai, yang sering berkaitan dengan gangguan saraf atau otot.
Perlu dipahami bahwa asthenia berbeda dengan rasa lelah biasa. kelelahan normal umumnya membaik setelah beristirahat atau tidur yang cukup. Sebaliknya, pada asthenia, rasa lemah dapat tetap dirasakan meskipun seseorang telah beristirahat dengan baik karena penyebab utamanya sering kali merupakan kondisi medis tertentu.
Perbedaan Asthenia dengan Kelelahan Biasa
Banyak orang menganggap asthenia sama dengan kelelahan (fatigue), padahal keduanya memiliki arti yang berbeda.
Fatigue merupakan rasa lelah yang menyebabkan seseorang ingin beristirahat atau tidur, tetapi kekuatan otot sebenarnya masih normal. Sebaliknya, asthenia lebih mengarah pada berkurangnya kemampuan otot atau tubuh untuk menghasilkan tenaga sehingga aktivitas terasa jauh lebih berat dilakukan.
Perbedaan ini penting karena dapat membantu dokter memperkirakan penyebab yang mendasarinya. Pada beberapa kondisi, seseorang dapat mengalami fatigue tanpa asthenia, asthenia tanpa fatigue, atau keduanya sekaligus.
|
Asthenia |
Fatigue |
|
Tubuh terasa lemah atau kehilangan tenaga |
Tubuh terasa lelah dan ingin beristirahat |
|
Aktivitas fisik menjadi lebih sulit dilakukan |
Kekuatan otot umumnya masih normal |
|
Istirahat tidak selalu memperbaiki kondisi |
Biasanya membaik setelah tidur atau istirahat |
|
Sering berkaitan dengan penyakit tertentu |
Dapat terjadi akibat aktivitas berat atau kurang tidur |
Jenis Asthenia
Berdasarkan penyebab dan lokasi kelemahan, asthenia dapat dibedakan menjadi beberapa jenis.
1. Generalized Asthenia
2.
Generalized asthenia adalah kelemahan yang dirasakan hampir di seluruh tubuh. Jenis ini paling sering ditemukan dan biasanya berkaitan dengan penyakit sistemik, seperti infeksi, anemia, Penyakit Ginjal , gangguan hormon, kanker, atau penyakit kronis lainnya.
3. Localized Asthenia
Localized asthenia hanya memengaruhi kelompok otot tertentu, misalnya salah satu lengan atau tungkai.
Penyebabnya sering berkaitan dengan:
Kelemahan jenis ini biasanya membutuhkan evaluasi neurologis yang lebih mendalam.
Penyebab Asthenia
Asthenia bukan merupakan diagnosis akhir, melainkan gejala yang dapat disebabkan oleh berbagai penyakit. Oleh karena itu, dokter perlu mencari penyebab yang mendasarinya sebelum menentukan pengobatan.
Beberapa penyebab yang paling sering meliputi:
1. Infeksi
Berbagai infeksi dapat menyebabkan tubuh terasa sangat lemah, baik infeksi virus, bakteri, maupun parasit.
Contohnya:
Pada beberapa orang, rasa lemah bahkan dapat bertahan selama beberapa minggu setelah infeksi sembuh, terutama setelah COVID-19 atau infeksi virus tertentu.)
2. Anemia
Anemia menyebabkan jumlah Sel darah merah atau HEMOGLOBIN berkurang sehingga pasokan oksigen ke jaringan tubuh menurun.
Akibatnya, penderita dapat mengalami:
Anemia merupakan salah satu penyebab asthenia yang cukup sering ditemukan, terutama pada wanita usia reproduktif dan lansia.
3. Gangguan Hormon
Beberapa gangguan hormon juga dapat menyebabkan kelemahan yang menetap, misalnya:
Gangguan hormonal dapat memengaruhi metabolisme tubuh sehingga produksi energi menurun dan menyebabkan tubuh terasa lemah.
3. Penyakit jantung dan Paru
Jantung dan paru-paru berperan penting dalam menyalurkan oksigen ke seluruh tubuh.
Apabila fungsi kedua organ ini terganggu, tubuh akan lebih mudah mengalami kelelahan dan kelemahan.
Beberapa contohnya meliputi:
4. Gangguan Saraf dan Otot
Penyakit yang memengaruhi otak, saraf, atau otot dapat menyebabkan kelemahan yang nyata.
Misalnya:
Pada kondisi ini, kelemahan sering kali disertai gejala neurologis lain, seperti kesemutan, mati rasa, gangguan keseimbangan, atau kesulitan berbicara.
6. Gangguan Kesehatan Mental
Stres berkepanjangan, depresi, dan Ganggua kecemasan juga dapat menyebabkan tubuh terasa lemah serta kehilangan energi.
Meskipun penyebab utamanya bukan gangguan pada otot, perubahan aktivitas otak, hormon stres, kualitas tidur, dan nafsu makan dapat memengaruhi kemampuan tubuh dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Gejala Asthenia
Gejala utama asthenia adalah tubuh terasa lemah atau kehilangan tenaga sehingga aktivitas yang sebelumnya mudah dilakukan menjadi terasa lebih berat. Tingkat keparahan gejala dapat berbeda pada setiap orang, mulai dari kelemahan ringan hingga kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
Beberapa gejala yang sering menyertai asthenia meliputi:
Apabila asthenia disebabkan oleh penyakit tertentu, gejala lain juga dapat muncul sesuai penyebabnya, misalnya Demam pada infeksi, Sesak napas pada penyakit paru, atau Penurunan berat badan pada penyakit kronis.
Gejala Berdasarkan Penyebabnya
Karena penyebab asthenia sangat beragam, tanda dan gejala yang muncul juga dapat berbeda.
Asthenia akibat infeksi
Selain tubuh lemah, penderita dapat mengalami:
Kelemahan biasanya membaik secara bertahap setelah infeksi teratasi, meskipun pada beberapa infeksi virus dapat bertahan lebih lama.
Asthenia akibat anemia
Gejala yang sering menyertai meliputi:
Gejala tersebut muncul karena jaringan tubuh tidak mendapatkan pasokan oksigen yang cukup.
Asthenia akibat gangguan saraf
Pada penyakit saraf, kelemahan sering disertai:
Kondisi seperti ini memerlukan pemeriksaan medis segera, terutama bila muncul secara mendadak karena dapat menandakan stroke.
Asthenia akibat gangguan hormon
Gangguan hormon dapat menimbulkan gejala tambahan berupa:
Gejala yang muncul bergantung pada hormon yang mengalami gangguan.
Faktor Risiko Asthenia
Siapa pun dapat mengalami asthenia, tetapi beberapa kondisi dapat meningkatkan risikonya.
Faktor-faktor tersebut antara lain:
Bagaimana Dokter Menegakkan Diagnosis?
Karena asthenia bukan merupakan penyakit melainkan gejala, dokter akan berusaha mencari penyebab yang mendasarinya. Proses diagnosis biasanya dimulai dengan wawancara medis mengenai keluhan yang dialami pasien.
Dokter mungkin akan menanyakan beberapa hal berikut:
Informasi tersebut membantu dokter memperkirakan apakah kelemahan lebih mungkin disebabkan oleh gangguan otot, saraf, hormon, jantung, paru, atau penyebab lainnya.
Pemeriksaan Fisik
Setelah wawancara medis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh.
Pemeriksaan dapat meliputi:
Pemeriksaan ini membantu menentukan lokasi gangguan sekaligus memilih pemeriksaan penunjang yang diperlukan.
Pemeriksaan Penunjang
Tidak semua pasien memerlukan pemeriksaan tambahan. Jenis pemeriksaan akan disesuaikan dengan dugaan penyebab asthenia.
Beberapa pemeriksaan yang mungkin dilakukan antara lain:
Pemeriksaan darah
Tes darah dapat membantu mendeteksi:
Pemeriksaan pencitraan
Apabila dicurigai terdapat gangguan pada otak, tulang belakang, atau organ tertentu, dokter dapat menyarankan pemeriksaan seperti:
Jenis pemeriksaan akan disesuaikan dengan gejala yang dialami pasien.
Pemeriksaan saraf dan otot
Pada beberapa kasus, dokter dapat melakukan:
Pemeriksaan tersebut membantu mengevaluasi gangguan pada saraf perifer maupun otot.
Kondisi yang Memiliki Gejala Mirip Asthenia
Beberapa kondisi lain dapat menimbulkan keluhan yang menyerupai asthenia sehingga perlu dibedakan melalui pemeriksaan medis.
Di antaranya:
Karena gejalanya saling tumpang tindih, diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan rasa lemah yang dirasakan pasien.
Kapan Asthenia Menjadi Tanda Bahaya?
Asthenia memerlukan penanganan medis segera apabila disertai salah satu dari gejala berikut:
Gejala-gejala tersebut dapat mengindikasikan kondisi serius seperti stroke, infeksi berat, gangguan jantung , atau penyakit neurologis yang memerlukan penanganan segera.
Pengobatan, Perawatan di Rumah, Pencegahan, dan Kapan Harus ke Dokter
Pengobatan asthenia bergantung sepenuhnya pada penyebab yang mendasarinya. Karena asthenia merupakan gejala, bukan penyakit, tidak ada satu jenis obat yang dapat mengatasi semua kasus. Setelah penyebab diketahui, dokter akan menyusun rencana pengobatan yang sesuai agar kelemahan tubuh dapat berangsur membaik. Pada sebagian pasien, perbaikan dapat terjadi dalam beberapa hari, sedangkan pada penyakit kronis atau gangguan neurologis, proses pemulihan mungkin memerlukan waktu lebih lama.
Pengobatan Asthenia
Pendekatan pengobatan akan disesuaikan dengan kondisi yang menyebabkan asthenia.
1. Mengatasi Penyakit yang Mendasari
Langkah utama dalam menangani asthenia adalah mengobati penyebabnya.
Sebagai contoh:
Ketika penyakit yang mendasari berhasil dikendalikan, keluhan asthenia umumnya akan berangsur membaik.
2. Mengoptimalkan Asupan Nutrisi
Kekurangan kalori, protein, vitamin, maupun mineral dapat menyebabkan tubuh kehilangan energi dan kekuatan.
Bila ditemukan kekurangan nutrisi, dokter dapat menyarankan:
Namun, suplemen sebaiknya tidak dikonsumsi secara rutin tanpa adanya indikasi medis atau hasil pemeriksaan yang menunjukkan adanya kekurangan nutrisi.
3. Fisioterapi dan Rehabilitasi
Pada pasien dengan penyakit saraf, stroke, cedera otot, atau kelemahan akibat tirah baring dalam waktu lama, fisioterapi dapat membantu meningkatkan kekuatan otot, keseimbangan, koordinasi, serta kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari.
Program latihan akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien agar pemulihan berlangsung secara aman dan bertahap.
4. Penyesuaian Obat
Beberapa jenis obat dapat menyebabkan kelemahan sebagai efek samping, misalnya:
Apabila dokter menduga obat menjadi penyebab asthenia, dosis dapat disesuaikan atau diganti dengan obat lain yang lebih sesuai.
Jangan menghentikan obat sendiri tanpa berkonsultasi dengan dokter.
Perawatan di Rumah
Selain pengobatan medis, beberapa langkah sederhana dapat membantu mempercepat pemulihan dan mengurangi keluhan asthenia.
Istirahat yang Cukup
Tidur selama 7–9 jam setiap malam membantu tubuh memperbaiki jaringan dan memulihkan energi.
Apabila mengalami gangguan tidur, konsultasikan dengan dokter agar penyebabnya dapat diatasi.
Tetap Aktif Sesuai Kemampuan
Meskipun tubuh terasa lemah, aktivitas fisik ringan secara bertahap justru dapat membantu mempertahankan kekuatan otot.
Aktivitas dapat dimulai dari:
Hindari memaksakan diri apabila aktivitas justru memperburuk gejala.
Mengonsumsi Makanan Bergizi Seimbang
Pola makan yang sehat membantu memenuhi kebutuhan energi dan nutrisi tubuh.
Usahakan mengonsumsi:
Apabila nafsu makan menurun akibat penyakit tertentu, konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi.
Mengelola Stres
Stres berkepanjangan dapat memperburuk rasa lemah dan kelelahan.
Beberapa cara yang dapat membantu meliputi:
Apakah Asthenia Dapat Dicegah?
Tidak semua kasus asthenia dapat dicegah karena sebagian berkaitan dengan penyakit tertentu. Namun, risiko terjadinya kelemahan tubuh dapat dikurangi dengan menerapkan gaya hidup sehat.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
Langkah-langkah tersebut juga membantu menurunkan risiko berbagai penyakit yang dapat menyebabkan asthenia.
Komplikasi Asthenia
Asthenia yang tidak ditangani dapat memengaruhi kualitas hidup dan meningkatkan risiko komplikasi, terutama bila penyebab utamanya merupakan penyakit serius.
Komplikasi yang mungkin terjadi meliputi:
Komplikasi tersebut dapat diminimalkan apabila penyebab asthenia dikenali dan ditangani sejak dini.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera berkonsultasi dengan dokter apabila kelemahan tubuh:
Segera cari pertolongan medis darurat apabila asthenia disertai:
Gejala-gejala tersebut dapat menandakan kondisi yang mengancam jiwa, seperti stroke, serangan jantung, infeksi berat, atau gangguan neurologis akut.
Ringkasan
Asthenia adalah gejala berupa kelemahan tubuh yang dapat memengaruhi seluruh tubuh atau hanya bagian tertentu. Berbeda dengan kelelahan biasa, asthenia sering kali tidak membaik hanya dengan beristirahat dan dapat menjadi tanda adanya penyakit yang mendasarinya.
Penyebab asthenia sangat beragam, mulai dari infeksi, anemia, gangguan hormon, penyakit jantung, penyakit paru, gangguan saraf, hingga masalah kesehatan mental. Oleh karena itu, pengobatan difokuskan pada mengatasi penyebab utama, disertai perbaikan pola hidup, pemenuhan nutrisi, dan rehabilitasi bila diperlukan.
Apabila kelemahan berlangsung lama, semakin berat, atau disertai gejala seperti sesak napas, nyeri dada, atau kelemahan mendadak pada salah satu sisi tubuh, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
FAQ
1. Apakah asthenia sama dengan kelelahan?
Tidak. Asthenia adalah kelemahan tubuh atau berkurangnya kekuatan fisik, sedangkan kelelahan (fatigue ) lebih menggambarkan rasa letih atau keinginan untuk beristirahat. Keduanya dapat terjadi bersamaan, tetapi merupakan kondisi yang berbeda.
2. Apakah asthenia bisa sembuh?
Ya. Asthenia dapat membaik apabila penyebab yang mendasarinya berhasil diobati. Lama pemulihan bergantung pada jenis penyakit, tingkat keparahan, dan kondisi kesehatan setiap orang.
3. Apakah asthenia merupakan tanda penyakit serius?
Tidak selalu. Asthenia dapat disebabkan oleh kondisi ringan seperti kurang tidur atau infeksi virus. Namun, kelemahan juga dapat menjadi tanda penyakit serius, seperti stroke, gangguan saraf, penyakit jantung, atau kanker, sehingga perlu dievaluasi apabila berlangsung lama atau disertai gejala lain.
4. Apakah olahraga boleh dilakukan saat mengalami asthenia?
Boleh, selama penyebabnya telah diketahui dan dokter menyatakan aman. Aktivitas fisik ringan yang dilakukan secara bertahap dapat membantu mempertahankan kekuatan otot, tetapi sebaiknya hindari Olahraga berat hingga kondisi membaik.
5. Kapan saya harus segera ke rumah sakit?
Segera cari pertolongan medis apabila asthenia muncul secara tiba-tiba, disertai kelemahan pada satu sisi tubuh, sulit berbicara, sesak napas berat, nyeri dada, penurunan kesadaran, atau kejang karena kondisi tersebut dapat menandakan keadaan darurat medis.
Daftar Referensi
1.
Cleveland Clinic. Weakness
(Muscle Weakness): Causes, Symptoms & Treatment.
https://my.clevelandclinic.org/health/symptoms/25015-weakness
3.
Merck Manual Professional Edition. Weakness.
https://www.merckmanuals.com/professional/neurologic-disorders/symptoms-of-neurologic-disorders/weakness
4. https://www.nhlbi.nih.gov/health/anemiaNational Heart, Lung, and Blood Institute. Anemia.
5. https://www.niddk.nih.gov/health-information/endocrine-diseasesNational Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Endocrine Diseases.
6. https://www.ninds.nih.gov/health-information/disordersNational Institute of Neurological Disorders and Stroke. Disorders A–Z Index.
7. https://www.cdc.gov/covid/long-term-effects/Centers for Disease Control and Prevention. Long COVID or Post-COVID Conditions.
8. https://www.nimh.nih.gov/health/topics/depressionNational Institute of Mental Health. Depression.
9. National Institutes of Health – Office of Dietary
Supplements (ODS). Dietary Supplements.
https://ods.od.nih.gov/
10.World Health Organization (WHO). Healthy
Diet.
https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/healthy-diet