Mohon tunggu...
Laktasi: Pengertian, Proses Produksi ASI, Tahapan, Manfaat, dan Cara Menjaga Produksi ASI | Keapotek
Laktasi adalah proses tubuh dalam memproduksi dan mengeluarkan ASI melalui kelenjar payudara. Proses ini terutama dikendalikan oleh perubahan hormonal selama kehamilan dan setelah persalinan. Laktasi dimulai selama kehamilan ketika payudara mulai mempersiapkan diri untuk menghasilkan ASI dan dapat terus berlangsung selama ASI masih dikeluarkan dari payudara.
Laktasi berbeda dengan menyusui. Laktasi mengacu pada proses pembentukan dan pengeluaran ASI, sedangkan menyusui merupakan proses pemberian ASI secara langsung kepada bayi dari payudara. ASI juga dapat dikeluarkan dengan tangan atau pompa dan diberikan kepada bayi menggunakan wadah lain.
Anatomi Payudara dalam Proses Laktasi
Payudara memiliki struktur khusus yang memungkinkan tubuh menghasilkan, menyimpan, dan mengalirkan ASI. Bagian utama yang berperan adalah alveolus, lobulus, saluran ASI, areola, dan puting.
Alveolus merupakan kantung-kantung kecil yang menghasilkan dan menyimpan ASI. Sekumpulan alveolus membentuk lobulus, sedangkan saluran ASI membawa ASI dari lobulus menuju puting. Areola memiliki ujung saraf yang berperan dalam menerima rangsangan ketika bayi mengisap payudara.
Secara sederhana, prosesnya dapat digambarkan sebagai berikut:
Alveolus → saluran ASI → puting → bayi
Rangsangan pada puting kemudian mengirimkan sinyal ke otak untuk mengatur pelepasan hormon yang berperan dalam produksi dan pengeluaran ASI.
Proses Produksi ASI
Produksi ASI merupakan proses hormonal yang disebut laktogenesis. Proses ini dimulai selama kehamilan dan mengalami perubahan penting setelah bayi serta plasenta lahir.
Pada awal kehamilan, peningkatan hormon estrogen dan progesteron membantu mengembangkan saluran ASI dan jaringan kelenjar payudara. Tubuh juga mulai membentuk kolostrum, yaitu ASI pertama yang akan menjadi makanan bayi setelah lahir.
Setelah plasenta keluar, kadar estrogen dan progesteron turun secara drastis. Kondisi ini memungkinkan hormon prolaktin bekerja lebih aktif untuk merangsang produksi ASI. Produksi ASI kemudian meningkat dalam beberapa hari pertama setelah persalinan.
Tahapan Laktasi
Proses laktogenesis dapat dibagi menjadi tiga tahap utama. Setiap tahap menggambarkan perubahan yang terjadi sejak kehamilan hingga produksi ASI berlangsung secara berkelanjutan.
1. Laktogenesis Tahap I
Tahap pertama dimulai sekitar minggu ke-16 kehamilan dan berlangsung hingga beberapa hari setelah melahirkan. Pada tahap ini, estrogen dan progesteron membantu pertumbuhan saluran ASI dan jaringan kelenjar payudara. Payudara mulai mempersiapkan diri untuk produksi ASI dan tubuh mulai menghasilkan kolostrum.
Kolostrum merupakan ASI pertama yang kaya protein, mineral, vitamin, dan antibodi. Karena kandungannya yang kaya zat penting bagi bayi, kolostrum sering disebut sebagai makanan pertama bayi.
2. Laktogenesis Tahap II
Tahap kedua dimulai sekitar dua hingga tiga hari setelah melahirkan. Pada periode ini, produksi ASI meningkat secara lebih signifikan.
Setelah plasenta keluar, kadar estrogen dan progesteron turun sehingga prolaktin dapat bekerja lebih dominan. Ibu dapat merasakan payudara menjadi lebih penuh, keras, atau bahkan terasa nyeri akibat peningkatan produksi ASI.
3. Laktogenesis Tahap III
Tahap ketiga merupakan periode ketika laktasi berlangsung secara berkelanjutan. Produksi ASI terutama dipengaruhi oleh prinsip supply and demand.
Semakin sering ASI dikeluarkan melalui menyusui atau pemerahan, semakin banyak sinyal yang diterima tubuh untuk menghasilkan ASI kembali. Sebaliknya, berkurangnya pengeluaran ASI dapat menyebabkan produksi secara bertahap menurun.
Hormon yang Berperan dalam Laktasi
Produksi dan pengeluaran ASI dikendalikan oleh beberapa hormon. Dua hormon yang memiliki peran utama adalah prolaktin dan oksitosin.
Prolaktin merupakan hormon yang merangsang produksi ASI di alveolus payudara. Selama kehamilan, kadar prolaktin sudah meningkat, tetapi efeknya terhadap produksi ASI masih dipengaruhi oleh tingginya estrogen dan progesteron.
Setelah plasenta lahir dan kadar kedua hormon tersebut menurun, prolaktin dapat menjalankan perannya secara lebih efektif dalam produksi ASI.
Oksitosin berperan dalam pengeluaran ASI atau let-down reflex. Ketika bayi mengisap puting, rangsangan saraf menyebabkan otak melepaskan oksitosin.
Oksitosin kemudian menyebabkan kontraksi sel otot di sekitar alveolus sehingga ASI terdorong keluar menuju saluran ASI dan puting.
Refleks Let-Down
Refleks let-down adalah proses ketika ASI mulai mengalir keluar dari alveolus menuju saluran ASI setelah adanya rangsangan menyusui.
Rangsangan hisapan bayi menyebabkan pelepasan oksitosin. Hormon tersebut membuat otot di sekitar alveolus berkontraksi sehingga ASI terdorong keluar. refleks pengeluaran ASI dapat terjadi sekitar 30 detik setelah bayi mulai mengisap, meskipun pengalaman setiap ibu dapat berbeda. ASI yang keluar akibat refleks ini juga dapat menyebabkan ASI menetes dari payudara lainnya karena pelepasan hormon terjadi secara sistemik.
Kolostrum
Kolostrum adalah ASI pertama yang diproduksi selama periode awal laktasi. Kolostrum biasanya lebih kental dan berwarna kekuningan dibandingkan ASI berikutnya.
Meskipun jumlahnya relatif sedikit, kolostrum mengandung protein, mineral, vitamin, dan antibodi. Oleh karena itu, jumlah kolostrum yang sedikit pada hari-hari pertama tidak selalu menunjukkan bahwa produksi ASI ibu tidak mencukupi.
Produksi ASI Mulai Meningkat
Produksi ASI biasanya meningkat secara nyata sekitar dua hingga tiga hari setelah persalinan. Perubahan ini terjadi karena setelah plasenta keluar, kadar estrogen dan progesteron turun sehingga prolaktin dapat lebih aktif merangsang produksi ASI.
Pada masa awal setelah melahirkan, payudara dapat terasa lebih penuh, keras, atau sensitif. Kondisi tersebut dapat terjadi ketika produksi ASI mulai meningkat.
Prinsip Supply and Demand dalam Produksi ASI
Produksi ASI mengikuti prinsip supply and demand, yaitu tubuh menyesuaikan produksi berdasarkan seberapa sering ASI dikeluarkan.
Ketika bayi sering menyusu atau ibu rutin memerah ASI, rangsangan tersebut memberi sinyal kepada tubuh untuk mempertahankan atau meningkatkan produksi. Cleveland Clinic menjelaskan bahwa selama ASI terus dikeluarkan dari payudara, tubuh akan terus mendapatkan rangsangan untuk memproduksinya. Prinsip ini juga berarti bahwa ketika frekuensi menyusui atau pemerahan dikurangi, produksi ASI dapat berkurang secara bertahap.
Manfaat ASI bagi Bayi
ASI menyediakan nutrisi yang dibutuhkan bayi pada periode awal kehidupannya dan mengandung berbagai komponen yang mendukung sistem kekebalan tubuh.
WHO merekomendasikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan. Setelah usia enam bulan, makanan pendamping yang aman dan bergizi mulai diberikan sambil melanjutkan menyusui hingga usia dua tahun atau lebih.
ASI juga memberikan perlindungan terhadap sejumlah penyakit infeksi pada bayi, termasuk diare dan beberapa penyakit infeksi saluran pernapasan.
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Menyusui tidak hanya memberikan manfaat bagi bayi, tetapi juga berkaitan dengan sejumlah manfaat kesehatan bagi ibu. Menyusui dikaitkan dengan penurunan risiko beberapa penyakit, termasuk kanker payudara, kanker Ovarium, diabetes tipe 2, dan tekanan darah tinggi.
Selain itu, hormon oksitosin yang dilepaskan selama menyusui membantu kontraksi rahim setelah persalinan. Proses tersebut merupakan bagian dari pemulihan tubuh setelah melahirkan.
Laktasi dan Menstruasi
Laktasi dapat menyebabkan Menstruasi tidak muncul untuk sementara waktu, suatu kondisi yang disebut amenore laktasi.
Prolaktin yang berperan dalam produksi ASI dapat menekan hormon luteinizing hormone (LH), yang diperlukan dalam proses ovulasi. Akibatnya, ovulasi dapat tertunda selama masa menyusui. Namun, lamanya menstruasi tidak muncul berbeda pada setiap ibu.
Penting: tidak mengalami menstruasi selama menyusui tidak selalu berarti seseorang tidak dapat hamil. Metode amenore laktasi sebagai kontrasepsi memiliki persyaratan tertentu dan perlu dipahami dengan benar.
Cara Menjaga Produksi ASI
Menjaga produksi ASI terutama berkaitan dengan mempertahankan stimulasi dan pengeluaran ASI secara teratur. Selain itu, kondisi kesehatan dan pola hidup ibu juga perlu diperhatikan.
1. Menyusui Sesuai Kebutuhan Bayi
Menyusui secara langsung sesuai kebutuhan bayi memberikan stimulasi yang membantu mempertahankan produksi ASI. Semakin sering bayi menyusu secara efektif, semakin sering tubuh menerima sinyal untuk memproduksi ASI.
2. Memerah ASI Secara Teratur
Apabila bayi tidak dapat menyusu langsung atau ibu sedang tidak bersama bayi, ASI dapat dikeluarkan menggunakan pompa atau dengan tangan. Pengeluaran ASI secara rutin membantu mempertahankan prinsip supply and demand.
3. Konsumsi Makanan Bergizi
Ibu menyusui perlu mendapatkan asupan makanan yang cukup dan beragam. Cleveland Clinic menyarankan pola makan sehat dengan kalori yang mencukupi karena diet rendah kalori dapat memengaruhi produksi ASI.
4. Penuhi Kebutuhan Cairan
ASI sebagian besar terdiri dari air sehingga ibu perlu menjaga hidrasi selama masa menyusui. Minumlah sesuai kebutuhan dan rasa haus, terutama setelah menyusui atau memerah ASI.
5. Hindari Rokok, Alkohol, dan Narkoba
Merokok, Alkohol, dan penggunaan narkoba dapat memengaruhi produksi ASI dan sebagian zatnya dapat masuk ke dalam ASI. Ibu menyusui sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila menggunakan obat atau zat tertentu.
6. Konsultasikan Penggunaan Obat
Beberapa obat dapat masuk ke dalam ASI dan berpotensi memberikan efek pada bayi. Oleh karena itu, ibu yang sedang menyusui sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau apoteker sebelum memulai obat baru, termasuk obat bebas dan produk herbal.
Faktor yang Dapat Memengaruhi Produksi ASI
Kemampuan memproduksi ASI dapat berbeda pada setiap ibu. Beberapa faktor yang dapat memengaruhi laktasi, antara lain kondisi hormonal, penggunaan obat, riwayat terapi radiasi, cedera payudara atau puting, operasi payudara, kondisi medis tertentu, serta penggunaan alkohol atau narkoba.
Karena penyebabnya beragam, produksi ASI yang rendah sebaiknya tidak langsung dianggap disebabkan oleh pola makan atau kurang minum. Evaluasi terhadap teknik menyusui, frekuensi pengeluaran ASI, kondisi ibu, dan kondisi bayi dapat membantu menemukan penyebabnya.
Apakah Laktasi Bisa Terjadi Tanpa Kehamilan?
Laktasi juga dapat diinduksi pada orang yang tidak sedang hamil. Proses ini disebut induced lactation dan biasanya memerlukan stimulasi payudara secara teratur serta, dalam kondisi tertentu, terapi hormonal.
Induksi laktasi merupakan proses kompleks yang sebaiknya dilakukan dengan pendampingan tenaga kesehatan yang berpengalaman. Tidak semua orang akan menghasilkan ASI dalam jumlah yang sama melalui proses tersebut.
Bagaimana Menghentikan Produksi ASI?
Produksi ASI dapat berkurang secara alami ketika frekuensi menyusui atau pemerahan dikurangi. Karena produksi ASI mengikuti prinsip supply and demand, semakin sedikit ASI yang dikeluarkan, semakin banyak tubuh mengurangi produksinya.
Pengurangan produksi secara bertahap dapat membantu mengurangi rasa penuh pada payudara. Penghentian produksi ASI juga dapat dilakukan dengan bantuan obat tertentu dalam kondisi yang memerlukan, tetapi penggunaannya harus berdasarkan penilaian tenaga kesehatan.
Masalah yang Dapat Terjadi Selama Laktasi
Kesulitan menghasilkan ASI atau mempertahankan proses menyusui dapat terjadi pada sebagian ibu. Kondisi tersebut bukan berarti ibu gagal menyusui dan bukan sesuatu yang perlu membuat ibu merasa malu.
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan kesulitan laktasi antara lain gangguan hormonal, obat-obatan tertentu, operasi payudara sebelumnya, cedera payudara atau puting, serta kondisi medis tertentu.
Jika mengalami masalah dalam menyusui, ibu dapat meminta bantuan dokter, bidan, konselor laktasi, atau tenaga kesehatan lain yang kompeten.
Kapan Ibu Menyusui Perlu ke dokter?
Konsultasi dengan dokter, bidan, konselor laktasi, atau tenaga kesehatan lain diperlukan apabila ibu mengalami kesulitan menyusui atau khawatir produksi ASI tidak mencukupi.
Beberapa kondisi yang perlu mendapatkan evaluasi antara lain:
· Bayi sulit melekat pada payudara.
· Bayi jarang menyusu atau sangat lemah saat menyusu.
· Bayi tidak mengalami kenaikan berat badan sesuai harapan.
· Jumlah popok basah lebih sedikit dari yang diharapkan.
· Ibu mengalami nyeri payudara yang berat.
· Puting mengalami luka atau perdarahan.
· Payudara merah, panas, dan nyeri.
· Ibu mengalami demam.
· Produksi ASI tiba-tiba menurun.
· Ibu mengonsumsi obat yang dikhawatirkan memengaruhi produksi atau keamanan ASI.
FAQ
1. Apa yang dimaksud dengan laktasi?
Laktasi adalah proses produksi dan pengeluaran ASI dari kelenjar payudara. Proses ini dikendalikan oleh hormon dan dimulai sejak kehamilan.
2. Apa hormon utama dalam produksi ASI?
Prolaktin terutama berperan dalam produksi ASI, sedangkan oksitosin membantu mengeluarkan ASI melalui refleks let-down.
3. Kapan ASI mulai banyak diproduksi?
Produksi ASI biasanya meningkat sekitar dua hingga tiga hari setelah melahirkan, setelah kadar estrogen dan progesteron turun akibat keluarnya plasenta.
4. Apakah semakin sering menyusui membuat ASI semakin banyak?
Secara umum, pengeluaran ASI yang lebih sering memberikan lebih banyak rangsangan kepada tubuh untuk mempertahankan produksi. Frekuensi menyusui atau pemerahan merupakan bagian penting dari mekanisme supply and demand.
5. Apakah ASI eksklusif harus diberikan selama 6 bulan?
WHO merekomendasikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan. Setelah itu, makanan pendamping diberikan sambil melanjutkan pemberian ASI hingga usia dua tahun atau lebih.
Catatan dari Keapotek
Laktasi merupakan proses alami tubuh dalam memproduksi dan mengeluarkan ASI yang dipengaruhi oleh hormon, terutama prolaktin dan oksitosin. Produksi ASI juga mengikuti prinsip supply and demand, sehingga menyusui atau memerah ASI secara teratur dapat membantu mempertahankan produksi.
Menjaga asupan makanan dan cairan, menghindari rokok, alkohol, dan narkoba, serta memperhatikan penggunaan obat selama menyusui merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan ibu dan bayi. Jika produksi ASI dikhawatirkan tidak mencukupi, bayi sulit menyusu, berat badan bayi tidak bertambah sesuai harapan, atau ibu mengalami nyeri, kemerahan, dan demam, konsultasi dengan tenaga kesehatan atau konselor laktasi diperlukan.
External References
1. Cleveland Clinic — Lactation (Breast Milk
Production): How It Works
Cleveland Clinic — Lactation
2. https://health.clevelandclinic.org/breastfeeding-let-down
4. https://mcpress.mayoclinic.org/healthygut/colostrum-super-supplement-or-overhyped/
5. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/7718102/