Please wait...

IMG-LOGO
Aug 21, 2026 | 55

OCD

OCD (Obsessive-Compulsive Disorder): Gejala, Penyebab, Jenis, Terapi, dan Kapan Harus ke Dokter | Keapotek


Banyak orang pernah memeriksa kembali apakah pintu sudah terkunci atau kompor sudah dimatikan sebelum meninggalkan rumah. Kebiasaan tersebut merupakan hal yang normal apabila hanya dilakukan sesekali. Namun, pada penderita Obsessive-Compulsive Disorder (OCD), pikiran yang mengganggu dan dorongan untuk melakukan tindakan tertentu muncul secara berulang, sulit dikendalikan, serta dapat menghabiskan banyak waktu hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. OCD bukan sekadar kebiasaan perfeksionis atau suka menjaga kebersihan, melainkan gangguan kesehatan mental yang memerlukan penanganan profesional.

Obsessive-Compulsive Disorder merupakan salah satu gangguan yang berkaitan dengan obsesi dan kompulsi. Penderita biasanya mengalami obsesi, yaitu pikiran, dorongan, atau gambaran mental yang muncul berulang dan menimbulkan kecemasan, kemudian melakukan kompulsi, yaitu perilaku atau tindakan berulang untuk mengurangi kecemasan tersebut. Walaupun tindakan tersebut dapat memberikan rasa lega untuk sementara, obsesi biasanya akan muncul kembali sehingga membentuk siklus yang sulit diputus tanpa terapi yang tepat.

Dengan pengobatan dan terapi yang sesuai, sebagian besar penderita OCD dapat mengurangi gejala secara signifikan dan menjalani kehidupan yang produktif.

 

Apa Itu OCD?

 

Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) adalah gangguan kesehatan mental kronis yang ditandai oleh adanya obsesi, kompulsi, atau keduanya.

 

  • Obsesi adalah pikiran, bayangan, atau dorongan yang muncul berulang secara tidak diinginkan dan menimbulkan kecemasan.
  • Kompulsi adalah tindakan atau ritual yang dilakukan berulang kali untuk mengurangi kecemasan akibat obsesi.

 

Sebagai contoh, seseorang mungkin terus-menerus merasa tangannya terkontaminasi kuman (obsesi) sehingga mencuci tangan berkali-kali dalam waktu lama (kompulsi). Meskipun menyadari bahwa perilaku tersebut berlebihan, penderita sering kali merasa sangat sulit menghentikannya.

 

Bagaimana OCD Terjadi?

 

Penyebab pasti OCD belum diketahui. Namun, penelitian menunjukkan bahwa gangguan ini berkaitan dengan interaksi berbagai faktor, seperti fungsi otak, sistem saraf, faktor genetik, serta lingkungan.

Diduga terdapat gangguan pada komunikasi antarbagian otak yang berperan dalam mengatur perilaku, pengambilan keputusan, dan respons terhadap rasa takut atau kecemasan. Selain itu, ketidakseimbangan neurotransmiter, terutama Serotonin , juga diduga berperan dalam munculnya gejala OCD. Meskipun demikian, mekanisme pastinya masih terus diteliti.

 

Apa Perbedaan OCD dengan Kebiasaan Biasa?

 

Setiap orang memiliki kebiasaan atau rutinitas tertentu, misalnya menyusun barang agar rapi atau memeriksa pintu sebelum tidur.

Namun, pada OCD:

 

  • pikiran yang muncul terasa mengganggu dan sulit diabaikan,
  • perilaku dilakukan secara berulang karena merasa harus melakukannya,
  • tindakan tersebut menghabiskan banyak waktu (sering kali lebih dari satu jam per hari),
  • gejala mengganggu pekerjaan, sekolah, atau hubungan sosial.

 

Dengan kata lain, OCD bukan sekadar menyukai kerapian atau kebersihan, tetapi merupakan gangguan yang dapat memengaruhi kualitas hidup secara nyata.

 

Jenis-Jenis OCD

 

Meskipun tidak ada pembagian resmi berdasarkan jenis dalam sistem diagnosis, gejala OCD sering dikelompokkan berdasarkan tema obsesi dan kompulsinya.

 

1.    OCD Kontaminasi (Contamination OCD)

 

Penderita memiliki ketakutan berlebihan terhadap kuman, virus, bahan kimia, atau benda yang dianggap kotor.

Kompulsi yang sering dilakukan antara lain:

 

  • mencuci tangan berulang kali,
  • mandi terlalu lama,
  • membersihkan rumah secara berlebihan,
  • menghindari menyentuh benda tertentu.

 

Jenis ini merupakan salah satu bentuk OCD yang paling sering ditemukan.

 

2.    OCD Keraguan dan Pemeriksaan (Checking OCD)

 

Penderita terus-menerus merasa khawatir telah melakukan kesalahan atau lupa melakukan sesuatu.

Akibatnya, mereka berulang kali:

 

  • memeriksa pintu,
  • memeriksa kompor,
  • memeriksa sakelar listrik,
  • memastikan kendaraan sudah terkunci,
  • mengecek dokumen atau pekerjaan.

 

Perilaku ini dapat menghabiskan waktu yang cukup lama setiap hari.

 

3.    OCD Simetri dan Keteraturan

 

Penderita merasa segala sesuatu harus tersusun secara simetris, rapi, atau berada pada posisi tertentu.

Apabila susunannya berubah, mereka dapat merasa sangat cemas hingga harus mengaturnya kembali.

Contohnya:

 

  • menyusun benda berdasarkan ukuran,
  • merapikan buku secara berulang,
  • mengatur posisi barang agar terlihat "sempurna".

 

4.    OCD Pikiran Terlarang (Intrusive Thoughts)

 

Jenis ini ditandai oleh munculnya pikiran, bayangan, atau dorongan yang tidak diinginkan dan sering kali bertentangan dengan nilai atau keyakinan penderita.

Tema yang sering muncul antara lain:

 

  • kekerasan,
  • agama,
  • seksual,
  • keselamatan orang lain.

 

Penting untuk diketahui bahwa munculnya pikiran tersebut bukan berarti penderita ingin melakukannya. Justru pikiran tersebut biasanya menimbulkan rasa takut, bersalah, atau jijik sehingga membuat penderita sangat tertekan.

 

Penyebab OCD

 

Belum ada satu penyebab tunggal yang diketahui menyebabkan OCD.

Para ahli meyakini bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi beberapa faktor.

 

Faktor Genetik

 

Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan OCD memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan yang sama dibandingkan populasi umum.

Namun, faktor genetik bukan satu-satunya penyebab dan tidak semua orang dengan riwayat keluarga OCD akan mengalami kondisi tersebut.

 

Perubahan Fungsi Otak

 

Penelitian menunjukkan adanya perubahan aktivitas pada beberapa area otak yang berperan dalam pengambilan keputusan, pengendalian perilaku, serta respons terhadap rasa takut dan kecemasan.

Perubahan ini diduga berkontribusi terhadap munculnya obsesi dan kompulsi.

 

Faktor Lingkungan

 

Beberapa pengalaman hidup dapat memicu atau memperburuk gejala OCD pada orang yang memiliki kerentanan.

Misalnya:

 

  • stres berat,
  • pengalaman traumatis,
  • perubahan besar dalam kehidupan,
  • infeksi tertentu yang masih sedang diteliti hubungannya dengan OCD pada anak.

 

Faktor-faktor tersebut tidak selalu menyebabkan OCD secara langsung, tetapi dapat memengaruhi munculnya gejala pada sebagian orang.

 

Faktor Risiko OCD

 

Beberapa kondisi diketahui dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami OCD, antara lain:

 

  • memiliki riwayat keluarga dengan OCD,
  • mengalami gangguan kecemasan lain,
  • pernah mengalami trauma,
  • stres yang berkepanjangan,
  • memiliki gangguan kesehatan mental tertentu.

 

Sebagian besar kasus mulai muncul pada masa remaja atau awal usia dewasa, meskipun OCD juga dapat terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa yang lebih tua.

 

Gejala OCD, Diagnosis, dan Pemeriksaan

 

Gejala Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) dapat berbeda pada setiap orang. Sebagian penderita lebih banyak mengalami obsesi, sebagian lainnya lebih dominan mengalami kompulsi, sementara banyak juga yang mengalami keduanya secara bersamaan. Gejala biasanya muncul secara bertahap, dapat membaik atau memburuk dari waktu ke waktu, dan sering kali meningkat saat seseorang mengalami stres. Tanpa penanganan yang tepat, OCD dapat mengganggu pekerjaan, pendidikan, hubungan sosial, hingga aktivitas sehari-hari.

 

Gejala OCD

 

Gejala OCD terdiri atas dua komponen utama, yaitu obsesi dan kompulsi.

Sebagian besar penderita mengalami keduanya, meskipun ada yang hanya mengalami salah satunya.

 

Gejala Obsesi

 

Obsesi adalah pikiran, bayangan, atau dorongan yang muncul secara berulang tanpa diinginkan dan menimbulkan kecemasan.

Obsesi bukan sekadar kekhawatiran biasa. Penderita sering menyadari bahwa pikiran tersebut tidak masuk akal, tetapi tetap sulit mengabaikannya.

Beberapa contoh obsesi yang umum meliputi:

 

  • takut terkontaminasi kuman atau kotoran,
  • takut menyakiti diri sendiri atau orang lain secara tidak sengaja,
  • kebutuhan agar segala sesuatu tersusun simetris atau sempurna,
  • keraguan berulang apakah sudah melakukan sesuatu dengan benar,
  • pikiran yang mengganggu mengenai agama, moral, seksual, atau kekerasan.

 

Obsesi sering muncul tanpa disengaja dan dapat mengganggu konsentrasi maupun aktivitas sehari-hari.

 

Gejala Kompulsi

 

Kompulsi adalah perilaku atau tindakan mental yang dilakukan secara berulang untuk mengurangi kecemasan akibat obsesi.

Penderita biasanya merasa terdorong untuk melakukan tindakan tersebut meskipun menyadari bahwa tindakan itu berlebihan atau tidak benar-benar mencegah hal yang ditakutkan.

Contoh kompulsi meliputi:

 

  • mencuci tangan berulang kali,
  • memeriksa pintu atau kompor berkali-kali,
  • menghitung angka dengan pola tertentu,
  • menyusun barang hingga terasa "pas",
  • mengulang doa atau kata-kata tertentu dalam hati,
  • meminta kepastian (reassurance) secara berulang kepada orang lain.

 

Rasa lega yang diperoleh dari kompulsi biasanya hanya bersifat sementara, sehingga obsesi akan muncul kembali dan siklus tersebut terus berulang.

 

Berapa Lama Gejala OCD Berlangsung?

 

Menurut kriteria diagnosis, gejala OCD umumnya:

 

  • terjadi hampir setiap hari,
  • menghabiskan waktu lebih dari satu jam per hari,
  • menyebabkan stres yang bermakna,
  • mengganggu pekerjaan, sekolah, hubungan sosial, atau aktivitas lainnya.

 

Pada sebagian penderita, gejala dapat berlangsung bertahun-tahun apabila tidak mendapatkan terapi.

 

Bagaimana OCD Memengaruhi Kehidupan Sehari-hari?

 

OCD dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan.

Sebagai contoh, penderita mungkin:

  • terlambat bekerja karena harus memeriksa pintu berulang kali,
  • menghindari berjabat tangan karena takut terkontaminasi,
  • menghabiskan waktu berjam-jam untuk membersihkan rumah,
  • sulit berkonsentrasi karena terus-menerus terganggu oleh obsesi,
  • menghindari tempat atau situasi tertentu yang memicu kecemasan.

Semakin berat gejala yang dialami, semakin besar dampaknya terhadap kualitas hidup.

 

Bagaimana Dokter Menegakkan Diagnosis?

 

Tidak ada pemeriksaan laboratorium, pencitraan, maupun tes darah yang dapat memastikan seseorang mengalami OCD.

Diagnosis ditegakkan berdasarkan:

 

  • wawancara medis,
  • riwayat gejala,
  • jenis obsesi dan kompulsi,
  • lama gejala berlangsung,
  • dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari,
  • kriteria diagnosis gangguan mental yang digunakan oleh tenaga kesehatan.

 

Dokter atau psikiater juga akan menilai apakah gejala yang dialami lebih sesuai dengan OCD atau gangguan kesehatan mental lainnya.

 

Hal yang Akan Ditanyakan Dokter

 

Selama konsultasi, dokter biasanya akan menanyakan:

 

  • pikiran apa yang paling sering mengganggu,
  • apakah melakukan tindakan tertentu untuk mengurangi kecemasan,
  • berapa lama gejala berlangsung setiap hari,
  • kapan gejala mulai muncul,
  • apakah gejala mengganggu pekerjaan atau sekolah,
  • apakah ada anggota keluarga yang mengalami OCD atau gangguan mental lain,
  • apakah sedang mengalami stres atau peristiwa yang berat.

 

Jawaban atas pertanyaan tersebut membantu dokter menentukan tingkat keparahan OCD dan pilihan terapi yang paling sesuai.

 

Apakah Diperlukan Pemeriksaan Penunjang?

 

Pada umumnya, pemeriksaan penunjang tidak diperlukan untuk mendiagnosis OCD.

Namun, dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik atau tes laboratorium apabila dicurigai terdapat kondisi medis lain yang menyebabkan gejala serupa, misalnya:

 

  • gangguan tiroid,
  • gangguan saraf,
  • efek samping obat-obatan,
  • penyalahgunaan Alkohol atau zat tertentu.

Pemeriksaan tambahan dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab lain sebelum menegakkan diagnosis OCD.

 

Kondisi yang Memiliki Gejala Mirip OCD

 

Beberapa gangguan kesehatan mental dapat memiliki gejala yang menyerupai OCD sehingga perlu dibedakan.

Di antaranya:

 

 

Karena penanganan setiap kondisi berbeda, diagnosis yang tepat sangat penting agar terapi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien.

 

Dampak OCD terhadap Kehidupan

 

Tanpa pengobatan, OCD dapat menyebabkan berbagai masalah, seperti:

 

  • prestasi belajar atau kinerja kerja menurun,
  • hubungan dengan keluarga atau pasangan terganggu,
  • isolasi sosial,
  • gangguan tidur,
  • stres berkepanjangan,
  • depresi,
  • meningkatnya risiko gangguan kecemasan lain.

 

Pada sebagian penderita, gejala yang berat juga dapat menghambat aktivitas sederhana, seperti mandi, makan, atau keluar rumah.

 

Terapi OCD, Cara Mengelola Gejala, dan Kapan Harus ke Dokter

 

Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) merupakan gangguan kesehatan mental kronis, tetapi gejalanya dapat dikendalikan dengan pengobatan yang tepat. Tujuan terapi adalah mengurangi frekuensi dan intensitas obsesi maupun kompulsi, membantu penderita menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih baik, serta meningkatkan kualitas hidup. Penanganan biasanya melibatkan kombinasi psikoterapi, obat-obatan, edukasi, dan dukungan dari keluarga maupun lingkungan sekitar. Semakin dini OCD dikenali dan diobati, semakin besar peluang gejalanya membaik.

 

Terapi OCD

 

Pilihan terapi akan disesuaikan dengan tingkat keparahan gejala, usia, kondisi kesehatan, serta kebutuhan masing-masing penderita.

 

1.    Terapi Perilaku Kognitif (Cognitive Behavioral Therapy/CBT)

 

Cognitive Behavioral Therapy (CBT) merupakan salah satu terapi yang paling efektif untuk OCD.

Terapi ini membantu penderita:

 

  • mengenali pola pikir yang memicu obsesi,
  • memahami hubungan antara pikiran, emosi, dan perilaku,
  • mengembangkan cara berpikir yang lebih adaptif,
  • mengurangi perilaku kompulsif secara bertahap.

 

CBT sering menjadi pilihan utama, baik digunakan sendiri maupun dikombinasikan dengan obat-obatan.

 

2.    Exposure and Response Prevention (ERP)

 

ERP merupakan bentuk khusus dari CBT yang dianggap sebagai terapi utama untuk OCD.

Dalam terapi ini, penderita secara bertahap dihadapkan pada objek atau situasi yang memicu obsesi (exposure) tanpa melakukan ritual atau kompulsi yang biasanya dilakukan (response prevention).

Sebagai contoh, seseorang yang takut terkontaminasi dapat dilatih menyentuh gagang pintu tanpa langsung mencuci tangan.

Melalui latihan yang dilakukan secara bertahap dan berulang di bawah bimbingan terapis, kecemasan akan berkurang seiring waktu sehingga dorongan melakukan kompulsi juga menurun.

 

3.    Obat-Obatan

 

Pada OCD dengan gejala sedang hingga berat, dokter dapat meresepkan obat untuk membantu mengurangi obsesi dan kompulsi.

Kelompok obat yang paling sering digunakan adalah Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRI), seperti:

 

  • fluoxetine,
  • sertraline,
  • fluvoxamine,
  • paroxetine,
  • escitalopram.

 

Pada beberapa kondisi, dokter juga dapat mempertimbangkan obat lain apabila respons terhadap terapi awal belum memadai.

Obat harus digunakan sesuai resep dokter dan tidak boleh dihentikan secara tiba-tiba tanpa konsultasi.

 

4.    Terapi Tambahan

 

Pada kasus tertentu, dokter dapat menyarankan terapi tambahan, seperti:

 

  • terapi keluarga untuk meningkatkan dukungan di rumah,
  • edukasi mengenai OCD (psychoeducation),
  • kelompok pendukung (support group),
  • terapi untuk gangguan mental lain yang terjadi bersamaan, seperti depresi atau gangguan kecemasan.

 

Pada kasus OCD yang sangat berat dan tidak membaik dengan terapi standar, tersedia pilihan terapi lanjutan di pusat layanan kesehatan khusus, tetapi penggunaannya hanya dipertimbangkan pada kondisi tertentu.

 

Cara Mengelola OCD dalam Kehidupan Sehari-hari

 

Selain menjalani terapi, beberapa langkah berikut dapat membantu mengendalikan gejala OCD.

 

Minum Obat Sesuai Anjuran

 

Apabila dokter meresepkan obat, gunakan sesuai dosis dan jadwal yang telah ditentukan.

Menghentikan obat secara tiba-tiba dapat menyebabkan gejala muncul kembali atau memburuk.

 

Jalani Terapi Secara Konsisten

 

Keberhasilan terapi sangat bergantung pada konsistensi.

Meskipun pada awalnya terapi ERP terasa tidak nyaman, latihan yang dilakukan secara bertahap terbukti dapat membantu mengurangi gejala dalam jangka panjang.

 

Kelola Stres

 

Stres dapat memperburuk gejala OCD.

Beberapa cara untuk mengelola stres antara lain:

 

  • olahraga secara teratur,
  • latihan pernapasan,
  • meditasi atau mindfulness,
  • tidur yang cukup,
  • menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan waktu istirahat.

 

Hindari Alkohol dan Narkoba

 

Penyalahgunaan alkohol maupun narkoba dapat memperburuk gejala OCD dan mengganggu efektivitas pengobatan.

Menghindari zat-zat tersebut merupakan bagian penting dari penatalaksanaan OCD.

 

Libatkan Keluarga

 

Dukungan keluarga sangat membantu proses pemulihan.

Keluarga dapat berperan dengan:

 

  • memahami bahwa OCD adalah gangguan kesehatan mental,
  • mendukung penderita menjalani terapi,
  • tidak memperkuat perilaku kompulsif,
  • membantu mengenali tanda-tanda kekambuhan.

 

Komplikasi OCD

 

Apabila tidak ditangani, OCD dapat menyebabkan berbagai komplikasi, seperti:

 

  • gangguan kecemasan yang semakin berat,
  • depresi,
  • isolasi sosial,
  • penurunan prestasi belajar atau kinerja kerja,
  • gangguan hubungan dengan keluarga atau pasangan,
  • gangguan tidur,
  • penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan,
  • menurunnya kualitas hidup.

 

Pada sebagian penderita, gejala yang berat juga dapat meningkatkan risiko munculnya pikiran untuk menyakiti diri sendiri sehingga memerlukan penanganan segera.

 

Kapan Harus ke Dokter?

 

Segera berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater apabila:

 

  • pikiran obsesif atau perilaku kompulsif menghabiskan lebih dari satu jam setiap hari,
  • gejala mengganggu pekerjaan, sekolah, atau hubungan sosial,
  • merasa tidak mampu mengendalikan obsesi atau kompulsi,
  • mengalami depresi atau kecemasan yang semakin berat,
  • gejala tidak membaik meskipun telah mencoba mengatasinya sendiri.

 

Semakin dini OCD ditangani, semakin baik peluang keberhasilan terapinya.

 

Kapan Harus ke IGD?

 

Segera cari pertolongan medis darurat apabila penderita:

 

  • memiliki pikiran atau rencana untuk bunuh diri,
  • mencoba menyakiti diri sendiri atau orang lain,
  • mengalami gangguan mental berat hingga tidak mampu merawat diri,
  • mengalami gejala psikiatri berat yang memerlukan penanganan segera.

Kondisi tersebut merupakan keadaan darurat yang membutuhkan evaluasi dan penanganan secepat mungkin.

 

Ringkasan

 

Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) adalah gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan munculnya obsesi, yaitu pikiran yang mengganggu dan berulang, serta kompulsi, yaitu perilaku berulang yang dilakukan untuk mengurangi kecemasan akibat obsesi. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, pekerjaan, pendidikan, maupun hubungan sosial apabila tidak ditangani.

Diagnosis OCD ditegakkan melalui wawancara medis dan evaluasi oleh tenaga kesehatan mental. Terapi utama meliputi Cognitive Behavioral Therapy (CBT), terutama Exposure and Response Prevention (ERP), serta penggunaan obat golongan Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRI) pada kondisi tertentu.

Dengan terapi yang tepat, kepatuhan terhadap pengobatan, serta dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar, banyak penderita OCD mampu mengendalikan gejalanya dan menjalani kehidupan yang aktif serta produktif.

 

FAQ

 

1.    Apakah OCD bisa sembuh?

 

OCD merupakan kondisi kronis, tetapi gejalanya dapat dikendalikan dengan terapi yang tepat. Banyak penderita mengalami perbaikan yang signifikan setelah menjalani CBT, terutama ERP, dan bila diperlukan disertai pengobatan.

 

2.    Apakah OCD sama dengan perfeksionisme?

 

Tidak. Perfeksionisme adalah sifat atau kecenderungan ingin melakukan sesuatu dengan sangat baik. Sementara itu, OCD merupakan gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan obsesi dan kompulsi yang menyebabkan stres serta mengganggu kehidupan sehari-hari.

 

3.    Apakah semua penderita OCD suka kebersihan?

 

Tidak. Meskipun sebagian penderita memiliki obsesi terhadap kontaminasi, banyak bentuk OCD lain, seperti keraguan berulang, kebutuhan akan simetri, atau pikiran mengganggu mengenai kekerasan, agama, maupun tema seksual.

 

4.    Berapa lama terapi OCD berlangsung?

 

Lama terapi berbeda pada setiap orang, tergantung tingkat keparahan gejala, respons terhadap pengobatan, dan konsistensi menjalani terapi. Sebagian penderita mulai mengalami perbaikan dalam beberapa bulan, sementara yang lain memerlukan terapi jangka panjang.

 

5.    Apakah anak-anak dapat mengalami OCD?

 

Ya. OCD dapat muncul pada anak-anak maupun remaja. Penanganan sejak dini sangat penting agar gejala tidak mengganggu perkembangan, proses belajar, serta kehidupan sosial anak.

 

Daftar Referensi

 

1. https://www.nimh.nih.gov/health/topics/obsessive-compulsive-disorder-ocdNational Institute of Mental Health. Obsessive-Compulsive Disorder (OCD).

2.    Cleveland Clinic. Obsessive-Compulsive Disorder (OCD): Symptoms, Causes & Treatment.
https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/9490-obsessive-compulsive-disorder

3.    https://www.psychiatry.org/patients-families/obsessive-compulsive-disorderAmerican Psychiatric Association. Obsessive-Compulsive Disorder (OCD).

4.    https://www.nhs.uk/mental-health/conditions/obsessive-compulsive-disorder-ocd/National Health Service. Obsessive-Compulsive Disorder (OCD).

5.    Mayo Clinic. Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) – Symptoms and Causes.
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/obsessive-compulsive-disorder/symptoms-causes/syc-20354432

6.    https://keapotek.com/Article/Detail/30217/gangguan-kecemasan

7.    MedlinePlus. Obsessive-Compulsive Disorder. U.S. National Library of Medicine.
https://medlineplus.gov/obsessivecompulsivedisorder.html

8.    Merck Manual Professional Edition. Obsessive-Compulsive Disorder (OCD).
https://www.merckmanuals.com/professional/psychiatric-disorders/obsessive-compulsive-and-related-disorders/obsessive-compulsive-disorder-ocd

9. https://www.apa.org/ptsd-guideline/patients-and-families/anxiety-disordersAmerican Psychological Association. Clinical Practice Guideline for the Treatment of Anxiety Disorders.

10.https://www.nice.org.uk/guidance/cg31National Institute for Health and Care Excellence. Obsessive-Compulsive Disorder and Body Dysmorphic Disorder: Treatment (CG31).

 

 

Your Cart

Your basket is empty