Mohon tunggu...
gejala autoimun, penyebab autoimun, pengobatan autoimun, penyakit imun menyerang tubuh sendiri, jenis penyakit autoimun
Penyakit autoimun adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi kita dari kuman—justru menyerang sel-sel tubuh sendiri. Ada lebih dari 80 jenis penyakit autoimun, dan sebagian besar belum bisa disembuhkan sepenuhnya.
Tubuh manusia mempunyai kemampuan untuk melawan segala macam organisme pengganggu atau toksin yang cenderung merusak jaringan dan organ tubuh. Kemampuan itu disebut kekebalan atau imunitas. Imunitas sendiri merupakan sistem kekebalan tubuh untuk melawan antigen atau benda asing yang masuk ke dalam tubuh.
Sekitar 4 – 5% orang di dunia mengalami penyakit ini. Perempuan lebih sering terkena dibandingkan laki-laki. Beberapa penyakit autoimun bisa diturunkan dalam keluarga, sehingga faktor genetik berperan. Selain itu, faktor lingkungan seperti paparan bahan kimia atau infeksi juga bisa memicu. Gaya hidup seperti obesitas dan merokok dapat meningkatkan risiko.
Secara umum, penyakit autoimun dibagi menjadi dua jenis:
Spesifik organ: sistem imun menyerang satu organ tertentu. Contohnya penyakit Addison (menyerang kelenjar adrenal) dan myasthenia gravis (menyerang hubungan saraf dan otot).
Sistemik: sistem imun menyerang beberapa organ sekaligus. Contohnya lupus, yang bisa memengaruhi kulit , sendi, ginjal, dan organ lainnya.
Gejala Autoimun
Gejala penyakit autoimun bisa berbeda-beda tergantung jenisnya. Beberapa gejala umum penyakit autoimun meliputi:
Sakit perut dan gangguan pencernaan
Demam (suhu 38°C atau lebih)
Nyeri dan pembengkakan sendi
Gangguan pencernaan
Kelenjar yang membengkak
Tingkat keparahan juga bervariasi—ada yang ringan, ada yang lebih serius. Pada beberapa kondisi, gejala bisa tiba-tiba memburuk dalam periode tertentu, yang dikenal sebagai flare.
Apa penyebab kondisi autoimun?
Penyebab pasti kondisi autoimun sering kali tidak diketahui. Dalam beberapa kasus, penyakit ini bisa diturunkan dalam keluarga. Artinya, ada variasi GEN yang diwariskan dari orang tua ke anak. Namun, perubahan gen ini biasanya tidak langsung menyebabkan penyakit autoimun.
Faktor genetik hanya meningkatkan risiko. Biasanya, diperlukan pemicu dari luar agar penyakit muncul. Pemicu tersebut bisa berupa infeksi virus, reaksi terhadap obat tertentu, atau paparan lingkungan seperti asap rokok. Sayangnya, pemicu pastinya tidak selalu diketahui pada setiap orang. Selain itu, jika seseorang sudah memiliki satu penyakit autoimun, risikonya untuk mengalami penyakit autoimun lain juga bisa lebih tinggi.
Jenis Penyakit Autoimun
Ada beberapa jenis penyakit autoimun. Ini termasuk yang berikut.
Alopecia areata terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang folikel rambut dan menyebabkan kerontokan rambut.
Diabetes Tipe 1 sistem kekebalan tubuh menghancurkan sel-sel yang memproduksi insulin di pankreas.Kadar gula darah yang tinggi akibat diabetes tipe 1 dapat merusak Pembuluh darah dan organ-organ tubuh, seperti jantung, ginjal, mata, dan saraf.
PSORIASIS terjadi ketika sel-sel kulit berkembang biak terlalu cepat, menyebabkan kulit bersisik dan meradang.
Rheumatoid arthritis adalah jenis Arthritis yang mempengaruhi lapisan sendi dan dapat menyebabkan masalah medis di luar sendi.
Scleroderma menyebabkan bercak kulit yang kencang, keras, dan peradangan di area lain dari tubuh.
Penyakit Sjogren terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang kelenjar yang membuat kelembaban di mata, mulut, dan bagian tubuh lainnya.
Sistemik lupus erythematosus dapat mempengaruhi banyak bagian tubuh, termasuk kulit, sendi, jantung, paru-paru , ginjal , sel darah bersirkulasi, dan otak .
Vitiligo terjadi ketika sel-sel kulit yang membuat pigmen hancur menyebabkan bercak kulit kehilangan pigmen atau warna.
Faktor Risiko Penyakit Autoimun
Selain faktor genetik, risiko autoimun dapat meningkat pada perempuan usia produktif, perokok, penderita obesitas, individu dengan riwayat keluarga autoimun, paparan bahan kimia tertentu, infeksi tertentu, stres kronis, serta gangguan hormon.
Diagnosis Autoimun
Diagnosis autoimun biasanya memerlukan kombinasi wawancara medis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan darah seperti ANA, CRP, ESR, faktor reumatoid, pemeriksaan fungsi organ, serta pemeriksaan pencitraan bila diperlukan. Diagnosis dini penting untuk mencegah kerusakan organ permanen.
Pengobatan Autoimun
Penyakit autoimun belum bisa disembuhkan, tetapi tersedia berbagai perawatan untuk mengendalikan gejala. Jenis pengobatan tergantung pada penyakit dan kondisi masing-masing orang. Tujuan utamanya adalah mengurangi gejala dan mencegah kerusakan organ.
Tingkat keparahan penyakit bisa berbeda-beda. Ada yang ringan, ada juga yang membutuhkan perawatan jangka panjang. Meski begitu, banyak penderita tetap bisa hidup normal dan aktif.
Perawatan di rumah dapat membantu, seperti:
Olahraga teratur untuk mengurangi peradangan
Mengatur pola makan (misalnya diet khusus sesuai kondisi)
Berhenti merokok untuk kesehatan secara keseluruhan
Pola Makan dan Gaya Hidup untuk Penderita Autoimun
Pola makan seimbang yang kaya buah, sayur, protein tanpa lemak, ikan berlemak, serta makanan tinggi omega 3 dapat membantu mengurangi peradangan. Tidur yang cukup, olahraga teratur, pengelolaan stres, dan berhenti merokok juga sangat dianjurkan.
Pengobatan medis yang mungkin diberikan:
Obat antiinflamasi (NSAID) untuk nyeri dan peradangan
Kortikosteroid untuk menekan peradangan
DMARD untuk memperlambat perkembangan penyakit
Imunoglobulin untuk meningkatkan antibodi
Obat pengganti fungsi organ (misalnya insulin)
Obat imunosupresan untuk menekan sistem imun
Terapi antibodi monoklonal (misalnya inhibitor TNF)
Interaksi Obat yang Perlu Diperhatikan
Beberapa obat autoimun dapat berinteraksi dengan vaksin hidup, obat pengencer darah, NSAID tertentu, obat diabetes, serta beberapa antibiotik. Pasien harus selalu memberi tahu dokter dan apoteker mengenai seluruh obat, suplemen, dan produk herbal yang digunakan.
Komplikasi Penyakit Autoimun
Mengontrol gejala penyakit autoimun sangat penting untuk mencegah komplikasi serius. Jika tidak terkontrol, beberapa komplikasi yang bisa terjadi antara lain:
Neuropati (kerusakan saraf) Dapat menyebabkan kelemahan pada tangan atau kaki, serta mati rasa. Misalnya terjadi pada Rheumatoid Arthritis.
Kerusakan organ Penyakit autoimun tertentu bisa merusak organ penting. Contohnya Diabetes Tipe 1 yang dapat menyebabkan gagal ginjal .
Penyakit jantung Peradangan akibat reaksi imun bisa memicu penumpukan plak di Pembuluh darah (aterosklerosis), sehingga aliran darah ke jantung terganggu. Risiko ini dapat terjadi pada penderita Lupus, Psoriasis, dan Arthritis.
Gangguan suasana hati Gejala yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelelahan dan memengaruhi kesehatan mental, seperti depresi dan kecemasan .
Trombosis vena dalam (penggumpalan darah) Kondisi ini terjadi ketika darah menggumpal di pembuluh vena dalam. Risiko meningkat pada penderita Penyakit Crohn dan Kolitis Ulseratif. Jika tidak ditangani, gumpalan bisa berpindah ke paru-paru dan menyebabkan emboli paru.
FAQ Penyakit Autoimun
Apakah penyakit autoimun serius?
Hidup dengan penyakit autoimun seperti lupus, rheumatoid arthritis dan multiple sclerosis bisa rumit dan serius. Meskipun tidak ada obat untuk penyakit ini, banyak dari gejala mereka dapat diobati, dan kadang-kadang mereka masuk ke remisi. Tetap berhubungan dengan penyedia layanan kesehatan Anda tentang kemajuan dalam memahami dan mengobati penyakit autoimun.
Apakah autoimun dapat sembuh total?
Sebagian besar penyakit autoimun belum dapat disembuhkan total, namun gejalanya dapat dikendalikan.
Apakah penyakit autoimun menular?
Penyakit autoimun tidak menular sama sekali. Artinya, penyakit ini tidak bisa berpindah dari satu orang ke orang lain melalui kontak fisik, udara, makanan, atau cairan tubuh. Autoimun terjadi karena gangguan pada sistem kekebalan tubuh seseorang sendiri, bukan karena infeksi yang bisa menyebar. Jadi, berinteraksi dengan penderita autoimun aman dan tidak akan menyebabkan orang lain tertular penyakit yang sama.
Apakah penderita autoimun harus minum obat seumur hidup?
Tidak semua penderita autoimun harus minum obat seumur hidup, tetapi banyak kasus memang membutuhkan pengobatan jangka panjang. Hal ini karena penyakit autoimun bersifat kronis dan belum bisa disembuhkan sepenuhnya. Obat digunakan untuk mengontrol gejala, mencegah peradangan, dan melindungi organ tubuh agar tidak rusak. Pada beberapa orang, dosis obat bisa dikurangi jika kondisi sudah stabil, tetapi harus tetap dalam pengawasan dokter.
Apakah penyakit autoimun bisa kambuh setelah lama tidak muncul gejala?
Ya, penyakit autoimun bisa kambuh meskipun sebelumnya gejala sudah lama tidak muncul. Kondisi ini terjadi karena sistem kekebalan tubuh masih memiliki kecenderungan menyerang jaringan tubuh sendiri, sehingga penyakitnya bersifat kronis. Kekambuhan bisa dipicu oleh berbagai faktor seperti stres, infeksi, kurang tidur, perubahan hormon, atau paparan lingkungan tertentu. Saat kambuh, gejala bisa muncul kembali atau menjadi lebih berat, sehingga kondisi ini dikenal sebagai flare. Karena itu, meskipun sedang merasa sehat, penderita tetap perlu menjaga gaya hidup dan mengikuti anjuran dokter.
Apakah penderita autoimun boleh berolahraga?
Ya, olahraga ringan hingga sedang yang disesuaikan kondisi pasien umumnya dianjurkan.
Apakah semua penyakit autoimun berbahaya?
Tidak semua penyakit autoimun memiliki tingkat keparahan yang sama. Ada yang gejalanya ringan dan bisa dikendalikan dengan pengobatan sederhana, seperti vitiligo atau alopecia areata. Namun ada juga yang lebih serius, seperti lupus atau diabetes tipe 1, yang dapat memengaruhi banyak organ dan membutuhkan perawatan jangka panjang. Tingkat bahaya tergantung pada jenis penyakit, organ yang terkena, serta seberapa cepat penyakit tersebut ditangani.
Apakah stres dapat memperburuk autoimun?
Ya, stres berkepanjangan dapat memicu flare pada sebagian penderita.
Catatan dari Keapotek:
penyakit autoimun adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh justru menyerang sel tubuh sendiri, bukan kuman, dan dapat memengaruhi satu organ atau banyak organ sekaligus dengan gejala seperti kelelahan, nyeri sendi, Demam, serta gangguan pencernaan yang bisa muncul tiba-tiba (flare). Penyakit ini tidak menular, tetapi dapat dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan, infeksi, serta gaya hidup tidak sehat seperti merokok dan obesitas, dan lebih sering terjadi pada perempuan. Meskipun belum bisa disembuhkan, autoimun dapat dikendalikan melalui pengobatan medis dan pola hidup sehat agar tidak menimbulkan komplikasi serius seperti kerusakan organ, gangguan saraf, penyakit jantung, hingga gangguan mental, sehingga deteksi dini dan pengelolaan yang tepat sangat penting untuk menjaga kualitas hidup penderita.
Source:
https://pyfahealth.com/blog/ketahui-bahaya-penyakit-autoimun-dan-komplikasinya/
https://www.healthdirect.gov.au/autoimmune-diseases
Artritis dapat memperpendek rentang hidup? Simak Penjelasannya!
https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/21624-autoimmune-diseases