Mohon tunggu...

IMG-LOGO
Feb 10, 2026 | 462

Vitamin B

Penelitian baru mengungkap penemuan pengaruh vitamin B pada kesehatan dan penyakit


8 nutrien penting membentuk rangkaian vitamin B yang juga dikenal sebagai vitamin B kompleks. Peneliti dari Tufts University dan di tempat lain telah mengungkapkan bahwa vitamin B tersebut memengaruhi spektrum yang sangat luas dari kesehatan dan penyakit manusia, termasuk fungsi kognitif, kesehatan kardiovaskular, pemulihan operasi bypass lambung, cacat tabung saraf, dan bahkan kanker.


“Sulit untuk meneliti vitamin B dalam isolasi,” ucap ahli gastroenterologi Joel Mason, ilmuwan senior di Jean Mayer USDA Human Nutrition Research Center on Aging (HNRCA) serta profesor di Gerald J. and Dorothy R. Friedman School of Nutrition Science and Policy dan Tufts University School of Medicine. “Empat dari vitamin B kompleks tersebut bekerja sama sebagai kofaktor dalam banyak aktivitas yang sangat penting dalam sel yang kami sebut ‘metabolisme satu karbon’.”


Metabolisme satu karbon merupakan serangkaian jalur yang memungkinkan untuk mengirimkan unit karbon tunggal ke sel untuk proses yang sangat penting seperti sintesis DNA, metabolisme asam amino, dan masih banyak lagi. Ini merupakan perannya dalam fungsi biologis yang penting yang membuat vitamin B sangat penting dan sangat sulit untuk menentukan bagaimana vitamin B berkontribusi secara positif dan, mungkin negatif, bagi kesehatan manusia.


Mason dan dua peneliti lain yang menghabiskan karir mereka mempelajari satu atau lebih vitamin B menjelaskan apa yang kami ketahui saat ini tentang bagaimana lima dari yang paling menjadi fokus untuk diteliti, vitamin B memberi dampak dan meningkatkan kognitif serta kesehatan jantung.


Kesehatan kognitif, B12, dan folat


Salah satu dari area penelitian yang paling aktif untuk vitamin B adalah kesehatan kognitif. Pada usia 75-80 tahun, 40% mengalami penurunan kemampuan untuk menyerap B12 yang terikat pada makanan, ucap Mason. Defisiensi ini menyebabkan penurunan dalam kesehatan saraf, terutama pada tulang belakang dan otak, yang dapat berkontribusi terhadap risiko terjadinya demensia pada orang lanjut usia.


Selama 10 tahun, tenaga klinis dan para peneliti berpikir mengukur plasma B12 cukup akurat untuk menentukan jika suplementasi diperlukan. Namun, Mason berkata, saat kebanyakan orang lanjut usia mungkin memiliki kadar B12 yang berada dalam rentang ‘rendah hingga normal’, secara bersamaan mereka mengalami defisit neurologis yang dikaitkan dengan defisiensi vitamin B12.


Rosenberg juga merupakan mantan dekan di Friedman School of Nutrition Science and Policy, yang juga mengajar farmakologi di School of Medicine.

“Penurunan kognitif terkait usia bukan hanya Alzheimer,” ucap Rosenberg. “Kami telah mengelompokkan berbagai jenis disfungsi otak menjadi satu di bawah satu nama. Dan dengan melakukan hal tersebut, kami telah mengabaikan seberapa penting pembuluh darah dan secara tidak langsung nutrisi dalam mempertahankan fungsi otak.”


Patologi penyakit Alzheimer menggambarkan penumpukan yang tidak normal dari dua protein di otak yaitu amiloid dan tau, yang menggumpal bersama, membentuk plak dan kusutan yang dipercaya mengganggu fungsi sel otak.


Namun, Rosenberg mengatakan penyakit serebrovaskular dan penyakit pembuluh darah kecil, yang dalam beberapa kasus terhubung dengan defisiensi vitamin B, umum terjadi dengan penurunan kognitif dan demensia dibandingkan penumpukan dari protein berbahaya dalam otak, yang telah menjadi fokus banyak penelitian dan pengembangan obat untuk mengobati penyakit Alzheimer. Mengobati orang dengan obat yang dimaksudkan untuk mengatasi penumpukan protein tidak akan berhasil jika penyebab gejala demensia adalah defisiensi vitamin B12.


Pemeriksaan untuk mengidentifikasi apakah penurunan kognitif dan gejala demensia mungkin disebabkan oleh defisiensi vitamin B12 merupakan hal yang sangat penting, ucapnya.


“Pemeriksaan B12 mengukur seluruh B12 dalam sistem Anda, meskipun sekitar 80% nya tidak aktif,” ucap Paul Jacques, seorang ilmuwan senior di HNRCA serta profesor di Friedman School of Nutrition Science and Policy.

Untuk menentukan dengan tepat defisiensi vitamin B12 diperlukan dua tes tambahan. Pertama, disebut dengan tes MMA, mengukur kadar asam metilmalonik, suatu asam yang diproduksi selama aspek tertentu dalam metabolisme yang memerlukan vitamin B12 yang cukup. “Nilainya dapat meningkat dengan bahkan defisiensi B12 ringan, mengindikasikan potensi risiko yang lebih tinggi terkena demensia,” ucap Jacques.


Tes yang kedua mengukur kadar asam amino, homosistein, yang juga merupakan produk sampingan dari metabolisme yang memerlukan B12. Jika hanya kadar homosistein yang meningkat, defisiensi folat mungkin yang menjadi masalahnya. Jika MMA dan homosistein tinggi, defisiensi B12 kemungkinan besar penyebabnya.


Jika seorang pasien menunjukkan masalah neurologis atau tanda-tanda demensia, melakukan ketiga tes tersebut akan mempersempit kemungkinan jika defisiensi vitamin B terlibat dan vitamin B mana yang terlibat.


“Berbeda dengan perubahan yang tidak bisa kita lihat pada pasien yang telah diberikan obat antibodi anti-amiloid yang mahal untuk pengobatan penyakit Alzheimer, sebenarnya ada bukti bahwa sejak tahap awal dalam perkembangan penurunan kognitif yang dapat kita perlambat prosesnya jika penyebab yang mendasarinya adalah peningkatan homosistein atau defisiensi terkait B12,” ucap Rosenberg. “Saran saya adalah pasien, dengan atau tanpa anemia, harus dipantau terhadap peningkatan homosistein atau defisiensi B12nya karena itu mungkin menjadi salah satu faktor yang dapat dipulihkan dalam penurunan kognitif mereka.”


Hal tersebut bukan merupakan teori baru, dua puluh tahun lalu, penelitian seperti Framingham Heart Study menunjukkan bahwa peningkatan homosistein memperkirakan atrofi otak dan risiko lebih tinggi terkena demensia. Belakangan ini, percobaan seperti VITACOG dan FACT telah menunjukkan bahwa suplementasi vitamin B dapat memperlambat penyusutan dan meningkatkan kinerja kognitif pada yang berisiko.


“Ada banyak sekali jumlah edukasi yang diperlukan seputar masalah ini,” ucap Rosenberg. “Kami berharap dapat meyakinkan ahli jantung, ahli saraf, dan ahli penyakit dalam untuk melakukan pengukuran kadar B12 dan homosistein sebagai bagian dari evaluasi gangguan kognitif. Bahkan efek paling sederhana dari vitamin yang harganya hanya beberapa sen per hari dapat menjadi sangat berarti bagi mereka yang akan mendapatkan manfaat, terutama saat Anda membandingkan suplementasi vitamin terhadap obat mahal yang mendapatkan lebih banyak perhatian namun mungkin memiliki manfaat yang sama atau bahkan lebih sedikit.


B12 dan demensia


Jacques dan para kolega baru-baru ini memimpin suatu studi menggunakan data dari sekitar 2500 orang dewasa paruh baya dan lanjut usia dalam Framingham Heart Study, semuanya bebas dari demensia pada tahun 1990 dan menerima pemeriksaan B12, MMA, dan homosistein untuk selama 20 tahun.


“Risiko demensia dan Alzheimer stadium akhir mulai meningkat saat seseorang berusia 75 tahun atau lebih, namun bukti menunjukkan bahwa beberapa perubahan patologis yang dikaitkan dengan demensia dan Alzheimer mungkin mulai berkembang pada 20 tahun keatas sebelum gejala dan diagnosis klinis terjadi,” ucap Jacques. “Studi ini seharusnya memberi kita pemahaman yang baik pada apakah B12 terkait dengan penurunan kognitif dan demensia. Jika demikian, semoga kita dapat mengidentifikasi intervensi yang sederhana dan murah yang dapat dimulai bertahun-tahun sebelumnya dan sebelum kerusakan nyata terjadi.”


Jacques juga melihat folat mungkin berperan dalam perkembangan masalah kognitif, secara khusus pengaruh yang mungkin dimiliki kadar folat tinggi terhadap vitamin B12 dan kesehatan kognitif.

Pada tahun 1950, penderita anemia diobati dengan asam folat, bentuk sintetis dari folate. Sayangnya, ternyata meskipun pengobatan dengan folat pada kadar farmasi mengurangi anemia, hal itu sering menutup atau memperburuk defisiensi vitamin B12. “Para ilmuwan mengamati orang dengan konsentrasi B12 rendah dan folat tinggi cenderung mengalami masalah kognitif,” ucap Jacques.

Penelitian terkini menunjukkan bahwa bukan konsentrasi total B12 yang memengaruhi asam folat, namun mungkin hanya satu komponen, holoTC, yang merupakan bentuk vitamin B12 yang sangat penting untuk mengangkut dan menggunakan B12 dalam sel dan dipandang sebagai indikator yang mungkin lebih baik untuk melihat status vitamin B12.

Jacques dan para kolega melakukan dua studi untuk memisahkan masalah-masalah yang terlibat. “Dalam penelitian pertama, studi kami tentang vitamin B dan penuaan otak, kami akan melihat pengaruh status folat tinggi terhadap hubungan antara B12 dan kesehatan kognitif. Penelitian kedua kami lakukan dalam kolaborasi dengan Rutgers akan melihat efek asam folat tinggi dalam darah terhadap dua bentuk vitamin B12-holoTC dan kobalamin bebas.”


Penyakit jantung, kolesterol, dan stroke


Vitamin B juga membangkitkan antusiasme di antara para peneliti karena kemungkinan perannya dalam pencegahan penyakit jantung dan stroke, namun sejauh ini manfaatnya sebagai pengobatan klinis masih terbatas.

Para ilmuwan menemukan pada awal tahun 2000an bahwa riboflavin (B2) dapat menurunkan tekanan darah dengan sangat efektif. Hal ini dipercaya bahwa riboflavin meningkatkan reaksi biokimia yang dimediasi oleh gen yang disebut MTHFR (methylenetetrahydrofolate reductase) yang membantu tubuh menggunakan folat. Namun, Riboflavin hanya efektif dalam menurunkan tekanan darah khususnya pada pasien dengan genotipe MTHFR 677 TT.

Vitamin B6, B12 dan folat membantu tubuh membersihkan homosistein dengan sendirinya, yang kelebihannya telah dikaitkan dengan peningkatan risiko serangan jantung dan stroke, serta demensia. Namun, beberapa percobaan klinis pada tahun 1980an menunjukkan bahwa B6, B12, dan suplementasi folat tidak menurunkan serangan jantung, namun sedikit menurunkan risiko stroke.

Niacin (B3) dapat menurunkan LDL (yang disebut “kolesterol buruk”) dan meningkatkan HDL (yang disebut “kolesterol baik”). “Namun konsumsi dalam dosis tinggi seringkali menyebabkan kemerahan yang tidak nyaman, seperti hot flashes (sensasi panas mendadak),” ucap Mason. “Orang sering kali tidak dapat menoleransi konsumsinya, dan tersedia pilihan obat lain yang menurunkan LDL darah yang tidak memiliki efek samping yang mengganggu.”


Inflamasi kronis dan B6


Mungkin yang paling menjanjikan untuk masa depan adalah vitamin B6 yang mungkin berperan dalam mengendalikan peradangan, yang telah diidentifikasi sebagai fitur yang mendasari dari kebanyakan penyakit kronis, dari mulai penyakit jantung hingga diabetes hingga arthritis hingga demensia.

Beberapa studi terhadap hewan, ditambah beberapa penelitian terhadap manusia, menunjukkan bahwa suplemental B6 dapat mengurangi peradangan “Sekali lagi, yang kita bicarakan adalah tentang pemberian vitamin B pada dosis farmasi yang tepat di bawah pengawasan dokter,” ujar Mason. “B6 dapat menjadi beracun dalam jumlah besar.” Ia melihat penelitian ini sebagai sebuah hal yang patut diperhatikan di masa depan.


Tonton melalui youtube


https://keapotek.com

https://keapotek.com/Articles

INSTAGRAM


source

Keranjang Anda

Keranjang anda kosong