Mohon tunggu...

IMG-LOGO
Agt 21, 2026 | 124

Protein

Protein: Fungsi, Manfaat, Sumber Makanan, Kebutuhan Harian, dan Dampak Kekurangan maupun Kelebihan | Keapotek


Protein merupakan salah satu zat gizi makro yang sangat penting bagi tubuh. Bersama karbohidrat dan lemak, protein dibutuhkan setiap hari untuk menjaga fungsi normal tubuh. Protein berperan sebagai bahan pembangun sel dan jaringan, membantu pembentukan enzim serta hormon, mendukung sistem kekebalan tubuh, dan berperan dalam pertumbuhan maupun perbaikan jaringan yang rusak. Karena hampir seluruh sel tubuh mengandung protein, asupan yang cukup sangat penting untuk menjaga kesehatan pada setiap tahap kehidupan, mulai dari bayi hingga lanjut usia.

Selain membantu membangun otot, protein juga memiliki banyak fungsi lain yang sering kali kurang disadari. Protein membantu mengangkut oksigen melalui hemoglobin, menjaga keseimbangan cairan tubuh, mendukung proses pembekuan Darah, hingga menyediakan energi ketika tubuh kekurangan karbohidrat dan lemak. Kekurangan protein dalam jangka panjang dapat mengganggu pertumbuhan, menurunkan daya tahan tubuh, serta memperlambat proses penyembuhan luka. Sebaliknya, konsumsi protein yang berlebihan tanpa diimbangi pola makan yang sehat juga dapat menimbulkan dampak tertentu, terutama pada orang dengan gangguan fungsi Ginjal .

 

 

Apa Itu Protein?

 

Protein adalah zat gizi makro yang tersusun dari rantai asam amino.

Asam amino sering disebut sebagai "bahan penyusun" protein karena tubuh menggunakannya untuk membentuk berbagai jaringan dan senyawa penting.

Secara umum terdapat 20 jenis asam amino  yang digunakan tubuh untuk membentuk protein.

Asam amino tersebut dibagi menjadi:

 

 

Beberapa asam amino juga tergolong kondisional, yaitu biasanya dapat diproduksi oleh tubuh, tetapi kebutuhannya dapat meningkat pada kondisi tertentu seperti sakit berat, cedera, atau infeksi.

 

Bagaimana Protein Bekerja di Dalam Tubuh?

 

Protein yang dikonsumsi melalui makanan tidak langsung digunakan oleh tubuh.

Prosesnya meliputi:

 

1.    Protein dicerna di lambung dan usus halus.

2.    Protein dipecah menjadi asam amino.

3.    Asam amino diserap ke dalam aliran darah.

4.    Tubuh menggunakan asam amino untuk membentuk protein baru sesuai kebutuhan.

 

Protein baru tersebut digunakan untuk:

 

  • membangun otot,
  • memperbaiki jaringan,
  • membentuk enzim,
  • menghasilkan hormon,
  • membentuk antibodi,
  • menjaga fungsi organ.

 

Tubuh tidak memiliki tempat penyimpanan protein khusus seperti halnya lemak. Oleh karena itu, asupan protein perlu diperoleh secara teratur melalui makanan sehari-hari.

 

Fungsi Protein bagi Tubuh

 

Protein memiliki berbagai fungsi penting yang mendukung hampir seluruh sistem organ.

 

1.    Membangun dan Memperbaiki Jaringan Tubuh

 

Protein merupakan komponen utama pembentuk:

 

 

Ketika terjadi luka atau cedera, tubuh memerlukan protein untuk memperbaiki jaringan yang rusak.

 

2. Membentuk Enzim dan Hormon

 

Banyak enzim dan hormon tersusun atas protein.

Contohnya:

 

  • insulin yang membantu mengatur kadar gula darah,
  • berbagai enzim pencernaan yang membantu memecah makanan,
  • hormon pertumbuhan yang berperan dalam perkembangan tubuh.

 

Tanpa protein yang cukup, berbagai proses metabolisme tubuh tidak dapat berlangsung secara optimal.

 

2.    Mendukung Sistem Kekebalan Tubuh

 

Antibodi yang membantu tubuh melawan bakteri, virus, dan zat asing lainnya tersusun dari protein.

Asupan protein yang cukup membantu menjaga fungsi sistem imun sehingga tubuh lebih mampu melawan infeksi.

 

3.    Mengangkut Zat Penting dalam Tubuh

 

Protein juga berfungsi sebagai alat transportasi berbagai zat.

Contohnya:

 

 

4.    Menjaga Keseimbangan Cairan dan pH

 

Protein membantu menjaga distribusi cairan antara pembuluh darah dan jaringan tubuh.

Apabila kadar protein dalam darah sangat rendah, cairan dapat keluar ke jaringan sehingga menyebabkan pembengkakan (edema).

Protein juga membantu menjaga keseimbangan asam-basa (pH) agar fungsi sel tetap optimal.

 

5.    Menyediakan Energi

 

Protein dapat digunakan sebagai sumber energi apabila tubuh kekurangan karbohidrat atau lemak.

 

Setiap 1 gram protein menghasilkan sekitar 4 kilokalori (kkal) energi.

Meskipun demikian, tubuh lebih mengutamakan protein untuk fungsi pembentukan dan perbaikan jaringan dibandingkan sebagai sumber energi utama.

 

Manfaat Protein bagi Kesehatan

Memenuhi kebutuhan protein setiap hari memberikan berbagai manfaat bagi kesehatan.

Di antaranya:

 

Membantu Pertumbuhan dan Perkembangan

Protein sangat penting bagi:

 

  • bayi,
  • anak-anak,
  • remaja,
  • ibu hamil,
  • ibu menyusui.

 

Pada kelompok tersebut, kebutuhan protein meningkat untuk mendukung pertumbuhan jaringan baru.

 

Membantu Menjaga Massa Otot

 

Protein membantu mempertahankan dan meningkatkan massa otot, terutama bila dikombinasikan dengan latihan kekuatan (strength training).

Hal ini penting bagi:

 

  • atlet,
  • orang dewasa,
  • lansia yang berisiko kehilangan massa otot (sarcopenia).

 

Membantu Penyembuhan Luka

 

Tubuh memerlukan protein untuk membentuk jaringan baru selama proses penyembuhan luka setelah operasi, cedera, maupun infeksi.

 

Membantu Memberikan Rasa Kenyang

 

Makanan tinggi protein cenderung memberikan rasa kenyang lebih lama dibandingkan makanan yang rendah protein.

Hal ini dapat membantu mengurangi asupan kalori secara keseluruhan apabila dikombinasikan dengan pola makan sehat.

 

Membantu Menjaga Kesehatan Tulang

 

Protein bekerja bersama kalsium  dan vitamin D  dalam menjaga kesehatan tulang.

Asupan protein yang cukup juga berperan dalam mempertahankan kekuatan otot sehingga membantu mengurangi risiko jatuh pada lansia.

 

Sumber Protein

 

Protein dapat diperoleh dari makanan hewani maupun nabati.

 

Sumber Protein Hewani

 

Contohnya:

 

  • daging sapi tanpa lemak,
  • daging ayam,
  • ikan,
  • telur,
  • susu,
  • yogurt,
  • keju,
  • makanan laut (seafood).

 

Protein hewani umumnya mengandung seluruh asam amino esensial sehingga disebut sebagai protein lengkap.

 

Sumber Protein Nabati

 

Beberapa sumber protein nabati meliputi:

 

  • tempe,
  • tahu,
  • kacang Kedelai ,
  • edamame,
  • kacang merah,
  • kacang hijau,
  • kacang tanah,
  • almond,
  • biji chia,
  • biji labu,
  • quinoa.

 

Mengombinasikan berbagai sumber protein nabati dapat membantu memenuhi kebutuhan asam amino esensial.

 

Apakah Protein Hewani Lebih Baik daripada Protein Nabati?

 

Keduanya memiliki manfaat bagi kesehatan.

Protein hewani umumnya mengandung seluruh asam amino esensial dan lebih mudah dicerna.

Sementara itu, protein nabati biasanya mengandung lebih banyak serat, vitamin, mineral, dan senyawa fitokimia yang bermanfaat bagi kesehatan.

Pola makan yang mengombinasikan sumber protein hewani dan nabati dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi secara lebih seimbang.

 

Kebutuhan Protein Harian, Kekurangan, dan Kelebihan Protein

 

Kebutuhan protein setiap orang tidak sama. Jumlah protein yang dibutuhkan dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, berat badan, tingkat aktivitas fisik , serta kondisi kesehatan tertentu, seperti kehamilan , menyusui, atau masa pemulihan setelah sakit. Mengonsumsi protein dalam jumlah yang cukup membantu menjaga fungsi tubuh tetap optimal, sedangkan asupan yang terlalu sedikit maupun berlebihan dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Oleh karena itu, penting untuk memenuhi kebutuhan protein sesuai anjuran dan memilih sumber protein yang sehat sebagai bagian dari pola makan seimbang.

 

Berapa Kebutuhan Protein Harian?

 

Kebutuhan protein dapat dihitung berdasarkan berat badan.

Secara umum, orang dewasa sehat memerlukan sekitar 0,8 gram protein per kilogram berat badan per hari.

 

Sebagai contoh:

 

  • berat badan 50 kg → sekitar 40 gram protein/hari,
  • berat badan 60 kg → sekitar 48 gram protein/hari,
  • berat badan 70 kg → sekitar 56 gram protein/hari,
  • berat badan 80 kg → sekitar 64 gram protein/hari.

 

Angka tersebut merupakan kebutuhan minimum untuk orang dewasa yang sehat dan memiliki aktivitas fisik ringan hingga sedang.

 

Kebutuhan Protein pada Kelompok Tertentu

 

Beberapa kelompok memerlukan asupan protein lebih tinggi dibandingkan orang dewasa sehat.

 

Anak-anak dan Remaja

 

Protein diperlukan untuk mendukung:

 

  • pertumbuhan,
  • perkembangan organ,
  • pembentukan otot,
  • perkembangan tulang.

 

Karena tubuh masih berada dalam masa pertumbuhan, kebutuhan protein per kilogram berat badan pada anak umumnya lebih tinggi dibandingkan orang dewasa.

Ibu Hamil

 

Selama kehamilan, protein diperlukan untuk:

 

  • pertumbuhan janin,
  • pembentukan plasenta,
  • peningkatan volume darah ibu,
  • perkembangan jaringan payudara dan Rahim .

 

Kebutuhan protein biasanya meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan.

 

Ibu Menyusui

 

Protein dibutuhkan untuk membantu produksi ASI dan memenuhi kebutuhan gizi ibu selama masa menyusui.

 

Lansia

 

Seiring bertambahnya usia, massa otot secara alami akan berkurang (sarcopenia).

Asupan protein yang cukup, disertai latihan kekuatan, dapat membantu mempertahankan massa dan kekuatan otot sehingga mengurangi risiko jatuh dan patah tulang.

 

Atlet dan Orang yang Aktif Berolahraga

 

Orang yang rutin melakukan latihan kekuatan atau olahraga intensitas tinggi biasanya membutuhkan protein lebih banyak untuk:

 

  • memperbaiki jaringan otot,
  • mendukung pertumbuhan otot,
  • mempercepat pemulihan setelah latihan.
  •  

Kebutuhan protein pada atlet dapat mencapai sekitar 1,2–2,0 gram per kilogram berat badan per hari, tergantung jenis olahraga, intensitas latihan, dan tujuan latihan.

 

Cara Memenuhi Kebutuhan Protein

 

Kebutuhan protein sebaiknya dipenuhi melalui makanan sehari-hari.

Beberapa tips yang dapat dilakukan antara lain:

 

  • mengonsumsi sumber protein pada setiap waktu makan,
  • memilih variasi protein hewani dan nabati,
  • mengutamakan sumber protein rendah lemak jenuh,
  • mengombinasikan protein dengan sayuran, buah, dan biji-bijian utuh.
  •  

Pola makan yang bervariasi membantu tubuh memperoleh berbagai asam amino, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan.

 

Tanda-Tanda Kekurangan Protein

 

Kekurangan protein dapat terjadi apabila asupan protein tidak mencukupi dalam waktu lama atau tubuh mengalami gangguan penyerapan nutrisi.

Gejala yang dapat muncul meliputi:

 

  • massa otot berkurang,
  • tubuh mudah lelah,
  • luka lebih lama sembuh,
  • rambut mudah rontok,
  • kuku rapuh,
  • kulit  menjadi kering,
  • mudah mengalami infeksi,
  • pembengkakan pada kaki atau wajah (edema) akibat kadar albumin yang rendah.

 

Pada anak-anak, kekurangan protein dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan.

 

Penyakit Akibat Kekurangan Protein

 

Kekurangan protein yang berat dapat menyebabkan Protein-Energy Malnutrition (PEM).

Dua bentuk utama yang dikenal adalah:

 

Kwashiorkor

 

Ditandai dengan:

 

  • pembengkakan tubuh (edema),
  • perut membuncit,
  • perubahan warna rambut,
  • gangguan pertumbuhan,
  • mudah terkena infeksi.

 

Kwashiorkor lebih sering terjadi pada anak-anak dengan asupan protein yang sangat rendah.

 

Marasmus

 

Marasmus terjadi akibat kekurangan energi dan protein yang berat.

Gejalanya meliputi:

 

  • berat badan sangat rendah,
  • otot menyusut,
  • lemak tubuh hampir tidak ada,
  • tubuh tampak sangat kurus,
  • kelemahan yang berat.

 

Kedua kondisi tersebut memerlukan penanganan medis dan perbaikan status gizi secara bertahap.

 

Apakah Terlalu Banyak Protein Berbahaya?

 

Pada orang sehat, konsumsi protein dalam jumlah tinggi umumnya masih dapat ditoleransi apabila berasal dari pola makan yang seimbang.

Namun, konsumsi protein yang berlebihan dalam jangka panjang dapat menimbulkan beberapa masalah, terutama bila tidak diimbangi asupan cairan dan makanan bergizi lainnya.

Risiko yang mungkin terjadi antara lain:

 

  • pola makan menjadi kurang seimbang karena mengurangi konsumsi buah, sayur, atau serat,
  • peningkatan asupan lemak jenuh apabila sumber protein didominasi daging berlemak,
  • peningkatan risiko Batu ginjal   pada orang yang memiliki faktor risiko tertentu,
  • memperberat gangguan fungsi ginjal  pada penderita penyakit Ginjal   kronis.

 

Hingga saat ini, belum ada bukti kuat bahwa konsumsi protein tinggi menyebabkan kerusakan ginjal pada orang yang memiliki fungsi ginjal normal. Namun, penderita Penyakit Ginjal   kronis perlu berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi mengenai jumlah protein yang sesuai.

 

Mitos dan Fakta tentang Protein

 

Mitos: Semakin Banyak Protein, Semakin Besar Otot

 

Fakta: Pertumbuhan otot tidak hanya bergantung pada protein, tetapi juga memerlukan latihan kekuatan, istirahat yang cukup, dan asupan energi yang memadai.

 

Mitos: Protein Hanya Dibutuhkan Atlet

 

Fakta: Semua orang membutuhkan protein setiap hari karena protein berperan dalam hampir seluruh fungsi tubuh.

 

Mitos: Protein Nabati Tidak Baik

 

Fakta: Protein nabati tetap merupakan sumber protein yang baik. Dengan mengonsumsi berbagai jenis makanan nabati, kebutuhan asam amino esensial tetap dapat terpenuhi.

 

Siapa yang Berisiko Mengalami Kekurangan Protein?

 

Beberapa kelompok yang lebih rentan mengalami kekurangan protein antara lain:

 

  • lansia,
  • penderita penyakit kronis,
  • penderita gangguan penyerapan nutrisi,
  • orang dengan gangguan makan,
  • penderita kanker,
  • orang yang menjalani diet sangat ketat tanpa perencanaan gizi yang baik,
  • anak-anak dengan status gizi buruk.

 

Pada kelompok tersebut, pemenuhan kebutuhan protein perlu mendapat perhatian khusus.

 

Cara Memenuhi Kebutuhan Protein, Suplemen Protein, dan Kapan Harus Berkonsultasi

Protein merupakan bagian penting dari pola makan sehat, tetapi manfaatnya akan lebih optimal apabila dikonsumsi dalam jumlah yang sesuai dan berasal dari sumber makanan yang beragam. Bagi sebagian besar orang sehat, kebutuhan protein dapat dipenuhi melalui makanan sehari-hari tanpa memerlukan suplemen. Selain memperhatikan jumlah protein, penting juga untuk memilih sumber protein yang rendah lemak jenuh, mengombinasikannya dengan sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian utuh, serta menerapkan gaya hidup aktif untuk mendukung kesehatan secara menyeluruh.

 

Cara Memenuhi Kebutuhan Protein Setiap Hari

 

Memenuhi kebutuhan protein tidak harus dilakukan dengan mengonsumsi satu jenis makanan saja.

Pola makan yang bervariasi justru membantu tubuh memperoleh berbagai zat gizi yang dibutuhkan.

Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:

 

  • mengonsumsi sumber protein pada setiap waktu makan,
  • mengombinasikan protein hewani dan nabati,
  • memilih metode memasak yang lebih sehat, seperti dikukus, direbus, atau dipanggang,
  • membatasi konsumsi daging olahan yang tinggi garam dan lemak jenuh,
  • menambahkan kacang-kacangan atau biji-bijian sebagai camilan sehat.

 

 

Memilih Sumber Protein yang Sehat

 

Tidak semua makanan tinggi protein memiliki nilai gizi yang sama.

Sumber protein yang dianjurkan meliputi:

 

  • ikan,
  • ayam tanpa kulit,
  • telur,
  • susu rendah lemak,
  • yogurt tanpa tambahan gula,
  • tempe,
  • tahu,
  • kacang-kacangan,
  • lentil,
  • edamame.

 

Sebaliknya, konsumsi daging olahan seperti sosis, nugget, dan daging asap sebaiknya dibatasi karena umumnya mengandung garam, lemak jenuh, dan bahan pengawet dalam jumlah lebih tinggi.

 

Apakah Suplemen Protein Diperlukan?

 

Bagi sebagian besar orang sehat, suplemen protein tidak diperlukan apabila kebutuhan protein sudah terpenuhi melalui makanan sehari-hari.

Namun, suplemen dapat dipertimbangkan pada kondisi tertentu, misalnya:

 

  • atlet dengan kebutuhan protein yang tinggi,
  • orang yang sulit memenuhi kebutuhan protein melalui makanan,
  • pasien dengan kondisi medis tertentu sesuai anjuran dokter atau ahli gizi,
  • lansia yang mengalami penurunan nafsu makan.

 

Penggunaan suplemen sebaiknya tidak menggantikan pola makan bergizi seimbang.

 

Apakah Diet Tinggi Protein Aman?

 

Diet tinggi protein dapat memberikan manfaat pada kondisi tertentu, misalnya untuk membantu mempertahankan massa otot atau menurunkan berat badan apabila dilakukan secara terencana.

Namun, diet tinggi protein sebaiknya tetap memperhatikan:

 

  • keseimbangan asupan karbohidrat dan lemak sehat,
  • kecukupan serat dari buah dan sayuran,
  • kebutuhan cairan,
  • kondisi kesehatan masing-masing individu.

 

Bagi penderita penyakit ginjal kronis, konsumsi protein dalam jumlah tinggi sebaiknya hanya dilakukan atas rekomendasi dokter atau ahli gizi.

 

Tips Menjaga Asupan Protein Tetap Seimbang

 

Beberapa langkah sederhana yang dapat diterapkan setiap hari antara lain:

 

  • mengonsumsi menu yang bervariasi,
  • memilih protein rendah lemak,
  • mengurangi makanan olahan,
  • memperbanyak sayuran dan buah,
  • mencukupi kebutuhan air putih,
  • tetap aktif berolahraga,
  • menyesuaikan jumlah protein dengan usia dan tingkat aktivitas.

 

Pola makan seimbang memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan hanya berfokus pada satu jenis zat gizi.

 

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter atau Ahli Gizi?

 

Sebaiknya berkonsultasi apabila:

 

  • mengalami Penurunan berat badan  tanpa sebab yang jelas,
  • sulit memenuhi kebutuhan protein karena penyakit tertentu,
  • memiliki penyakit ginjal atau hati,
  • ingin menjalani diet tinggi protein,
  • mengalami gangguan makan,
  • membutuhkan pengaturan pola makan selama kehamilan atau menyusui,
  • merupakan atlet yang memerlukan perencanaan gizi khusus.

 

Dokter atau ahli gizi dapat membantu menentukan kebutuhan protein yang sesuai berdasarkan kondisi kesehatan masing-masing.

 

Apakah Protein Bisa Menyebabkan Gangguan Ginjal?

 

Ini merupakan salah satu pertanyaan yang sering muncul.

Pada orang dengan fungsi ginjal normal, belum terdapat bukti kuat bahwa konsumsi protein dalam jumlah tinggi menyebabkan kerusakan ginjal.

Namun, pada penderita penyakit ginjal kronis, pembatasan asupan protein sering kali diperlukan untuk membantu mengurangi beban kerja ginjal. Oleh karena itu, jumlah protein yang dianjurkan harus disesuaikan dengan stadium penyakit dan rekomendasi tenaga kesehatan.

 

Ringkasan

 

Protein merupakan zat gizi makro yang berperan penting dalam membangun dan memperbaiki jaringan tubuh, membentuk enzim, hormon, serta antibodi, menjaga keseimbangan cairan, dan mendukung berbagai fungsi organ. Karena tubuh tidak memiliki cadangan protein khusus, kebutuhan protein harus dipenuhi setiap hari melalui makanan.

Sumber protein dapat berasal dari makanan hewani maupun nabati. Kebutuhan protein setiap orang berbeda-beda, tergantung usia, berat badan, tingkat aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan. Kekurangan protein dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, penurunan massa otot, serta melemahnya sistem kekebalan tubuh, sedangkan konsumsi protein berlebihan tidak selalu memberikan manfaat tambahan dan perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing.

Dengan menerapkan pola makan yang seimbang, memilih sumber protein yang sehat, serta menjalani gaya hidup aktif, kebutuhan protein harian umumnya dapat terpenuhi tanpa memerlukan suplemen.

 

FAQ

 

1.    Apa fungsi utama protein bagi tubuh?

 

Protein berfungsi untuk membangun dan memperbaiki jaringan tubuh, membentuk enzim, hormon, antibodi, mengangkut berbagai zat dalam darah, serta membantu menjaga fungsi organ dan sistem kekebalan tubuh.

 

2.    Berapa kebutuhan protein orang dewasa setiap hari?

 

Secara umum, orang dewasa sehat memerlukan sekitar 0,8 gram protein per kilogram berat badan per hari. Kebutuhan dapat meningkat pada atlet, ibu hamil, ibu menyusui, atau kondisi medis tertentu.

 

3.    Apakah protein nabati sama baiknya dengan protein hewani?

 

Ya. Protein nabati merupakan sumber protein yang baik. Dengan mengonsumsi berbagai jenis protein nabati, seperti tempe, tahu, kacang-kacangan, dan biji-bijian, kebutuhan asam amino esensial dapat terpenuhi sebagai bagian dari pola makan yang seimbang.

 

4.    Apakah semua orang membutuhkan suplemen protein?

 

Tidak. Sebagian besar orang dapat memenuhi kebutuhan protein melalui makanan sehari-hari. Suplemen umumnya hanya diperlukan pada kondisi tertentu berdasarkan anjuran dokter atau ahli gizi.

5.    Apakah makan terlalu banyak protein berbahaya?

 

Pada orang sehat, konsumsi protein yang lebih tinggi umumnya masih dapat ditoleransi apabila berasal dari pola makan yang seimbang. Namun, penderita penyakit ginjal kronis perlu berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi mengenai jumlah protein yang sesuai. Selain itu, konsumsi protein yang berlebihan hingga mengurangi asupan zat gizi lain juga tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan pola makan menjadi kurang seimbang.

 

 

Daftar Referensi

 

1.   https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/healthy-dietWorld Health Organization. Healthy Diet.

2.    https://ods.od.nih.gov/factsheets/Protein-HealthProfessional/National Institutes of Health – Office of Dietary Supplements. Protein – Health Professional Fact Sheet.

3.    Harvard T.H. Chan School of Public Health. The Nutrition Source – Protein.
https://www.hsph.harvard.edu/nutritionsource/what-should-you-eat/protein/

4.    MedlinePlus. Protein in Diet. U.S. National Library of Medicine.
https://medlineplus.gov/protein.html

5. https://www.myplate.gov/eat-healthy/protein-foodsU.S. Department of Agriculture. MyPlate – Protein Foods.

6.    Academy of Nutrition and Dietetics. Protein Foods.
https://www.eatright.org/food/vitamins-and-supplements/nutrient-rich-foods/protein-foods

7.  https://www.sportsnutritionsociety.org/International Society of Sports Nutrition. Position Stand: Protein and Exercise.

8.    Hormon: Jenis, Fungsi, dan Perannya dalam Menjaga Keseimbangan Tubuh

9. https://www.kidney.org/nutritionNational Kidney Foundation. Nutrition and Chronic Kidney Disease.

10.Mayo Clinic. Nutrition and Healthy Eating: Protein.
https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/nutrition-and-healthy-eating

 


 

Keranjang Anda

Keranjang anda kosong