Mohon tunggu...

IMG-LOGO
Agt 21, 2026 | 58

Rontgen Dada

Rontgen Dada: Fungsi, Prosedur, Persiapan, Hasil Pemeriksaan, dan Penyakit yang Dapat Dideteksi | Keapotek


Rontgen dada atau foto toraks (chest X-ray) merupakan salah satu pemeriksaan pencitraan yang paling sering dilakukan untuk menilai kondisi organ di dalam rongga dada, termasuk paru-paru, jantung, saluran napas, Pembuluh darah    besar, tulang rusuk, dan diafragma. Pemeriksaan ini menggunakan sinar-X dalam dosis rendah untuk menghasilkan gambar struktur di dalam tubuh sehingga dokter dapat membantu menegakkan diagnosis berbagai penyakit, memantau perkembangan penyakit, maupun mengevaluasi hasil pengobatan. Karena prosesnya cepat, tidak menimbulkan rasa sakit, dan tersedia di hampir semua fasilitas kesehatan, rontgen dada menjadi pemeriksaan awal pada banyak kasus gangguan pernapasan dan penyakit jantung.

Rontgen dada dapat membantu mendeteksi berbagai kondisi, seperti pneumonia, tuberkulosis (TBC), efusi pleura, pneumotoraks, pembesaran jantung, hingga beberapa jenis kanker paru. Meskipun sangat bermanfaat, pemeriksaan ini memiliki keterbatasan karena tidak semua kelainan dapat terlihat jelas pada foto rontgen. Pada kondisi tertentu, dokter mungkin akan menyarankan pemeriksaan lanjutan, seperti CT scan dada atau MRI, untuk mendapatkan gambaran yang lebih rinci.

 

Apa Itu Rontgen Dada?

 

Rontgen dada adalah pemeriksaan radiologi yang menggunakan sinar-X untuk menghasilkan gambar organ dan jaringan di dalam rongga dada.

Pemeriksaan ini dapat memperlihatkan kondisi:

  • paru-paru,
  • jantung,
  • pembuluh darah besar,
  • saluran napas,
  • tulang rusuk,
  • tulang belakang bagian dada,
  • diafragma.

 

Rontgen dada merupakan salah satu pemeriksaan pencitraan yang paling sering digunakan karena prosedurnya cepat, relatif sederhana, dan dapat memberikan informasi penting untuk membantu menentukan penyebab berbagai keluhan pada dada.

 

Bagaimana Rontgen Dada Bekerja?

 

Sinar-X merupakan gelombang elektromagnetik yang dapat menembus tubuh.

Saat pemeriksaan dilakukan:

 

1.     Mesin rontgen memancarkan sinar-X ke arah dada.

2.     Berbagai jaringan tubuh menyerap sinar-X dalam jumlah yang berbeda.

3.     Tulang menyerap lebih banyak sinar-X sehingga tampak berwarna putih.

4.     Paru-paru yang berisi udara tampak lebih gelap.

5.     Jantung dan jaringan lunak tampak dalam gradasi abu-abu.

6.     Gambar kemudian direkam secara digital untuk dianalisis oleh dokter radiologi.

Perbedaan penyerapan sinar-X inilah yang memungkinkan dokter melihat adanya kelainan pada organ di dalam dada.

 

Kapan Rontgen Dada Diperlukan?

 

Dokter dapat menyarankan rontgen dada apabila seseorang mengalami keluhan atau kondisi tertentu, seperti:

 

  • batuk yang berlangsung lama,
  • Sesak napas,
  • nyeri dada,
  • batuk berdarah,
  • Demam yang dicurigai akibat infeksi paru,
  • cedera pada dada,
  • dugaan patah tulang rusuk,
  • pemantauan penyakit paru kronis,
  • evaluasi sebelum operasi tertentu.

Selain untuk menegakkan diagnosis, rontgen dada juga sering digunakan untuk memantau perkembangan penyakit dan menilai respons terhadap pengobatan.

 

Fungsi Rontgen Dada

 

Rontgen dada memiliki berbagai manfaat dalam praktik medis.

 

1.     Membantu Menegakkan Diagnosis Penyakit Paru

 

Rontgen dada sering menjadi pemeriksaan pertama pada pasien dengan keluhan gangguan pernapasan.

Pemeriksaan ini dapat membantu mendeteksi:

 

  • pneumonia,
  • tuberkulosis (TBC),
  • Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK),
  • atelektasis,
  • pneumotoraks,
  • efusi pleura.

 

2.     Menilai Kondisi Jantung

 

Foto toraks dapat memberikan gambaran mengenai:

 

Meskipun demikian, pemeriksaan lain seperti ekokardiografi tetap diperlukan untuk menilai fungsi jantung secara lebih rinci.

 

3.     Mengevaluasi Cedera Dada

 

Pada pasien yang mengalami kecelakaan atau trauma, rontgen dada dapat membantu mendeteksi:

 

  • patah tulang rusuk,
  • cedera paru,
  • perdarahan di rongga dada,
  • pneumotoraks.

 

4.     Memantau Perkembangan Penyakit

 

Dokter dapat melakukan rontgen dada secara berkala untuk memantau:

 

  • perkembangan pneumonia,
  • respons pengobatan tuberkulosis,
  • perkembangan penyakit paru kronis,
  • kondisi setelah operasi dada.

 

5.     Memeriksa Posisi Alat Medis

 

Rontgen dada juga digunakan untuk memastikan posisi berbagai alat medis, seperti:

 

  • kateter vena sentral,
  • selang endotrakeal,
  • selang nasogastrik pada kondisi tertentu,
  • alat pacu jantung (pacemaker).

 

Penyakit yang Dapat Dideteksi dengan Rontgen Dada

 

Berbagai kondisi yang dapat terlihat pada foto toraks antara lain:

 

Penyakit Paru

  • pneumonia,
  • tuberkulosis,
  • PPOK,
  • emfisema,
  • fibrosis paru,
  • edema paru,
  • abses paru.

 

Gangguan Rongga Pleura

 

  • efusi pleura,
  • pneumotoraks,
  • hemotoraks.

 

Kelainan Jantung

 

  • pembesaran jantung (kardiomegali),
  • gagal jantung kongestif,
  • penumpukan cairan akibat gangguan jantung.

 

Kelainan Tulang

 

  • patah tulang rusuk,
  • kelainan tulang belakang dada,
  • beberapa kelainan pada tulang dada.

 

Dugaan Tumor atau Kanker

 

Rontgen dada dapat menunjukkan adanya massa atau benjolan di paru-paru  yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Namun, tidak semua kanker paru dapat terlihat pada rontgen dada sehingga CT scan sering diperlukan untuk evaluasi yang lebih rinci.

 

Kelebihan Rontgen Dada

 

Pemeriksaan ini memiliki beberapa keunggulan, antara lain:

 

  • prosedur cepat,
  • tidak menimbulkan rasa sakit,
  • biaya relatif lebih terjangkau dibandingkan CT scan,
  • tersedia di sebagian besar rumah sakit dan fasilitas kesehatan,
  • menggunakan dosis radiasi yang relatif rendah.

 

Keterbatasan Rontgen Dada

 

Meskipun sangat bermanfaat, rontgen dada memiliki beberapa keterbatasan.

Pemeriksaan ini:

  • tidak selalu dapat mendeteksi penyakit pada tahap sangat awal,
  • memberikan gambaran dua dimensi sehingga beberapa kelainan dapat saling menutupi,
  • kurang sensitif dibandingkan CT scan untuk mendeteksi nodul kecil atau kelainan tertentu,
  • tidak dapat menilai fungsi organ secara langsung.

 

Oleh karena itu, hasil rontgen dada selalu diinterpretasikan bersama gejala, pemeriksaan fisik, dan bila perlu pemeriksaan penunjang lainnya.

 

Persiapan, Prosedur, dan Hasil Pemeriksaan Rontgen Dada

 

Rontgen dada merupakan pemeriksaan yang sederhana dan umumnya tidak memerlukan persiapan khusus. Sebagian besar pemeriksaan hanya berlangsung beberapa menit dan pasien dapat langsung kembali beraktivitas setelah selesai. Agar gambar yang dihasilkan berkualitas baik, pasien perlu mengikuti petunjuk dari petugas radiologi, seperti melepas benda logam dan menahan napas selama beberapa detik saat pengambilan gambar. Hasil rontgen kemudian akan dianalisis oleh dokter radiologi sebelum disampaikan kepada dokter yang merawat.

 

Persiapan Sebelum Rontgen Dada

 

Pada umumnya, rontgen dada tidak memerlukan puasa maupun persiapan khusus.

Namun, pasien biasanya akan diminta untuk:

 

  • mengenakan pakaian khusus rumah sakit apabila diperlukan,
  • melepas perhiasan, jam tangan, kacamata, ikat pinggang, atau benda logam lainnya di area dada dan leher,
  • melepas bra berkawat apabila dapat mengganggu hasil gambar,
  • memberi tahu petugas apabila sedang hamil atau kemungkinan sedang hamil,
  • memberi tahu dokter mengenai alat medis yang ditanam di dalam tubuh, seperti alat pacu jantung (pacemaker).

 

Benda logam dapat menghalangi sinar-X sehingga menghasilkan bayangan pada gambar dan mempersulit interpretasi hasil pemeriksaan.

 

Apakah Rontgen Dada Memerlukan Puasa?

 

Tidak. Sebagian besar pemeriksaan rontgen dada tidak memerlukan puasa maupun penghentian obat-obatan rutin.

Pasien tetap dapat makan, minum, dan mengonsumsi obat sesuai petunjuk dokter, kecuali bila rontgen dilakukan sebagai bagian dari pemeriksaan lain yang memiliki persiapan khusus.

 

Bagaimana Prosedur Rontgen Dada Dilakukan?

 

Rontgen dada dilakukan oleh radiografer atau petugas radiologi dan hanya memerlukan waktu beberapa menit.

Secara umum prosedurnya meliputi:

 

1.     Pasien diminta memasuki ruang rontgen.

2.     Benda logam di area dada dilepas.

3.     Pasien berdiri atau duduk di depan detektor sinar-X.

4.     Posisi tubuh diatur sesuai jenis foto yang diperlukan.

5.     Pasien diminta menarik napas dalam dan menahannya selama beberapa detik.

6.     Mesin rontgen mengambil gambar.

7.     Setelah selesai, pasien dapat kembali beraktivitas seperti biasa.

 

Paparan sinar-X hanya berlangsung dalam hitungan detik.

 

Posisi yang Digunakan Saat Rontgen Dada

 

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap, dokter dapat meminta satu atau lebih posisi pemeriksaan.

 

Proyeksi Posteroanterior (PA)

 

Ini merupakan posisi yang paling sering digunakan.

Pada posisi ini:

 

  • pasien berdiri menghadap detektor,
  • dada menempel pada detektor,
  • sinar-X dipancarkan dari belakang ke depan.

 

Posisi PA memberikan gambaran ukuran jantung yang lebih akurat dibandingkan posisi AP.

 

Proyeksi Lateral

 

Pada posisi lateral:

 

  • salah satu sisi tubuh menempel pada detektor,
  • kedua lengan diangkat ke atas.

 

Foto lateral membantu melihat struktur yang mungkin tertutup pada foto PA, seperti bagian belakang paru atau ruang di belakang jantung.

 

Proyeksi Anteroposterior (AP)

 

Posisi AP biasanya digunakan pada pasien yang:

 

  • dirawat di ruang intensif,
  • tidak dapat berdiri,
  • menggunakan ventilator,
  • mengalami cedera berat.

 

Pada posisi ini, sinar-X dipancarkan dari depan ke belakang.

Ukuran jantung pada foto AP dapat tampak sedikit lebih besar dibandingkan kondisi sebenarnya.

 

Berapa Lama Pemeriksaan Berlangsung?

 

Rontgen dada termasuk pemeriksaan yang cepat.

Waktu yang dibutuhkan umumnya sekitar:

  • 5–15 menit untuk keseluruhan proses,
  • paparan sinar-X hanya berlangsung beberapa detik.

Lama pemeriksaan dapat sedikit berbeda tergantung kondisi pasien dan jumlah proyeksi yang diperlukan.

 

Apakah Rontgen Dada Menimbulkan Rasa Sakit?

 

Tidak. Pemeriksaan rontgen dada tidak menimbulkan rasa sakit karena tidak melibatkan sayatan maupun suntikan.

Sebagian pasien mungkin merasa sedikit tidak nyaman saat harus berdiri diam atau menahan napas selama beberapa detik, tetapi keluhan tersebut biasanya ringan.

 

Apakah Rontgen Dada Aman?

 

Ya. Rontgen dada menggunakan dosis radiasi yang relatif rendah dan secara umum dianggap aman apabila dilakukan sesuai indikasi medis.

Manfaat pemeriksaan biasanya jauh lebih besar dibandingkan risiko paparan radiasi yang diterima pasien.

Meski demikian, dokter tetap mempertimbangkan kebutuhan pemeriksaan agar paparan radiasi tidak dilakukan secara berlebihan.

 

Apakah Rontgen Dada Aman untuk Ibu Hamil?

 

Paparan radiasi pada rontgen dada relatif rendah dan area yang diperiksa berada jauh dari janin.

Namun, pemeriksaan pada ibu hamil hanya dilakukan apabila manfaatnya lebih besar daripada risikonya.

Karena itu, pasien harus selalu memberi tahu dokter atau petugas radiologi apabila:

 

  • sedang hamil,
  • kemungkinan hamil,
  • atau sedang merencanakan kehamilan.

 

Apabila pemeriksaan tetap diperlukan, petugas dapat menggunakan pelindung timbal (lead apron) sesuai kebutuhan dan kebijakan fasilitas kesehatan.

 

Cara Dokter Membaca Hasil Rontgen Dada

 

Hasil rontgen dada akan dianalisis oleh dokter spesialis radiologi.

Beberapa hal yang dinilai meliputi:

 

  • ukuran dan bentuk jantung,
  • kondisi paru-paru,
  • adanya infeksi,
  • penumpukan cairan,
  • keberadaan udara di rongga pleura,
  • kelainan tulang rusuk,
  • posisi diafragma,
  • pembuluh darah besar,
  • keberadaan massa atau benjolan.

 

Interpretasi hasil selalu mempertimbangkan keluhan pasien, hasil pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang lainnya.

 

Arti Hasil Normal

 

Hasil rontgen dada dinilai normal apabila:

 

  • paru-paru tampak bersih tanpa bercak abnormal,
  • ukuran jantung berada dalam batas normal,
  • tidak terdapat cairan di rongga pleura,
  • tidak terdapat udara bebas di rongga dada,
  • diafragma tampak normal,
  • tulang yang terlihat tidak menunjukkan kelainan yang bermakna.

 

Hasil normal tidak selalu menyingkirkan seluruh penyakit. Pada beberapa kondisi, terutama penyakit pada tahap awal, pemeriksaan lain mungkin tetap diperlukan.

 

Arti Hasil Abnormal

 

Hasil rontgen dapat dinyatakan abnormal apabila ditemukan, misalnya:

 

  • bercak putih yang mengarah pada infeksi paru,
  • pembesaran jantung,
  • cairan di rongga pleura,
  • udara di rongga pleura (pneumotoraks),
  • massa atau nodul paru,
  • patah tulang rusuk,
  • kelainan diafragma,
  • tanda edema paru.

 

Hasil abnormal tidak selalu berarti seseorang menderita penyakit serius. Dokter akan menafsirkan hasil berdasarkan kondisi klinis dan, bila diperlukan, menyarankan pemeriksaan lanjutan seperti CT scan, USG, atau pemeriksaan laboratorium.

 

Risiko Rontgen Dada, Kapan Diperlukan, dan Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter

 

Rontgen dada merupakan salah satu pemeriksaan pencitraan yang paling sering digunakan karena cepat, mudah dilakukan, dan mampu memberikan informasi penting mengenai kondisi paru-paru, jantung, serta struktur lain di dalam rongga dada. Meskipun menggunakan sinar-X, dosis radiasi yang diberikan relatif rendah sehingga pemeriksaan ini dianggap aman apabila dilakukan sesuai indikasi medis. Namun, seperti pemeriksaan penunjang lainnya, rontgen dada memiliki keterbatasan dan tidak selalu dapat mendeteksi semua jenis penyakit. Oleh karena itu, dokter akan menginterpretasikan hasil rontgen bersama dengan gejala, pemeriksaan fisik, dan bila perlu pemeriksaan tambahan.

 

Risiko dan Efek Samping Rontgen Dada

 

Bagi sebagian besar orang, rontgen dada merupakan pemeriksaan yang aman.

Efek samping setelah pemeriksaan hampir tidak pernah terjadi karena:

  • tidak menggunakan suntikan,
  • tidak memerlukan obat bius,
  • tidak menimbulkan luka,
  • tidak menyebabkan rasa nyeri.

 

Paparan radiasi yang diterima selama pemeriksaan juga tergolong rendah.

 

Apakah Paparan Radiasi Berbahaya?

 

Semua pemeriksaan yang menggunakan sinar-X memberikan paparan radiasi dalam jumlah tertentu.

Namun, dosis radiasi pada rontgen dada relatif kecil dan manfaat pemeriksaan umumnya jauh lebih besar dibandingkan risikonya.

Dokter hanya akan menyarankan pemeriksaan apabila memang diperlukan untuk membantu menegakkan diagnosis atau memantau penyakit.

Meski demikian, pemeriksaan sebaiknya tidak dilakukan berulang kali tanpa indikasi medis yang jelas.

 

Siapa yang Perlu Berhati-Hati?

 

Beberapa kelompok memerlukan perhatian khusus sebelum menjalani rontgen dada.

Di antaranya:

 

  • ibu hamil atau yang diduga sedang hamil,
  • pasien yang sering menjalani pemeriksaan radiologi,
  • anak-anak (karena jaringan tubuh lebih sensitif terhadap radiasi).

 

Pada kelompok tersebut, dokter akan mempertimbangkan manfaat dan risiko sebelum memutuskan pemeriksaan.

 

Kapan Dokter Menyarankan Pemeriksaan Rontgen Dada?

 

Dokter dapat menyarankan rontgen dada apabila seseorang mengalami:

 

  • batuk yang tidak kunjung membaik,
  • sesak napas,
  • nyeri dada,
  • batuk berdarah,
  • demam yang dicurigai berasal dari infeksi paru,
  • cedera pada dada,
  • dugaan penyakit jantung,
  • dugaan tuberkulosis (TBC),
  • pemantauan penyakit paru kronis.

 

Selain itu, rontgen dada juga dapat dilakukan untuk mengevaluasi kondisi setelah operasi atau memastikan posisi alat medis tertentu.

 

Kapan Diperlukan Pemeriksaan Lanjutan?

 

Hasil rontgen dada terkadang belum cukup untuk memastikan diagnosis.

Dokter dapat menyarankan pemeriksaan tambahan apabila:

  • hasil rontgen belum memberikan gambaran yang jelas,
  • ditemukan benjolan atau kelainan yang memerlukan evaluasi lebih lanjut,
  • gejala pasien tidak sesuai dengan hasil rontgen,
  • diperlukan gambaran organ yang lebih rinci.

 

Pemeriksaan lanjutan yang mungkin dilakukan antara lain:

 

 

 

Perbedaan Rontgen Dada dan CT Scan Dada

 

Meskipun sama-sama menggunakan sinar-X, kedua pemeriksaan ini memiliki fungsi yang berbeda.

 

 

 


 


Dokter akan memilih pemeriksaan yang paling sesuai berdasarkan kondisi pasien dan dugaan penyakit.

 

Cara Mengurangi Paparan Radiasi

 

Paparan radiasi dari pemeriksaan medis tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, tetapi dapat diminimalkan dengan:

 

  • menjalani pemeriksaan hanya atas indikasi medis,
  • memberi tahu dokter mengenai riwayat pemeriksaan radiologi sebelumnya,
  • memberi tahu petugas apabila sedang hamil,
  • mengikuti instruksi petugas selama pemeriksaan agar tidak perlu mengulang pengambilan gambar.

 

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

 

Segera berkonsultasi apabila mengalami:

 

  • batuk lebih dari tiga minggu,
  • sesak napas yang tidak diketahui penyebabnya,
  • nyeri dada,
  • batuk berdarah,
  • demam tinggi yang disertai batuk,
  • Penurunan berat badan  tanpa sebab yang jelas,
  • hasil rontgen menunjukkan kelainan yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.

 

Dokter akan menentukan apakah diperlukan pemeriksaan tambahan atau pengobatan sesuai penyebabnya.

 

Kapan Harus ke IGD?

 

Segera cari pertolongan medis darurat apabila mengalami:

 

  • sesak napas berat,
  • nyeri dada hebat,
  • batuk darah dalam jumlah banyak,
  • penurunan kesadaran,
  • bibir atau ujung jari membiru,
  • cedera dada akibat kecelakaan,
  • kesulitan bernapas setelah trauma.

Kondisi tersebut dapat menandakan keadaan darurat yang memerlukan penanganan segera.

 

Ringkasan

 

Rontgen dada atau foto toraks merupakan pemeriksaan pencitraan yang menggunakan sinar-X untuk melihat kondisi paru-paru, jantung, saluran napas, pembuluh darah besar, serta tulang di dalam rongga dada. Pemeriksaan ini banyak digunakan untuk membantu mendiagnosis berbagai penyakit, seperti pneumonia, tuberkulosis, pneumotoraks, efusi pleura, pembesaran jantung, hingga dugaan kanker paru.

Pemeriksaan berlangsung cepat, tidak menimbulkan rasa sakit, dan menggunakan dosis radiasi yang relatif rendah. Meskipun demikian, rontgen dada memiliki keterbatasan sehingga pada beberapa kondisi diperlukan pemeriksaan lanjutan, seperti CT scan atau pemeriksaan lainnya.

Apabila dilakukan sesuai indikasi medis, manfaat rontgen dada umumnya jauh lebih besar dibandingkan risikonya. Hasil pemeriksaan akan diinterpretasikan bersama dengan gejala, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang lainnya agar diagnosis yang diperoleh lebih akurat.

 

FAQ

 

1.     Apakah rontgen dada terasa sakit?

 

Tidak. Rontgen dada merupakan pemeriksaan yang tidak menimbulkan rasa sakit dan biasanya hanya berlangsung beberapa menit.

 

2.     Apakah saya harus berpuasa sebelum rontgen dada?

 

Tidak. Sebagian besar pemeriksaan rontgen dada tidak memerlukan puasa maupun penghentian obat-obatan rutin.

 

3.     Apakah rontgen dada dapat mendeteksi semua penyakit paru?

 

Tidak. Meskipun sangat bermanfaat sebagai pemeriksaan awal, beberapa penyakit pada tahap awal atau kelainan berukuran kecil mungkin tidak terlihat pada rontgen dada. Dalam kondisi tertentu, dokter dapat menyarankan CT scan atau pemeriksaan lain.

 

4.     Apakah rontgen dada aman dilakukan berulang kali?

 

Pada umumnya aman apabila dilakukan sesuai indikasi medis. Dokter akan mempertimbangkan manfaat dan risiko paparan radiasi sebelum menyarankan pemeriksaan berulang.

 

5.     Berapa lama hasil rontgen dada keluar?

 

Waktu keluarnya hasil berbeda-beda tergantung fasilitas kesehatan. Di beberapa rumah sakit atau klinik, hasil dapat tersedia pada hari yang sama, sedangkan di tempat lain mungkin memerlukan waktu lebih lama karena harus melalui proses interpretasi oleh dokter spesialis radiologi.

 

Daftar Referensi

 

1.     RadiologyInfo.org (Radiological Society of North America & American College of Radiology). Chest X-ray (Chest Radiography).
https://www.radiologyinfo.org/en/info/chestrad

2. https://www.acr.org/Clinical-Resources/ACR-Appropriateness-CriteriaAmerican College of Radiology. Appropriateness Criteria® – Imaging of the Chest.

3.     MedlinePlus. Chest X-ray. U.S. National Library of Medicine.
https://medlineplus.gov/chestxray.html

4.     CT Scan (Computed Tomography): Fungsi, Prosedur, Persiapan, Risiko, dan Hasil Pemeriksaan | Keapotek

5.     https://www.fda.gov/radiation-emitting-products/medical-imagingU.S. Food and Drug Administration. Medical X-Ray Imaging.

6.     https://www.acog.org/clinical/clinical-guidance/committee-opinion/articles/2017/10/guidelines-for-diagnostic-imaging-during-pregnancy-and-lactationAmerican College of Obstetricians and Gynecologists. Guidelines for Diagnostic Imaging During Pregnancy and Lactation.

7. https://www.cancer.org/cancer/types/lung-cancer/detection-diagnosis-staging/how-diagnosed.htmlAmerican Cancer Society. How Lung Cancer Is Diagnosed.

8.     Merck Manual Professional Edition. Approach to the Patient With Pulmonary Symptoms.
https://www.merckmanuals.com/professional/pulmonary-disorders

9.     https://www.cdc.gov/tb/Centers for Disease Control and Prevention. Tuberculosis (TB).

10. https://www.heart.org/en/health-topics/heart-failureAmerican Heart Association. Heart Failure.


 IncredibleOffers

Keranjang Anda

Keranjang anda kosong