Please wait...

IMG-LOGO
Aug 20, 2026 | 88

Emboli

Emboli: Gejala, Penyebab, Diagnosis, Pengobatan, dan Cara Mencegahnya | Keapotek


Emboli adalah kondisi ketika aliran darah  tersumbat oleh suatu benda yang terbawa melalui Pembuluh darah, seperti bekuan darah, gelembung udara, lemak, atau partikel lainnya. Sumbatan ini dapat menghentikan aliran darah ke organ tertentu sehingga jaringan yang kekurangan oksigen dan nutrisi berisiko mengalami kerusakan. Tingkat keparahan emboli sangat bergantung pada lokasi penyumbatan, ukuran embolus, dan seberapa cepat kondisi tersebut ditangani.

Salah satu bentuk emboli yang paling sering terjadi adalah emboli paru (pulmonary embolism), yaitu penyumbatan arteri paru oleh bekuan darah yang umumnya berasal dari vena di tungkai atau panggul. Selain paru-paru, emboli juga dapat terjadi pada otak, jantung, ginjal , usus, atau organ lain. Dalam banyak kasus, emboli merupakan keadaan darurat medis yang memerlukan diagnosis dan pengobatan segera untuk mencegah komplikasi serius, termasuk kerusakan organ permanen atau kematian.

 

Apa Itu Emboli?

Emboli adalah penyumbatan pembuluh darah  oleh embolus, yaitu material yang bergerak melalui aliran darah dari satu bagian tubuh ke bagian lain hingga akhirnya tersangkut di pembuluh darah  yang lebih kecil.

Embolus dapat berupa:

 

  • bekuan darah,
  • gelembung udara atau gas,
  • tetesan lemak,
  • cairan ketuban,
  • kolesterol,
  • fragmen jaringan,
  • atau benda asing tertentu.

 

Ketika embolus menyumbat pembuluh darah, pasokan oksigen dan nutrisi ke jaringan akan terganggu. Jika tidak segera diatasi, jaringan tersebut dapat mengalami kerusakan bahkan kematian (infark).

 

Emboli dan Trombosis, Apa Bedanya?

 

Istilah emboli sering disamakan dengan trombosis, padahal keduanya memiliki arti yang berbeda.

Trombosis terjadi ketika bekuan darah (trombus) terbentuk dan tetap berada di lokasi asalnya sehingga menyumbat pembuluh darah di tempat tersebut.

Sebaliknya, emboli terjadi ketika suatu material, termasuk trombus yang terlepas, bergerak mengikuti aliran darah dan kemudian menyumbat pembuluh darah  di lokasi lain.

Sebagai contoh, bekuan darah yang terbentuk di vena tungkai disebut trombus. Jika bekuan tersebut terlepas, mengalir ke paru-paru, dan menyumbat arteri paru, kondisi tersebut disebut emboli paru.

 

 

 

Jenis-Jenis Emboli

 

Emboli dibedakan berdasarkan jenis material penyumbat maupun lokasi terjadinya.

 

1.    Emboli Paru (Pulmonary Embolism)

 

Ini merupakan jenis emboli yang paling sering ditemukan.

Emboli paru terjadi ketika bekuan darah menyumbat salah satu arteri di paru-paru. Sebagian besar kasus berasal dari trombosis vena dalam (deep vein thrombosis atau DVT) pada tungkai.

Gejalanya dapat berupa:

 

 

Kondisi ini merupakan keadaan darurat medis yang memerlukan penanganan segera.

2. Emboli Otak

 

Emboli yang menyumbat pembuluh darah  otak  dapat menyebabkan stroke iskemik.

Penyebab tersering adalah bekuan darah yang berasal dari jantung, misalnya pada penderita fibrilasi atrium.

Gejala dapat berupa:

 

  • kelemahan pada satu sisi tubuh,
  • sulit berbicara,
  • gangguan penglihatan,
  • penurunan kesadaran.

 

2.    Emboli Lemak (Fat Embolism)

 

Emboli lemak terjadi ketika tetesan lemak masuk ke aliran darah, biasanya setelah patah tulang panjang atau cedera berat.

Kondisi ini tergolong jarang, tetapi dapat menyebabkan gangguan pada paru-paru, otak, maupun organ lain.

 

3.    Emboli Udara (Air Embolism)

 

Emboli udara terjadi ketika gelembung udara masuk ke dalam pembuluh darah dan menghambat aliran darah.

Kondisi ini dapat terjadi akibat:

 

  • prosedur medis tertentu,
  • cedera,
  • penyelaman (decompression sickness).

 

Dalam jumlah kecil biasanya tidak menimbulkan masalah, tetapi gelembung udara yang besar dapat mengancam jiwa.

 

4.    Emboli Cairan Ketuban

 

Emboli cairan ketuban merupakan komplikasi kehamilan yang sangat jarang tetapi serius.

Kondisi ini terjadi ketika cairan ketuban masuk ke dalam sirkulasi darah ibu selama persalinan atau segera setelah melahirkan sehingga memicu reaksi yang berat.

 

Penyebab Emboli

 

Emboli dapat disebabkan oleh berbagai jenis material yang masuk atau berpindah di dalam aliran darah.

Beberapa penyebab utama meliputi:

 

1. Bekuan Darah

 

Bekuan darah merupakan penyebab emboli yang paling sering.

Bekuan ini dapat terbentuk akibat:

 

 

Ketika bekuan darah terlepas, embolus dapat bergerak menuju paru-paru, otak, atau organ lainnya.

 

2. Cedera atau Patah Tulang

 

Cedera berat, terutama patah tulang paha atau panggul, dapat menyebabkan lemak dari sumsum tulang masuk ke aliran darah dan menimbulkan emboli lemak.

 

3. Prosedur Medis

 

Beberapa prosedur medis, seperti pemasangan kateter vena sentral, operasi besar, atau tindakan bedah tertentu, dapat meningkatkan risiko masuknya udara ke dalam pembuluh darah atau terbentuknya bekuan darah.

 

5.    Kehamilan dan Persalinan

 

Walaupun sangat jarang, emboli cairan ketuban dapat terjadi saat persalinan atau segera setelah melahirkan dan memerlukan penanganan intensif.

 

Faktor Risiko Emboli

 

Beberapa kondisi dapat meningkatkan risiko terjadinya emboli, terutama emboli akibat bekuan darah.

Faktor risiko tersebut antara lain:

 

  • usia lanjut,
  • imobilisasi dalam waktu lama (misalnya tirah baring atau perjalanan jauh),
  • operasi besar,
  • cedera berat,
  • kehamilan dan masa nifas,
  • obesitas,
  • merokok,
  • kanker,
  • penggunaan terapi hormon  atau pil kontrasepsi yang mengandung estrogen,
  • riwayat trombosis vena dalam atau emboli sebelumnya,
  • gangguan pembekuan darah bawaan.

 

Semakin banyak faktor risiko yang dimiliki seseorang, semakin tinggi pula kemungkinan terjadinya emboli.

 

Gejala Emboli, Diagnosis, dan Pemeriksaan

 

Gejala emboli bergantung pada lokasi pembuluh darah yang tersumbat, ukuran embolus, dan seberapa besar aliran darah yang terhambat. Pada beberapa kasus, emboli dapat menimbulkan gejala ringan, tetapi pada kondisi lain dapat berkembang sangat cepat menjadi keadaan darurat medis. Oleh karena itu, mengenali tanda-tanda emboli sejak dini sangat penting agar penanganan dapat segera diberikan dan risiko kerusakan organ dapat diminimalkan.

 

Gejala Emboli

Secara umum, emboli dapat menimbulkan gejala seperti:

 

  • nyeri mendadak,
  • sesak napas,
  • jantung berdebar,
  • kulit pucat atau kebiruan,
  • mati rasa,
  • kelemahan pada anggota tubuh,
  • penurunan kesadaran,
  • gangguan fungsi organ tertentu.

 

Namun, gejala yang muncul sangat dipengaruhi oleh organ yang mengalami penyumbatan.

 

Gejala Berdasarkan Lokasi Emboli

 

Emboli Paru (Pulmonary Embolism)

Emboli paru merupakan salah satu bentuk emboli yang paling sering dijumpai dan dapat mengancam jiwa.

Gejala yang umum meliputi:

 

  • sesak napas yang muncul secara tiba-tiba,
  • nyeri dada yang bertambah saat menarik napas dalam,
  • batuk,
  • batuk berdarah (hemoptisis),
  • denyut jantung cepat,
  • napas cepat,
  • pusing  atau hampir pingsan.

 

Pada emboli paru yang besar, penderita dapat mengalami Tekanan darah   turun hingga syok.

 

Emboli Otak

 

Apabila embolus menyumbat Pembuluh darah  otak, kondisi ini dapat menyebabkan stroke iskemik.

Gejalanya dapat berupa:

 

  • kelemahan atau mati rasa pada satu sisi tubuh,
  • wajah tampak mencong,
  • sulit berbicara atau memahami pembicaraan,
  • gangguan penglihatan,
  • kehilangan keseimbangan,
  • sakit kepala mendadak,
  • penurunan kesadaran.

 

Gejala stroke akibat emboli biasanya muncul secara mendadak dan memerlukan penanganan secepat mungkin.

Emboli pada Tungkai

 

Bila embolus menyumbat arteri di tungkai, aliran darah ke jaringan akan berkurang.

Gejala yang dapat muncul meliputi:

 

  • nyeri hebat pada tungkai,
  • kaki terasa dingin,
  • kulit pucat,
  • mati rasa,
  • denyut nadi pada kaki sulit diraba,
  • kelemahan hingga sulit menggerakkan tungkai.

 

Tanpa penanganan segera, jaringan dapat mengalami kerusakan permanen akibat kekurangan oksigen.

 

Emboli Ginjal

 

Emboli yang menyumbat arteri ginjal  dapat menyebabkan:

 

  • nyeri hebat di pinggang atau perut bagian samping,
  • darah dalam urine ,
  • tekanan darah meningkat,
  • penurunan fungsi ginjal.

 

Karena gejalanya sering menyerupai Batu ginjal   , pemeriksaan pencitraan biasanya diperlukan untuk memastikan diagnosis.

 

Emboli Mesenterika (Usus)

 

Penyumbatan pembuluh darah usus dapat menyebabkan berkurangnya pasokan darah ke saluran cerna.

Gejalanya meliputi:

 

 

Kondisi ini merupakan kegawatdaruratan karena dapat menyebabkan kematian jaringan usus apabila tidak segera ditangani.

 

Tanda Bahaya yang Memerlukan Penanganan Darurat

 

Segera cari pertolongan medis apabila muncul gejala berikut:

 

  • sesak napas yang muncul mendadak,
  • nyeri dada hebat,
  • batuk darah,
  • kehilangan kesadaran,
  • kelemahan pada satu sisi tubuh,
  • sulit berbicara,
  • wajah mencong,
  • nyeri hebat pada tungkai yang disertai kulit pucat atau dingin,
  • nyeri perut hebat yang muncul tiba-tiba.

 

Gejala-gejala tersebut dapat menunjukkan emboli yang mengancam jiwa dan memerlukan penanganan segera.

 

Bagaimana Dokter Menegakkan Diagnosis?

 

Diagnosis emboli dilakukan berdasarkan kombinasi gejala, pemeriksaan fisik, faktor risiko, serta pemeriksaan penunjang.

Dokter biasanya akan menanyakan:

 

  • kapan gejala mulai muncul,
  • apakah gejala muncul secara tiba-tiba,
  • riwayat operasi atau rawat inap,
  • riwayat perjalanan jauh,
  • riwayat trombosis vena dalam,
  • penggunaan kontrasepsi hormonal,
  • riwayat kanker,
  • riwayat emboli sebelumnya.

 

Informasi tersebut membantu dokter memperkirakan kemungkinan terjadinya emboli.

 

Pemeriksaan Fisik

 

Selama pemeriksaan fisik, dokter akan menilai:

 

  • tekanan darah,
  • denyut jantung,
  • frekuensi napas,
  • kadar oksigen dalam darah,
  • suhu tubuh,
  • warna kulit,
  • pembengkakan pada tungkai,
  • tanda-tanda gangguan saraf.

 

Temuan ini membantu menentukan tingkat keparahan kondisi pasien dan pemeriksaan lanjutan yang diperlukan.

 

Pemeriksaan Penunjang

 

Tes D-Dimer

 

D-dimer adalah pemeriksaan darah yang digunakan untuk membantu menyingkirkan kemungkinan adanya pembekuan darah.

Kadar D-dimer yang meningkat dapat ditemukan pada emboli, tetapi hasil ini tidak spesifik karena juga dapat meningkat pada berbagai kondisi lain.

 

CT Pulmonary Angiography (CTPA)

 

CTPA merupakan pemeriksaan utama untuk mendiagnosis emboli paru.

Pemeriksaan ini menggunakan CT scan  dengan zat kontras untuk memperlihatkan pembuluh darah paru sehingga lokasi penyumbatan dapat terlihat dengan jelas.

 

USG Doppler

 

USG  Doppler sering digunakan untuk mendeteksi trombosis vena dalam (Deep Vein Thrombosis/DVT) pada tungkai, yang merupakan sumber emboli paru pada sebagian besar kasus.

Pemeriksaan ini dapat menunjukkan adanya gangguan aliran darah atau bekuan di dalam vena.

 

Elektrokardiogram (EKG)

 

EKG dilakukan untuk mengevaluasi aktivitas listrik jantung dan membantu menyingkirkan penyebab lain dari nyeri dada atau sesak napas, seperti serangan jantung.

Meskipun tidak dapat memastikan diagnosis emboli paru, hasil EKG dapat memberikan petunjuk mengenai beban pada jantung akibat penyumbatan di paru.

 

Ekokardiografi

 

Pada pasien dengan emboli paru berat, ekokardiografi dapat digunakan untuk menilai fungsi jantung kanan dan mendeteksi dampak penyumbatan terhadap sirkulasi darah.

 

Kondisi yang Memiliki Gejala Mirip Emboli

 

Beberapa penyakit lain dapat menimbulkan gejala yang menyerupai emboli sehingga perlu dibedakan melalui pemeriksaan medis.

Di antaranya:

 

 

Karena gejalanya sering tumpang tindih, diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan keluhan pasien. Pemeriksaan laboratorium dan pencitraan sangat penting untuk memastikan penyebabnya.

 

Pengobatan Emboli, Pencegahan, dan Kapan Harus ke Dokter

 

Emboli merupakan kondisi medis yang memerlukan penanganan segera karena dapat menghambat aliran darah ke organ penting. Tujuan utama pengobatan adalah mengembalikan aliran darah, mencegah pembentukan embolus baru, serta mengurangi risiko komplikasi seperti kerusakan organ permanen atau kematian. Jenis terapi yang diberikan akan disesuaikan dengan lokasi emboli, ukuran sumbatan, kondisi pasien, dan penyebab yang mendasarinya.

 

Pengobatan Emboli

 

Penanganan emboli dapat melibatkan obat-obatan, tindakan medis, hingga operasi pada kondisi tertentu.

 

1.    Obat Antikoagulan

 

Antikoagulan atau "obat pengencer darah" merupakan terapi utama pada sebagian besar kasus emboli akibat bekuan darah.

Obat ini tidak melarutkan bekuan darah yang sudah terbentuk, tetapi membantu:

 

  • mencegah bekuan bertambah besar,
  • mencegah terbentuknya bekuan baru,
  • memberi waktu bagi tubuh untuk menghancurkan bekuan secara alami.

 

Beberapa antikoagulan yang sering digunakan antara lain:

 

  • heparin,
  • enoxaparin,
  • warfarin,
  • apixaban,
  • rivaroxaban,
  • dabigatran,
  • edoxaban.

 

Lama pengobatan bergantung pada penyebab emboli dan dapat berlangsung selama beberapa bulan atau lebih lama pada pasien dengan risiko kekambuhan yang tinggi.

 

2.    Obat Trombolitik

 

Pada emboli yang berat dan mengancam jiwa, dokter dapat memberikan obat trombolitik (clot-busting drugs).

Obat ini bekerja dengan melarutkan bekuan darah secara lebih cepat.

Contohnya adalah:

 

  • alteplase,
  • tenecteplase (pada indikasi tertentu).

 

Karena meningkatkan risiko perdarahan serius, trombolitik hanya diberikan pada kondisi tertentu dan di bawah pengawasan ketat.

 

3.    Tindakan Kateter

 

Pada beberapa pasien, terutama bila trombolitik tidak dapat diberikan atau tidak berhasil, dokter dapat melakukan tindakan menggunakan kateter.

Prosedur ini bertujuan untuk:

 

  • menghancurkan bekuan darah,
  • menyedot bekuan,
  • atau memberikan obat langsung ke lokasi sumbatan.

 

Tindakan ini dilakukan oleh dokter yang memiliki keahlian dalam radiologi intervensi atau kardiologi intervensi.

 

4.    Operasi (Embolektomi)

 

Apabila penyumbatan sangat besar atau kondisi pasien memburuk, operasi pengangkatan embolus (embolektomi) dapat menjadi pilihan.

Meskipun jarang dilakukan, tindakan ini dapat menyelamatkan nyawa pada kasus emboli yang tidak dapat ditangani dengan metode lain.

 

5.    Pemasangan Vena Cava Filter

 

Pada pasien yang tidak dapat menggunakan obat antikoagulan atau tetap mengalami emboli meskipun sudah menjalani pengobatan, dokter dapat mempertimbangkan pemasangan inferior vena cava (IVC) filter.

Alat ini dipasang di vena cava inferior untuk menangkap bekuan darah dari tungkai sebelum mencapai paru-paru.

Namun, pemasangan IVC filter hanya dilakukan pada indikasi tertentu dan bukan terapi rutin.

 

Perawatan Selama Masa Pemulihan

 

Setelah kondisi stabil, pasien tetap memerlukan pemantauan dan pengobatan sesuai anjuran dokter.

Hal-hal yang biasanya dianjurkan meliputi:

 

  • mengonsumsi obat sesuai jadwal,
  • kontrol rutin untuk memantau respons terapi,
  • menjaga aktivitas fisik sesuai kemampuan,
  • menghindari duduk atau berbaring terlalu lama,
  • menggunakan stoking kompresi bila dianjurkan,
  • memperhatikan tanda-tanda perdarahan saat menggunakan antikoagulan.

 

Kepatuhan terhadap pengobatan sangat penting untuk menurunkan risiko kekambuhan.

 

Komplikasi Emboli

 

Apabila tidak segera ditangani, emboli dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius.

Komplikasi yang mungkin terjadi antara lain:

 

  • kerusakan permanen pada paru-paru,
  • hipertensi pulmonal tromboembolik kronis (chronic thromboembolic pulmonary hypertension/CTEPH),
  • stroke,
  • gagal jantung  kanan,
  • kerusakan Ginjal ,
  • kematian jaringan pada tungkai,
  • Gagal organ ,
  • kematian.

 

Risiko komplikasi meningkat apabila diagnosis dan pengobatan terlambat.

 

Cara Mencegah Emboli

 

Tidak semua kasus emboli dapat dicegah. Namun, beberapa langkah berikut dapat membantu menurunkan risikonya, terutama pada orang yang memiliki faktor risiko pembekuan darah.

 

Tetap Aktif Bergerak

 

Duduk atau berbaring terlalu lama dapat memperlambat aliran darah di tungkai.

Apabila harus duduk dalam perjalanan jauh, usahakan:

 

  • berjalan setiap 1–2 jam,
  • menggerakkan pergelangan kaki,
  • melakukan peregangan ringan.

 

Menjaga Berat Badan Ideal

 

Obesitas meningkatkan risiko terbentuknya bekuan darah.

Mengonsumsi makanan bergizi dan rutin berolahraga membantu menjaga berat badan sekaligus meningkatkan kesehatan Pembuluh darah.

 

Berhenti Merokok

 

Merokok meningkatkan risiko pembekuan darah dan berbagai penyakit kardiovaskular.

Berhenti merokok merupakan salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko emboli.

 

Menggunakan Obat Sesuai Anjuran

 

Pada pasien dengan risiko tinggi, seperti setelah operasi besar atau memiliki riwayat trombosis vena dalam, dokter mungkin meresepkan antikoagulan sebagai pencegahan.

Obat harus digunakan sesuai petunjuk dan tidak boleh dihentikan tanpa berkonsultasi dengan dokter.

 

Mengelola Penyakit yang Mendasari

 

Mengontrol penyakit seperti:

 

  • fibrilasi atrium,
  • gagal jantung,
  • kanker,
  • gangguan pembekuan darah,

 

dapat membantu menurunkan risiko terjadinya emboli.

 

Kapan Harus ke Dokter?

 

Segera konsultasikan dengan dokter apabila mengalami:

 

  • bengkak dan nyeri pada salah satu tungkai,
  • Sesak napas yang sering kambuh,
  • nyeri dada yang belum diketahui penyebabnya,
  • batuk darah,
  • jantung berdebar tanpa sebab yang jelas,
  • memiliki riwayat emboli dan muncul gejala baru.

 

Pemeriksaan dini dapat membantu mencegah komplikasi yang lebih serius.

 

Kapan Harus ke IGD?

 

Segera cari pertolongan medis darurat apabila mengalami:

 

  • sesak napas mendadak yang berat,
  • nyeri dada hebat,
  • batuk darah,
  • pingsan,
  • bibir atau kuku membiru,
  • kelemahan mendadak pada satu sisi tubuh,
  • sulit berbicara,
  • kehilangan penglihatan secara tiba-tiba,
  • nyeri hebat dan perubahan warna pada tungkai.

 

Gejala-gejala tersebut dapat menandakan emboli yang mengancam jiwa dan memerlukan penanganan segera.

 

Ringkasan

 

Emboli adalah penyumbatan pembuluh darah oleh material yang terbawa melalui aliran darah, paling sering berupa bekuan darah. Kondisi ini dapat terjadi di berbagai organ, seperti paru-paru, otak, tungkai, ginjal, atau usus, dan dapat menyebabkan kerusakan jaringan apabila tidak segera ditangani.

Diagnosis emboli dilakukan melalui evaluasi gejala, pemeriksaan fisik, tes darah, serta pemeriksaan pencitraan seperti CT pulmonary angiography (CTPA), USG  Doppler, atau ekokardiografi sesuai lokasi yang dicurigai. Pengobatan meliputi antikoagulan, trombolitik, tindakan kateter, hingga operasi pada kasus tertentu.

Risiko emboli dapat dikurangi dengan tetap aktif bergerak, berhenti merokok, menjaga berat badan ideal, serta mengikuti pengobatan sesuai anjuran dokter. Bila muncul gejala seperti sesak napas mendadak, nyeri dada, batuk darah, atau tanda-tanda stroke, segera cari pertolongan medis karena kondisi tersebut merupakan keadaan darurat.

 

FAQ

 

1.    Apakah emboli sama dengan trombosis?

 

Tidak. Trombosis adalah pembentukan bekuan darah yang tetap berada di lokasi asalnya, sedangkan emboli terjadi ketika bekuan atau material lain berpindah melalui aliran darah dan menyumbat pembuluh darah di tempat lain.

 

2.    Apakah emboli bisa disembuhkan?

 

Ya. Dengan diagnosis dan pengobatan yang cepat, banyak kasus emboli dapat ditangani dengan baik. Namun, keberhasilan terapi bergantung pada lokasi penyumbatan, ukuran embolus, dan seberapa cepat pengobatan dimulai.

 

3.    Siapa yang berisiko mengalami emboli?

 

Risiko lebih tinggi pada orang yang memiliki trombosis vena dalam (DVT), menjalani operasi besar, mengalami imobilisasi dalam waktu lama, menderita kanker, Obesitas  , hamil , merokok, atau memiliki gangguan pembekuan darah.

 

4.    Apakah emboli selalu berasal dari bekuan darah?

 

Tidak. Meskipun paling sering disebabkan oleh bekuan darah, emboli juga dapat berasal dari lemak, gelembung udara, cairan ketuban, kolesterol, atau material lain yang masuk ke dalam aliran darah.

 

5.    Bisakah emboli kambuh?

 

Ya. Seseorang yang pernah mengalami emboli memiliki risiko lebih tinggi mengalami kekambuhan, terutama bila faktor risikonya belum teratasi. Oleh karena itu, penting untuk mengikuti pengobatan, kontrol rutin, dan menerapkan langkah-langkah pencegahan sesuai anjuran dokter.

 

Daftar Referensi

1.    Cleveland Clinic. Embolism: Types, Causes, Symptoms & Treatment.
https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/22383-embolism

2.    https://www.nhlbi.nih.gov/health/pulmonary-embolismNational Heart, Lung, and Blood Institute. Pulmonary Embolism.

3.    https://www.cdc.gov/blood-clots/about/Centers for Disease Control and Prevention. About Venous Thromboembolism (Blood Clots).

4.    MedlinePlus. Pulmonary Embolism.
https://medlineplus.gov/pulmonaryembolism.html

5.    MSD Manuals Consumer Version. Embolism and Acute Arterial Occlusion.
https://www.msdmanuals.com/home/heart-and-blood-vessel-disorders/peripheral-arterial-disease/embolism-and-acute-arterial-occlusion

6.    Merck Manual Professional Edition. Arterial Gas Embolism.
https://www.merckmanuals.com/professional/injuries-poisoning/diving-and-compressed-air-injuries/arterial-gas-embolism

7.    https://www.heart.org/en/health-topics/venous-thromboembolism/pulmonary-embolismAmerican Heart Association. Pulmonary Embolism.

8.    American Stroke Association. About Stroke.
https://www.stroke.org/en/about-stroke

9.    Darah: Fungsi, Komponen, Proses Pembentukan, Gangguan, dan Cara Menjaga Kesehatannya | Keapotek

10.                       RadiologyInfo.org (RSNA & American College of Radiology). CT Pulmonary Angiography (CTPA).
https://www.radiologyinfo.org/en/info/angiocoroct

 



 

Your Cart

Your basket is empty