Please wait...

IMG-LOGO
Aug 21, 2026 | 99

Sinkop (Pingsan)

Sinkop (Pingsan): Gejala, Penyebab, Pertolongan Pertama, dan Cara Mencegahnya | Keapotek


Sinkop atau pingsan adalah kondisi ketika seseorang kehilangan kesadaran secara tiba-tiba dan sementara akibat berkurangnya aliran Darah ke otak. Kondisi ini biasanya hanya berlangsung beberapa detik hingga beberapa menit, kemudian penderita kembali sadar tanpa mengalami kerusakan otak permanen. Meskipun sebagian besar kasus sinkop tidak berbahaya, terutama bila dipicu oleh perubahan posisi tubuh atau respons refleks tertentu, pingsan juga dapat menjadi tanda gangguan serius pada jantung, sistem saraf, atau penyakit lain yang memerlukan penanganan segera. Oleh karena itu, penyebab sinkop perlu dievaluasi, terutama apabila terjadi berulang atau disertai gejala yang mengkhawatirkan.

Sinkop dapat dialami oleh siapa saja, tetapi lebih sering terjadi pada remaja, dewasa muda, dan lansia. Sebelum kehilangan kesadaran, sebagian penderita merasakan tanda-tanda seperti pusing, pandangan kabur, telinga berdenging, mual , tubuh terasa lemas, atau keringat dingin. Mengenali gejala awal tersebut dapat membantu seseorang segera duduk atau berbaring sehingga mengurangi risiko cedera akibat terjatuh. Pada beberapa kasus, terutama bila penyebabnya berasal dari gangguan irama jantung atau penyakit jantung, sinkop dapat terjadi tanpa gejala peringatan sehingga memerlukan pemeriksaan medis lebih lanjut.

 

Apa Itu Sinkop?

 

Sinkop adalah kehilangan kesadaran yang terjadi secara mendadak, berlangsung singkat, dan pulih kembali dengan sendirinya akibat penurunan aliran darah ke otak.

Karakteristik sinkop meliputi:

 

  • kehilangan kesadaran sementara,
  • tubuh kehilangan kemampuan mempertahankan posisi,
  • pemulihan terjadi secara spontan,
  • umumnya tidak menimbulkan kerusakan otak.

 

Sinkop berbeda dengan koma karena pada sinkop kesadaran biasanya kembali dalam waktu singkat tanpa memerlukan tindakan khusus, meskipun penyebabnya tetap harus dicari.

 

Bagaimana Sinkop Terjadi?

 

Agar dapat berfungsi normal, otak memerlukan pasokan darah dan oksigen yang cukup setiap saat.

Pada sinkop, terjadi penurunan sementara aliran darah ke otak sehingga otak kekurangan oksigen dalam waktu singkat.

Prosesnya secara umum meliputi:

 

1.    Tekanan darah atau aliran darah ke otak menurun.

2.    Pasokan oksigen ke otak berkurang.

3.    Otak tidak dapat mempertahankan kesadaran.

4.    Penderita kehilangan kesadaran selama beberapa detik hingga menit.

5.    Setelah aliran darah kembali normal, kesadaran pulih.

 

Sebagian besar penderita pulih sepenuhnya tanpa mengalami gangguan neurologis setelah aliran darah ke otak kembali normal.

 

Apakah Semua Pingsan Disebabkan oleh Sinkop?

 

Tidak semua kehilangan kesadaran merupakan sinkop.

Beberapa kondisi lain yang dapat menyerupai sinkop meliputi:

 

  • kejang (epilepsi),
  • hipoglikemia berat,
  • stroke,
  • cedera kepala,
  • gangguan metabolik,
  • keracunan obat atau alkohol ,
  • gangguan psikogenik.

 

Karena penyebabnya berbeda, pemeriksaan dokter diperlukan apabila penyebab kehilangan kesadaran tidak jelas.

 

Penyebab Sinkop

 

Sinkop dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, mulai dari yang ringan hingga yang berpotensi mengancam jiwa.

 

1.    Sinkop Vasovagal (Refleks)

 

Ini merupakan penyebab sinkop yang paling sering terjadi.

Sinkop vasovagal terjadi akibat respons berlebihan dari sistem saraf otonom yang menyebabkan:

 

  • denyut jantung melambat,
  • Pembuluh darah melebar,
  • Tekanan darah   turun,
  • aliran darah ke otak berkurang.
  •  

Pemicunya antara lain:

 

  • melihat darah,
  • rasa takut atau nyeri hebat,
  • berdiri terlalu lama,
  • cuaca panas,
  • stres emosional.

 

Sebagian besar sinkop vasovagal tidak berbahaya.

 

2.    Sinkop Ortostatik

 

Sinkop ortostatik terjadi ketika tekanan darah turun secara signifikan setelah seseorang berdiri dari posisi duduk atau berbaring.

Penyebabnya dapat meliputi:

  • dehidrasi,
  • kehilangan banyak darah,
  • penggunaan obat penurun Tekanan darah ,
  • gangguan sistem saraf otonom,
  • istirahat di tempat tidur dalam waktu lama.

 

Kondisi ini lebih sering terjadi pada lansia.

 

3.    Sinkop Kardiak

 

Sinkop akibat penyakit jantung merupakan kondisi yang lebih serius karena dapat meningkatkan risiko komplikasi.

Penyebabnya antara lain:

 

Sinkop yang terjadi saat berolahraga atau tanpa gejala peringatan perlu dicurigai berasal dari penyebab jantung.

 

4.    Penyebab Lain

 

Beberapa kondisi lain juga dapat menyebabkan sinkop, seperti:

 

 

Faktor Risiko Sinkop

 

Risiko mengalami sinkop dapat meningkat pada orang yang memiliki:

 

  • riwayat sinkop sebelumnya,
  • penyakit jantung,
  • tekanan darah rendah,
  • dehidrasi ,
  • penggunaan obat antihipertensi atau diuretik,
  • usia lanjut,
  • diabetes dengan gangguan saraf otonom,
  • riwayat keluarga dengan kematian jantung mendadak.

 

Siapa yang Lebih Berisiko Mengalami Sinkop?

 

Sinkop dapat terjadi pada siapa saja.

Namun, kondisi ini lebih sering ditemukan pada:

  • remaja dan dewasa muda (sinkop vasovagal),
  • lansia,
  • penderita penyakit jantung,
  • penderita gangguan irama jantung,
  • orang yang sering mengalami dehidrasi,
  • pasien yang mengonsumsi obat penurun tekanan darah.

 

Pada lansia, penyebab sinkop sering kali lebih kompleks karena dapat melibatkan beberapa faktor sekaligus.

 

Gejala Sinkop, Pertolongan Pertama, Diagnosis, dan Pemeriksaan

 

Gejala sinkop sering kali diawali dengan tanda-tanda peringatan beberapa detik hingga beberapa menit sebelum seseorang kehilangan kesadaran. Namun, pada sebagian kasus, terutama sinkop akibat gangguan irama jantung, pingsan dapat terjadi secara tiba-tiba tanpa gejala pendahuluan. Mengenali tanda-tanda awal sinkop sangat penting karena seseorang dapat segera duduk atau berbaring untuk mengurangi risiko cedera akibat terjatuh. Selain itu, pertolongan pertama yang tepat juga dapat membantu mempercepat pemulihan sambil menunggu evaluasi medis apabila diperlukan.

 

Gejala Sinkop

 

Gejala utama sinkop adalah kehilangan kesadaran sementara yang terjadi secara mendadak dan pulih kembali secara spontan.

Sebelum pingsan, penderita dapat mengalami:

 

  • pusing,
  • kepala terasa ringan,
  • pandangan kabur atau menghitam,
  • telinga berdenging,
  • mual ,
  • tubuh terasa lemas,
  • keringat dingin,
  • wajah tampak pucat,
  • jantung berdebar,
  • menguap berulang kali.

 

Gejala-gejala tersebut disebut sebagai gejala prodromal dan sering ditemukan pada sinkop vasovagal.

 

Apa yang Terjadi Saat Pingsan?

 

Ketika sinkop terjadi, penderita umumnya:

 

  • kehilangan kesadaran,
  • terjatuh karena kehilangan tonus otot,
  • tidak merespons sementara,
  • tampak pucat,
  • bernapas tetap ada,
  • denyut nadi biasanya masih dapat diraba.

 

Sebagian besar penderita kembali sadar dalam waktu kurang dari 1–2 menit setelah aliran darah ke otak kembali normal.

Setelah sadar, penderita mungkin masih merasa:

 

  • lemas,
  • mual,
  • berkeringat,
  • sedikit bingung selama beberapa menit.

 

Pertolongan Pertama Saat Seseorang Pingsan

 

Apabila melihat seseorang pingsan, lakukan pertolongan pertama berikut.

 

1.    Baringkan Penderita

 

Baringkan penderita di tempat yang aman.

Usahakan posisi tubuh terlentang untuk membantu meningkatkan aliran darah ke otak.

 

2.    Tinggikan Kedua Kaki

 

Apabila tidak dicurigai mengalami cedera, angkat kedua kaki sekitar 20–30 cm lebih tinggi dari posisi jantung.

Langkah ini membantu meningkatkan aliran darah kembali ke otak.

 

3.    Longgarkan Pakaian yang Ketat

 

Longgarkan pakaian di sekitar:

 

  • leher,
  • dada,
  • pinggang,

 

agar pernapasan lebih nyaman.

 

4.    Periksa Napas dan Respons

 

Pastikan penderita:

 

  • masih bernapas,
  • memiliki denyut nadi,
  • mulai merespons setelah beberapa saat.

 

Apabila penderita tidak bernapas atau tidak memiliki denyut nadi, segera hubungi layanan gawat darurat dan lakukan resusitasi jantung paru (RJP/CPR) apabila Anda terlatih.

 

5.    Jangan Langsung Membuat Penderita Berdiri

 

Setelah sadar, biarkan penderita tetap berbaring selama beberapa menit.

Meminta penderita berdiri terlalu cepat dapat menyebabkan sinkop kembali terjadi.

 

Hal yang Tidak Dianjurkan

 

Saat memberikan pertolongan pertama, hindari:

 

  • menyiram wajah dengan air secara paksa,
  • memberikan makanan atau minuman ketika penderita belum sadar sepenuhnya,
  • mengguncang tubuh penderita dengan keras,
  • memaksa penderita langsung berdiri,
  • memasukkan benda apa pun ke dalam mulut.

 

Tindakan tersebut tidak membantu mengatasi sinkop dan justru dapat meningkatkan risiko cedera atau tersedak.

 

Kapan Harus Memanggil Bantuan Medis Darurat?

 

Segera hubungi layanan gawat darurat apabila pingsan:

 

  • berlangsung lebih dari beberapa menit,
  • terjadi setelah cedera kepala,
  • disertai nyeri dada,
  • disertai Sesak napas ,
  • terjadi saat berolahraga,
  • disertai kejang,
  • terjadi pada penderita penyakit jantung,
  • terjadi tanpa penyebab yang jelas,
  • terjadi berulang dalam waktu singkat.

 

Bagaimana Dokter Menegakkan Diagnosis?

 

Diagnosis sinkop dimulai dengan wawancara medis (anamnesis) dan pemeriksaan fisik.

Dokter biasanya akan menanyakan:

 

  • bagaimana pingsan terjadi,
  • apakah ada gejala sebelum pingsan,
  • berapa lama kehilangan kesadaran,
  • apakah terjadi saat berdiri, duduk, atau berolahraga,
  • apakah terdapat riwayat penyakit jantung,
  • obat-obatan yang sedang digunakan,
  • riwayat keluarga dengan kematian jantung mendadak.

 

Informasi tersebut sangat membantu menentukan kemungkinan penyebab sinkop.

 

Pemeriksaan Fisik

 

Dokter akan melakukan pemeriksaan meliputi:

 

  • tekanan darah saat berbaring dan berdiri,
  • denyut nadi,
  • bunyi jantung,
  • pemeriksaan saraf,
  • tanda dehidrasi,
  • pemeriksaan cedera akibat terjatuh.

 

Pemeriksaan Penunjang

 

Elektrokardiogram (EKG)

 

EKG merupakan pemeriksaan dasar pada hampir semua pasien dengan sinkop.

Pemeriksaan ini membantu mendeteksi:

 

 

Holter Monitor

 

Apabila dicurigai terdapat gangguan irama jantung yang muncul sesekali, dokter dapat menyarankan penggunaan Holter monitor selama 24–48 jam atau lebih.

 

Tilt Table Test

 

Tilt table test digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis sinkop vasovagal atau hipotensi ortostatik.

Selama pemeriksaan:

 

  • pasien dibaringkan pada meja khusus,
  • meja kemudian dimiringkan secara bertahap,
  • tekanan darah dan denyut jantung dipantau untuk melihat respons tubuh terhadap perubahan posisi.

 

Ekokardiografi

 

Pemeriksaan USG jantung ini dilakukan apabila dokter mencurigai adanya kelainan struktur jantung, seperti:

 

 

Pemeriksaan Darah

 

Tes darah dapat dilakukan untuk mencari penyebab lain, seperti:

 

  • anemia,
  • hipoglikemia,
  • gangguan elektrolit,
  • infeksi tertentu.

 

Kondisi yang Menyerupai Sinkop

 

Beberapa kondisi dapat menyebabkan kehilangan kesadaran tetapi bukan merupakan sinkop, antara lain:

 

  • epilepsi,
  • hipoglikemia berat,
  • stroke,
  • transient ischemic attack (TIA),
  • gangguan psikogenik,
  • keracunan obat,
  • koma akibat penyebab lain.

 

Membedakan kondisi-kondisi tersebut sangat penting karena penanganannya berbeda.

 

Pengobatan Sinkop, Pencegahan, dan Kapan Harus ke Dokter

 

Pengobatan sinkop bergantung pada penyebab yang mendasarinya. Sinkop vasovagal, yang merupakan jenis paling umum, sering kali dapat dikendalikan dengan perubahan gaya hidup dan menghindari faktor pemicu. Sebaliknya, sinkop akibat gangguan irama jantung, penyakit jantung, atau kondisi medis lain memerlukan penanganan khusus sesuai penyebabnya. Oleh karena itu, menentukan penyebab sinkop merupakan langkah penting agar terapi yang diberikan tepat sasaran dan dapat mencegah kekambuhan maupun komplikasi.

 

Pengobatan Sinkop

 

Terapi sinkop disesuaikan dengan penyebab yang ditemukan setelah pemeriksaan.

 

1. Pengobatan Sinkop Vasovagal

Sebagian besar kasus sinkop vasovagal tidak memerlukan obat-obatan.

Dokter biasanya menganjurkan:

  • meningkatkan konsumsi cairan,
  • mengonsumsi garam sesuai anjuran dokter (pada pasien tertentu),
  • menghindari berdiri terlalu lama,
  • mengenali gejala awal sebelum pingsan,
  • segera duduk atau berbaring apabila mulai merasa pusing.

Pada pasien yang sering mengalami kekambuhan, dokter dapat mempertimbangkan terapi tambahan sesuai kondisi masing-masing.

 

2. Pengobatan Hipotensi Ortostatik

 

Apabila sinkop disebabkan oleh penurunan tekanan darah saat berdiri, penanganan dapat meliputi:

 

  • mencukupi kebutuhan cairan,
  • bangun secara perlahan dari posisi duduk atau berbaring,
  • menggunakan stoking kompresi pada kondisi tertentu,
  • menyesuaikan obat yang dapat menurunkan tekanan darah (atas petunjuk dokter),
  • mengobati penyakit yang menjadi penyebabnya.

 

3. Pengobatan Sinkop Akibat Penyakit Jantung

 

Sinkop yang berasal dari gangguan jantung memerlukan penanganan segera karena dapat meningkatkan risiko komplikasi serius.

Terapi yang diberikan bergantung pada penyebabnya, misalnya:

 

  • obat untuk mengatasi gangguan irama jantung,
  • pemasangan alat pacu jantung (pacemaker) pada kondisi tertentu,
  • pemasangan implantable cardioverter defibrillator (ICD) pada pasien berisiko tinggi,
  • tindakan kateterisasi atau operasi apabila terdapat kelainan  struktur jantung.

 

Cara Mencegah Sinkop

 

Pencegahan bergantung pada penyebabnya, tetapi beberapa langkah berikut dapat membantu mengurangi risiko pingsan.

 

Kenali Gejala Awal

 

Apabila mulai merasakan:

 

  • pusing,
  • pandangan mulai gelap,
  • mual,
  • keringat dingin,
  • tubuh terasa lemas,

 

segera duduk atau berbaring untuk mencegah terjatuh.

 

Cukupi Kebutuhan Cairan

 

Dehidrasi merupakan salah satu penyebab yang sering memicu sinkop.

Minumlah air putih yang cukup, terutama saat cuaca panas, setelah berolahraga, atau ketika mengalami Demam dan diare.

 

Hindari Berdiri Terlalu Lama

 

Apabila harus berdiri dalam waktu lama, usahakan:

 

  • menggerakkan kaki secara berkala,
  • mengubah posisi tubuh,
  • sesekali berjalan singkat bila memungkinkan.

 

Bangun Secara Perlahan

 

Saat bangun dari tempat tidur:

 

1.    Duduk terlebih dahulu selama beberapa saat.

2.    Berdiri secara perlahan.

3.    Tunggu hingga tubuh terasa stabil sebelum berjalan.

 

Cara ini membantu mengurangi risiko hipotensi ortostatik.

 

Terapkan Pola Hidup Sehat

 

Menjaga kesehatan jantung juga membantu mengurangi risiko sinkop akibat penyakit kardiovaskular.

Beberapa langkah yang dianjurkan meliputi:

 

  • rutin berolahraga sesuai kemampuan,
  • mengonsumsi makanan bergizi seimbang,
  • menjaga berat badan ideal,
  • berhenti merokok,
  • membatasi konsumsi alkohol,
  • mengelola stres dengan baik.

 

Komplikasi Sinkop

Sinkop sendiri umumnya tidak menyebabkan kerusakan otak permanen karena berlangsung singkat.

Namun, komplikasi dapat terjadi akibat:

 

  • cedera kepala saat terjatuh,
  • patah tulang,
  • luka pada wajah,
  • kecelakaan saat mengemudi,
  • komplikasi penyakit jantung yang mendasari.

 

Risiko komplikasi lebih tinggi pada lansia dan penderita penyakit jantung.

 

Kapan Harus ke Dokter?

 

Segera berkonsultasi dengan dokter apabila:

 

  • mengalami pingsan untuk pertama kali,
  • sinkop terjadi berulang,
  • pingsan saat berolahraga,
  • tidak ada gejala peringatan sebelum pingsan,
  • memiliki riwayat penyakit jantung,
  • mengalami cedera akibat terjatuh,
  • terdapat riwayat kematian jantung mendadak dalam keluarga.

 

Evaluasi medis penting untuk memastikan apakah sinkop disebabkan oleh kondisi yang memerlukan penanganan khusus.

 

Kapan Harus ke IGD?

 

Segera cari pertolongan medis darurat apabila sinkop disertai:

 

  • nyeri dada,
  • sesak napas,
  • jantung berdebar hebat,
  • kehilangan kesadaran lebih dari beberapa menit,
  • kejang,
  • kelemahan pada salah satu sisi tubuh,
  • sulit berbicara,
  • cedera kepala berat,
  • perdarahan hebat setelah terjatuh.

 

Gejala tersebut dapat mengindikasikan kondisi serius, seperti serangan jantung, gangguan irama jantung, stroke, atau perdarahan di otak yang memerlukan penanganan segera.

 

Ringkasan

 

Sinkop atau pingsan adalah kehilangan kesadaran sementara akibat berkurangnya aliran darah ke otak. Penyebabnya sangat beragam, mulai dari sinkop vasovagal yang umumnya tidak berbahaya hingga gangguan irama jantung atau penyakit jantung yang dapat mengancam jiwa.

Gejala biasanya diawali dengan pusing, pandangan kabur, mual, dan keringat dingin sebelum penderita kehilangan kesadaran. Pertolongan pertama yang tepat meliputi membaringkan penderita, mengangkat kedua kaki bila tidak dicurigai ada cedera, serta memastikan jalan napas dan pernapasan tetap baik.

Diagnosis ditegakkan melalui wawancara medis, pemeriksaan fisik, EKG, serta pemeriksaan penunjang lain sesuai kebutuhan. Pengobatan bergantung pada penyebabnya dan dapat berupa perubahan gaya hidup, pemberian obat, hingga pemasangan alat pacu jantung pada kondisi tertentu.

 

FAQ

 

1.    Apakah sinkop sama dengan pingsan?

 

Ya. Sinkop adalah istilah medis untuk pingsan, yaitu kehilangan kesadaran sementara akibat berkurangnya aliran darah ke otak. Namun, tidak semua kondisi pingsan disebabkan oleh sinkop karena kehilangan kesadaran juga dapat terjadi akibat kejang, hipoglikemia, atau penyebab lainnya.

 

2.    Apakah sinkop berbahaya?

 

Sebagian besar sinkop vasovagal tidak berbahaya. Namun, sinkop yang disebabkan oleh gangguan irama jantung atau penyakit jantung dapat menjadi kondisi serius dan memerlukan penanganan segera.

 

3.    Apa yang harus dilakukan saat merasa akan pingsan?

 

Segera duduk atau berbaring, angkat kedua kaki bila memungkinkan, dan hindari berdiri hingga kondisi benar-benar membaik. Langkah ini dapat membantu meningkatkan aliran darah ke otak dan mencegah cedera akibat terjatuh.

 

4.    Apakah sinkop dapat dicegah?

 

Ya, pada banyak kasus. Mencukupi kebutuhan cairan, menghindari berdiri terlalu lama, mengenali gejala awal, bangun secara perlahan dari posisi berbaring, dan mengelola penyakit yang mendasari dapat membantu mengurangi risiko sinkop berulang.

 

5.    Kapan seseorang yang pingsan harus segera dibawa ke rumah sakit?

 

Segera cari pertolongan medis apabila pingsan disertai nyeri dada, sesak napas, kejang, kehilangan kesadaran yang berlangsung lama, terjadi saat berolahraga, atau terjadi pada seseorang dengan riwayat penyakit jantung. Kondisi tersebut memerlukan evaluasi segera untuk menyingkirkan penyebab yang berpotensi mengancam jiwa.

 

Daftar Referensi

 

1.https://www.escardio.org/Guidelines/Clinical-Practice-Guidelines/Syncope-GuidelinesEuropean Society of Cardiology. 2018 ESC Guidelines for the Diagnosis and Management of Syncope.

2.https://www.heart.org/en/health-topics/arrhythmiaAmerican Heart Association. Arrhythmia: Symptoms, Diagnosis & Monitoring.

3.https://www.cardiosmart.org/topics/syncopeAmerican College of Cardiology – CardioSmart. Syncope (Fainting).

4.    MedlinePlus. Fainting. U.S. National Library of Medicine.
https://medlineplus.gov/fainting.html

5.    Merck Manual Consumer Version. Fainting.
https://www.merckmanuals.com/home/brain-spinal-cord-and-nerve-disorders/symptoms-of-brain-spinal-cord-and-nerve-disorders/fainting

6.    Cleveland Clinic. Syncope (Fainting): Symptoms, Causes & Treatment.
https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17536-syncope-fainting

7.  https://www.nia.nih.gov/healthNational Institute on Aging. Falls and Fainting in Older Adults.

8. https://www.nhlbi.nih.gov/National Heart, Lung, and Blood Institute. Heart and Vascular Diseases.

9.    American Red Cross. First Aid Steps for Fainting.
https://www.redcross.org/take-a-class/resources/learn-first-aid/fainting

10.Penyakit Jantung: Gejala, Penyebab, Faktor Risiko, Diagnosis, dan Cara Mencegahnya

 



 IncredibleOffers

 

 

 

Your Cart

Your basket is empty