Mohon tunggu...

IMG-LOGO
Agt 20, 2026 | 50

Bipolar

Gangguan Bipolar: Gejala, Penyebab, Jenis, Pengobatan, dan Kapan Harus ke Dokter | Keapotek


Perubahan suasana hati merupakan hal yang normal dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pekerjaan, hubungan sosial, atau kondisi kesehatan. Namun, pada gangguan bipolar, perubahan suasana hati terjadi secara ekstrem dan dapat berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa minggu. Seseorang dapat mengalami periode ketika merasa sangat bersemangat, penuh energi, dan percaya diri secara berlebihan, kemudian berubah menjadi sangat sedih, kehilangan minat, serta sulit menjalani aktivitas sehari-hari. Kondisi ini bukan sekadar perubahan emosi biasa, melainkan gangguan kesehatan mental yang memerlukan penanganan profesional.

Gangguan bipolar (bipolar disorder) memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, tidur, bekerja, dan berinteraksi dengan orang lain. Apabila tidak ditangani, kondisi ini dapat meningkatkan risiko masalah di tempat kerja, hubungan sosial, penyalahgunaan zat, hingga keinginan untuk menyakiti diri sendiri. Meski demikian, dengan diagnosis yang tepat dan pengobatan yang sesuai, banyak penderita dapat mengendalikan gejalanya serta menjalani kehidupan yang produktif.

 

 

Apa Itu Gangguan Bipolar?

 

Gangguan bipolar adalah gangguan kesehatan mental yang ditandai oleh perubahan suasana hati (mood) yang ekstrem, yaitu antara episode mania atau hipomania dan episode depresi.

Pada fase mania atau hipomania, penderita dapat merasa sangat berenergi, berbicara lebih cepat dari biasanya, tidur lebih sedikit, memiliki banyak ide, dan cenderung melakukan tindakan yang berisiko. Sebaliknya, pada fase depresi, penderita dapat merasa sedih berkepanjangan, kehilangan semangat, sulit berkonsentrasi, serta tidak lagi menikmati aktivitas yang sebelumnya disukai.

Gangguan bipolar bukan merupakan tanda kelemahan karakter atau kurangnya kemampuan mengendalikan emosi. Kondisi ini merupakan penyakit yang berkaitan dengan fungsi otak dan memerlukan evaluasi serta penanganan oleh tenaga kesehatan.

 

Bagaimana Gangguan Bipolar Terjadi?

 

Penyebab pasti gangguan bipolar belum diketahui. Namun, penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini melibatkan interaksi berbagai faktor, termasuk perubahan fungsi otak, ketidakseimbangan zat kimia yang berperan dalam mengatur suasana hati (neurotransmitter), faktor genetik, dan pengaruh lingkungan.

Perubahan tersebut dapat memengaruhi kemampuan otak dalam mengatur emosi, energi, pola tidur, serta perilaku sehingga penderita mengalami episode mania, hipomania, atau depresi yang berulang.

 

Jenis-Jenis Gangguan Bipolar

 

Gangguan bipolar terdiri atas beberapa jenis yang memiliki karakteristik berbeda.

 

1.    Bipolar I

 

Bipolar I ditandai dengan adanya setidaknya satu episode mania yang berlangsung selama sedikitnya satu minggu atau memerlukan perawatan di rumah sakit.

Sebagian besar penderita Bipolar I juga mengalami episode depresi, meskipun tidak selalu.

Episode mania pada Bipolar I dapat menyebabkan gangguan yang berat terhadap pekerjaan, hubungan sosial, maupun kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari.

 

2.    Bipolar II

 

Bipolar II ditandai dengan kombinasi:

 

  • minimal satu episode hipomania, dan
  • minimal satu episode depresi mayor.

 

Hipomania memiliki gejala yang mirip dengan mania, tetapi tingkat keparahannya lebih ringan dan umumnya tidak menyebabkan gangguan fungsi yang berat atau memerlukan rawat inap.

Meskipun demikian, episode depresi pada Bipolar II sering kali berlangsung lebih lama dan dapat sangat mengganggu kualitas hidup.

 

3.    Cyclothymic Disorder (Siklotimia)

 

Siklotimia merupakan bentuk gangguan bipolar yang lebih ringan.

Penderitanya mengalami gejala hipomania dan depresi ringan yang muncul berulang selama sedikitnya dua tahun pada orang dewasa (atau satu tahun pada anak dan remaja), tetapi tidak memenuhi kriteria untuk episode mania maupun depresi mayor.

Walaupun gejalanya lebih ringan, siklotimia tetap dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari apabila tidak ditangani.

 

4.    Bipolar Akibat Kondisi Medis atau Zat Tertentu

 

Gejala yang menyerupai gangguan bipolar juga dapat muncul akibat:

 

  • penggunaan obat tertentu,
  • konsumsi Alkohol atau narkoba,
  • penyakit neurologis,
  • gangguan hormon,
  • atau kondisi medis lainnya.

Pada kondisi ini, dokter akan mencari dan menangani penyebab yang mendasarinya.

 

Penyebab Gangguan Bipolar

 

Belum ada satu penyebab tunggal yang diketahui menyebabkan gangguan bipolar.

Para ahli meyakini bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi beberapa faktor.

 

Faktor Genetik

 

Risiko mengalami gangguan bipolar lebih tinggi pada seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan kondisi serupa.

Namun, tidak semua orang dengan riwayat keluarga gangguan bipolar akan mengalami penyakit ini.

 

Perubahan Fungsi Otak

 

Penelitian menunjukkan adanya perubahan pada struktur maupun fungsi beberapa bagian otak yang berperan dalam mengatur emosi, perilaku, dan pengambilan keputusan.

Perubahan ini diduga berkontribusi terhadap munculnya episode mania maupun depresi.

 

Faktor Lingkungan

 

Beberapa faktor lingkungan dapat memicu munculnya episode pada orang yang memiliki kerentanan terhadap gangguan bipolar.

Contohnya meliputi:

 

  • stres berat,
  • kehilangan orang yang dicintai,
  • trauma,
  • gangguan pola tidur,
  • penggunaan alkohol atau narkoba.

 

Faktor-faktor tersebut tidak secara langsung menyebabkan gangguan bipolar, tetapi dapat memicu kekambuhan pada sebagian penderita.

 

Faktor Risiko Gangguan Bipolar

 

Beberapa kondisi diketahui dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan bipolar.

Di antaranya:

 

  • memiliki riwayat keluarga dengan gangguan bipolar,
  • mengalami stres berat,
  • pernah mengalami trauma,
  • penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan terlarang,
  • gangguan tidur yang berkepanjangan,
  • riwayat gangguan kesehatan mental lainnya.

 

Meskipun memiliki faktor risiko tersebut, seseorang belum tentu mengalami gangguan bipolar.

 

Siapa yang Lebih Berisiko Mengalami Gangguan Bipolar?

 

Gangguan bipolar dapat dialami oleh siapa saja, tetapi paling sering mulai muncul pada akhir masa remaja hingga awal usia dewasa, meskipun gejala juga dapat muncul pada anak-anak maupun orang yang lebih tua.

Deteksi dan penanganan sejak dini sangat penting karena terapi yang tepat dapat membantu mengurangi frekuensi kekambuhan dan meningkatkan kualitas hidup penderita.

 

Gejala Gangguan Bipolar, Diagnosis, dan Pemeriksaan

 

Gejala gangguan bipolar bervariasi pada setiap orang. Sebagian penderita lebih sering mengalami episode depresi, sementara yang lain lebih sering mengalami episode mania atau hipomania. Ada pula yang mengalami episode campuran (mixed episode), yaitu ketika gejala mania dan depresi muncul secara bersamaan. Lama setiap episode juga berbeda-beda, dapat berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa bulan. Di antara episode tersebut, sebagian penderita dapat kembali menjalani aktivitas seperti biasa tanpa gejala yang berarti.

 

Gejala Gangguan Bipolar

 

Gejala gangguan bipolar dibedakan berdasarkan fase yang sedang dialami, yaitu fase mania, hipomania, dan depresi.

 

Gejala Episode Mania

 

Mania merupakan fase ketika suasana hati meningkat secara berlebihan disertai peningkatan energi dan aktivitas.

Gejala yang sering muncul antara lain:

 

  • merasa sangat gembira atau mudah tersinggung,
  • berbicara sangat cepat,
  • merasa memiliki banyak ide,
  • sangat percaya diri atau merasa memiliki kemampuan luar biasa,
  • tidur jauh lebih sedikit tetapi tetap merasa bertenaga,
  • sulit berkonsentrasi,
  • mudah terdistraksi,
  • lebih aktif dari biasanya,
  • melakukan tindakan berisiko, seperti belanja berlebihan, berjudi, atau mengemudi secara berbahaya.

 

Pada kasus yang berat, episode mania dapat menyebabkan gangguan dalam pekerjaan, hubungan sosial, bahkan memerlukan perawatan di rumah sakit. Sebagian penderita juga dapat mengalami gejala psikotik, seperti delusi atau halusinasi.

 

Gejala Episode Hipomania

 

Hipomania memiliki gejala yang serupa dengan mania, tetapi tingkat keparahannya lebih ringan.

Penderita dapat mengalami:

 

  • suasana hati yang sangat baik,
  • energi meningkat,
  • produktivitas yang lebih tinggi,
  • lebih banyak berbicara,
  • tidur lebih sedikit,
  • lebih percaya diri.

 

Berbeda dengan mania, hipomania umumnya tidak menyebabkan gangguan fungsi yang berat maupun memerlukan rawat inap. Namun, apabila tidak ditangani, hipomania dapat berkembang menjadi mania atau diikuti oleh episode depresi.

 

Gejala Episode Depresi

 

Pada fase depresi, penderita mengalami penurunan suasana hati yang berlangsung hampir setiap hari selama sedikitnya dua minggu.

Gejala yang dapat muncul meliputi:

 

  • merasa sedih, kosong, atau putus asa,
  • kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya disukai,
  • mudah lelah,
  • sulit berkonsentrasi,
  • merasa tidak berharga atau bersalah berlebihan,
  • perubahan nafsu makan,
  • gangguan tidur, baik sulit tidur maupun tidur berlebihan,
  • gerakan atau cara berbicara menjadi lebih lambat,
  • muncul pikiran tentang kematian atau bunuh diri.
  •  

Episode depresi sering kali lebih lama dibandingkan episode mania atau hipomania dan dapat sangat memengaruhi kualitas hidup penderita.

 

Episode Campuran (Mixed Features)

 

Sebagian penderita mengalami gejala mania dan depresi secara bersamaan.

Misalnya, seseorang dapat:

 

  • merasa sangat gelisah tetapi juga sedih,
  • memiliki energi yang tinggi namun merasa putus asa,
  • sulit tidur,
  • berpikir sangat cepat,
  • mengalami perubahan emosi yang cepat.

 

Episode campuran memerlukan perhatian khusus karena dapat meningkatkan risiko perilaku impulsif dan keinginan untuk menyakiti diri sendiri.

 

Bagaimana Dokter Menegakkan Diagnosis?

 

Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang dapat memastikan diagnosis gangguan bipolar.

Diagnosis ditegakkan berdasarkan:

 

  • wawancara medis,
  • riwayat perubahan suasana hati,
  • lama dan pola munculnya gejala,
  • riwayat kesehatan,
  • riwayat gangguan mental dalam keluarga,
  • dampak gejala terhadap kehidupan sehari-hari.

 

Dokter atau psikiater menggunakan kriteria diagnostik yang telah ditetapkan untuk menentukan apakah gejala yang dialami sesuai dengan gangguan bipolar.

 

Hal yang Akan Ditanyakan Dokter

 

Selama konsultasi, dokter biasanya akan menanyakan:

 

  • kapan perubahan suasana hati mulai terjadi,
  • berapa lama setiap episode berlangsung,
  • apakah pernah mengalami periode dengan energi yang sangat tinggi,
  • bagaimana pola tidur selama episode tersebut,
  • apakah pernah melakukan tindakan impulsif,
  • apakah pernah mengalami depresi berat,
  • riwayat penggunaan alkohol atau obat-obatan,
  • riwayat gangguan bipolar atau gangguan mental lain dalam keluarga.

 

Informasi tersebut membantu dokter membedakan gangguan bipolar dari kondisi kesehatan mental lainnya.

 

 

Apakah Diperlukan Pemeriksaan Penunjang?

 

Meskipun tidak ada tes khusus untuk mendiagnosis gangguan bipolar, dokter dapat melakukan beberapa pemeriksaan untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab medis lain.

Pemeriksaan yang mungkin dilakukan meliputi:

 

 

Pemeriksaan ini bertujuan memastikan bahwa gejala tidak disebabkan oleh gangguan hormon, penyakit saraf, efek samping obat, atau kondisi medis lainnya.

 

Kondisi yang Memiliki Gejala Mirip Gangguan Bipolar

 

Beberapa kondisi lain dapat memiliki gejala yang menyerupai gangguan bipolar sehingga perlu dibedakan melalui evaluasi menyeluruh.

Di antaranya:

 

  • depresi mayor,
  • gangguan kecemasan ,
  • attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD),
  • gangguan kepribadian ambang (borderline personality disorder),
  • skizofrenia atau gangguan skizoafektif,
  • gangguan penggunaan alkohol atau zat,
  • gangguan tiroid.

 

Karena gejalanya dapat saling tumpang tindih, diagnosis yang akurat sangat penting agar pengobatan yang diberikan sesuai dengan kondisi yang dialami pasien.

 

Dampak Gangguan Bipolar terhadap Kehidupan Sehari-hari

 

Tanpa penanganan yang tepat, gangguan bipolar dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan.

Dampak yang mungkin terjadi antara lain:

 

  • menurunnya prestasi belajar atau kinerja di tempat kerja,
  • kesulitan mempertahankan hubungan dengan keluarga atau pasangan,
  • masalah keuangan akibat perilaku impulsif saat mania,
  • penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan,
  • meningkatnya risiko depresi berat,
  • meningkatnya risiko bunuh diri.

 

Namun, dengan pengobatan yang tepat, dukungan keluarga, dan pemantauan rutin, banyak penderita mampu mengendalikan gejalanya dan menjalani kehidupan yang produktif.

 

Pengobatan Gangguan Bipolar, Cara Mengelola, dan Kapan Harus ke Dokter

 

Gangguan bipolar merupakan kondisi yang bersifat jangka panjang (kronis), tetapi dapat dikendalikan dengan pengobatan yang tepat dan pemantauan secara rutin. Tujuan terapi bukan hanya mengatasi episode mania atau depresi yang sedang berlangsung, tetapi juga mencegah kekambuhan, mengurangi keparahan gejala, serta membantu penderita mempertahankan kualitas hidup yang baik. Penanganan biasanya melibatkan kombinasi obat-obatan, psikoterapi, edukasi, serta dukungan dari keluarga dan orang terdekat.

 

Pengobatan Gangguan Bipolar

Pengobatan disesuaikan dengan jenis gangguan bipolar, fase penyakit, tingkat keparahan gejala, serta kondisi kesehatan masing-masing pasien.

 

1.    Mood Stabilizer

 

Mood stabilizer merupakan kelompok obat yang paling sering digunakan untuk membantu mengendalikan perubahan suasana hati dan mencegah kekambuhan episode mania maupun depresi.

Beberapa obat yang umum digunakan antara lain:

 

  • lithium,
  • valproate (asam valproat),
  • carbamazepine,
  • lamotrigine.

 

Dokter akan menentukan pilihan obat berdasarkan kondisi pasien, riwayat penyakit, serta kemungkinan efek samping. Penggunaan obat harus dilakukan sesuai resep dan memerlukan kontrol rutin.

 

2.    Antipsikotik

 

Pada episode mania sedang hingga berat atau ketika muncul gejala psikotik, dokter dapat meresepkan obat antipsikotik.

Beberapa contohnya meliputi:

 

  • quetiapine,
  • olanzapine,
  • risperidone,
  • aripiprazole,
  • lurasidone (pada kondisi tertentu).

 

Obat ini membantu mengurangi gejala seperti agitasi, pikiran yang sangat cepat, perilaku impulsif, maupun delusi dan halusinasi apabila ada.

 

3.    Antidepresan

 

Antidepresan dapat dipertimbangkan pada beberapa pasien yang mengalami episode depresi.

Namun, penggunaannya biasanya tidak diberikan sebagai terapi tunggal, karena pada sebagian penderita dapat memicu episode mania atau mempercepat pergantian suasana hati (rapid cycling). Oleh karena itu, antidepresan umumnya dikombinasikan dengan mood stabilizer dan digunakan sesuai pertimbangan dokter.

 

4.    Psikoterapi

 

Psikoterapi merupakan bagian penting dari pengobatan gangguan bipolar.

Beberapa bentuk terapi yang sering digunakan meliputi:

 

 

Terapi ini membantu penderita memahami penyakitnya, mengenali tanda awal kekambuhan, mengelola stres, serta meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan.

 

Cara Mengelola Gangguan Bipolar

 

Selain menjalani pengobatan, beberapa kebiasaan berikut dapat membantu mengurangi risiko kekambuhan.

 

Minum Obat Secara Teratur

 

Menghentikan obat tanpa persetujuan dokter dapat meningkatkan risiko kambuhnya episode mania maupun depresi.

Karena itu, obat harus diminum sesuai jadwal yang telah ditentukan.

 

Menjaga Pola Tidur

 

Kurang tidur dapat memicu episode mania pada sebagian penderita.

Usahakan untuk:

 

  • tidur pada jam yang sama setiap hari,
  • mencukupi waktu tidur,
  • menghindari begadang.
  •  

Mengenali Tanda Awal Kekambuhan

 

Setiap penderita dapat memiliki tanda awal yang berbeda.

Misalnya:

 

  • mulai tidur lebih sedikit,
  • berbicara lebih cepat,
  • suasana hati menjadi sangat gembira,
  • lebih mudah marah,
  • kehilangan minat terhadap aktivitas.
  •  

Mengenali perubahan tersebut sejak dini memungkinkan penderita segera berkonsultasi dengan dokter sebelum gejala menjadi lebih berat.

Mengelola Stres

 

Stres yang berkepanjangan dapat memicu kekambuhan.

Beberapa cara yang dapat membantu antara lain:

  • olahraga teratur,
  • meditasi,
  • latihan pernapasan,
  • menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan waktu istirahat,
  • mencari dukungan dari keluarga atau teman.

 

Menghindari Alkohol dan Narkoba

 

Alkohol serta obat-obatan terlarang dapat memperburuk gejala, mengganggu efektivitas pengobatan, dan meningkatkan risiko kekambuhan.

Menghindari zat-zat tersebut merupakan bagian penting dari pengelolaan gangguan bipolar.

 

Komplikasi Gangguan Bipolar

 

Apabila tidak ditangani dengan baik, gangguan bipolar dapat menyebabkan berbagai komplikasi, seperti:

 

  • depresi berat,
  • penyalahgunaan alkohol atau narkoba,
  • gangguan hubungan dengan keluarga atau pasangan,
  • kesulitan mempertahankan pekerjaan,
  • masalah keuangan akibat perilaku impulsif,
  • gangguan kesehatan fisik,
  • meningkatnya risiko bunuh diri.

 

Dengan pengobatan yang konsisten, sebagian besar komplikasi tersebut dapat dicegah atau dikurangi.

 

Kapan Harus ke Dokter?

 

Segera berkonsultasi dengan psikiater atau dokter apabila:

 

  • mengalami perubahan suasana hati yang ekstrem,
  • gejala berlangsung selama beberapa hari atau minggu,
  • mulai mengganggu pekerjaan, sekolah, atau hubungan sosial,
  • sulit tidur disertai energi yang sangat tinggi,
  • mengalami depresi yang berkepanjangan,
  • merasa pengobatan yang dijalani tidak lagi efektif,
  • muncul efek samping obat yang mengganggu.

 

Evaluasi secara berkala penting untuk menyesuaikan terapi dan mencegah kekambuhan.

 

Kapan Harus ke IGD?

 

Segera cari pertolongan medis darurat apabila penderita:

 

  • memiliki pikiran atau rencana untuk bunuh diri,
  • mencoba menyakiti diri sendiri atau orang lain,
  • mengalami episode mania berat hingga kehilangan kendali,
  • mengalami halusinasi atau delusi,
  • tidak makan atau minum dalam waktu lama karena kondisi mental,
  • menunjukkan perilaku yang membahayakan diri sendiri atau orang lain.

 

Kondisi tersebut memerlukan penanganan segera demi keselamatan penderita dan orang di sekitarnya.

 

Ringkasan

 

Gangguan bipolar adalah gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang ekstrem, mulai dari episode mania atau hipomania hingga episode depresi. Kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik, perubahan fungsi otak, dan faktor lingkungan.

Diagnosis ditegakkan berdasarkan wawancara medis dan evaluasi oleh tenaga kesehatan mental. Penanganan meliputi penggunaan mood stabilizer, antipsikotik bila diperlukan, psikoterapi, serta perubahan gaya hidup untuk membantu menjaga kestabilan suasana hati.

Dengan pengobatan yang tepat, kontrol rutin, dan dukungan dari keluarga, banyak penderita gangguan bipolar mampu menjalani kehidupan yang aktif, produktif, dan memiliki kualitas hidup yang baik.

 

FAQ

 

1.    Apakah gangguan bipolar bisa disembuhkan?

 

Gangguan bipolar umumnya merupakan kondisi jangka panjang, tetapi gejalanya dapat dikendalikan dengan pengobatan dan terapi yang tepat. Banyak penderita dapat menjalani kehidupan yang produktif apabila mengikuti pengobatan secara teratur.

 

2.    Apa perbedaan mania dan hipomania?

 

Mania memiliki gejala yang lebih berat, sering mengganggu fungsi sehari-hari, dan kadang memerlukan rawat inap. Hipomania memiliki gejala yang serupa tetapi lebih ringan serta umumnya tidak menyebabkan gangguan fungsi yang berat.

 

3.    Apakah penderita gangguan bipolar harus minum obat seumur hidup?

 

Tidak selalu. Lama pengobatan berbeda pada setiap orang dan ditentukan berdasarkan jenis gangguan bipolar, frekuensi kekambuhan, serta respons terhadap terapi. Keputusan untuk mengubah atau menghentikan obat harus dilakukan bersama dokter.

 

4.    Apakah stres dapat memicu kekambuhan?

 

Ya. Stres berat, kurang tidur, penggunaan alkohol atau narkoba, serta menghentikan obat tanpa anjuran dokter dapat meningkatkan risiko munculnya kembali episode mania maupun depresi.

 

5.    Apakah penderita gangguan bipolar dapat bekerja dan beraktivitas seperti biasa?

 

Ya. Dengan pengobatan yang tepat, kontrol rutin, dan dukungan dari keluarga maupun lingkungan kerja, banyak penderita gangguan bipolar dapat bersekolah, bekerja, serta menjalani aktivitas sehari-hari secara produktif.

 

Daftar Referensi

 

1.    https://www.nimh.nih.gov/health/topics/bipolar-disorderNational Institute of Mental Health. Bipolar Disorder.

2.    Cleveland Clinic. Bipolar Disorder: Symptoms, Causes & Treatment.
https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/9294-bipolar-disorder

3.    https://www.psychiatry.org/patients-families/bipolar-disordersAmerican Psychiatric Association. What Are Bipolar Disorders?

4.    https://www.keapotek.com/Article/Detail/30141/depresi

5.    Mayo Clinic. Bipolar Disorder – Symptoms and Causes.
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/bipolar-disorder/symptoms-causes/syc-20355955

6.    MedlinePlus. Bipolar Disorder. U.S. National Library of Medicine.
https://medlineplus.gov/bipolardisorder.html

7.    Merck Manual Professional Edition. Bipolar Disorders.
https://www.merckmanuals.com/professional/psychiatric-disorders/mood-disorders/bipolar-disorders

8.    https://www.nami.org/About-Mental-Illness/Mental-Health-Conditions/Bipolar-DisorderNational Alliance on Mental Illness. Bipolar Disorder.

9.    https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/mental-disordersWorld Health Organization. Mental Disorders.

10.                       https://www.nice.org.uk/guidance/cg185National Institute for Health and Care Excellence. Bipolar Disorder: Assessment and Management (CG185).

 

 


 

 

Keranjang Anda

Keranjang anda kosong