Mohon tunggu...

IMG-LOGO
Mar 24, 2026 | 60

Kesehatan mental

Apa itu kesehatan mental?

 Kesehatan mental berkaitan dengan bagaimana seseorang berpikir, merasakan, dan berperilaku. Tenaga profesional di bidang kesehatan mental dapat membantu orang yang mengalami kondisi seperti depresi, kecemasan, gangguan bipolar, Kecanduan, dan gangguan lain yang memengaruhi pikiran, perasaan, serta perilaku mereka.

Kesehatan mental dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari seseorang, hubungan dengan orang lain, serta kesehatan fisiknya. Faktor-faktor dari luar, seperti kondisi lingkungan dan hubungan sosial, juga dapat berperan dalam menentukan kesejahteraan mental seseorang.

Menjaga kesehatan mental membantu seseorang tetap mampu menikmati hidup. Hal ini dilakukan dengan menyeimbangkan aktivitas, tanggung jawab, serta upaya untuk mencapai ketahanan psikologis.

Stres , depresi, dan kecemasan  dapat memengaruhi kesehatan mental dan bahkan mengganggu rutinitas sehari-hari seseorang.

Walaupun tenaga kesehatan sering menggunakan istilah “kesehatan mental”, para dokter menyadari bahwa banyak kondisi kesehatan mental juga memiliki penyebab atau faktor fisik.

Artikel ini menjelaskan apa yang dimaksud dengan kesehatan mental dan gangguan kesehatan mental. Selain itu, artikel ini juga membahas jenis-jenis gangguan kesehatan mental yang paling umum, termasuk tanda-tanda awalnya dan cara penanganannya.

 

Definisi kesehatan mental menurut WHO


Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan mental bukan hanya sekadar tidak adanya gangguan mental. Kesehatan mental yang baik berarti seseorang mampu mengelola kondisi yang ada sekaligus menjaga kesejahteraan dan kebahagiaan dalam hidupnya.

Organisasi tersebut juga menekankan bahwa menjaga dan memulihkan kesehatan mental sangat penting, baik pada tingkat individu, komunitas, maupun masyarakat.

 

Di Indonesia, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa pemerintah memperkirakan sekitar 30% dari 280 juta jiwa Masyarakat Indonesia mengalami penyakit mental.

 

Faktor Risiko Gangguan Kesehatan Mental

 

Setiap orang memiliki risiko untuk mengalami gangguan kesehatan mental, tanpa memandang usia, jenis kelamin, pendapatan, atau latar belakang etnis.

Kondisi sosial dan ekonomi, pengalaman buruk saat masa kecil, faktor biologis, serta penyakit tertentu dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang. Banyak orang yang mengalami gangguan kesehatan mental juga memiliki lebih dari satu kondisi pada saat yang bersamaan.

Penting untuk dipahami bahwa kesejahteraan mental dipengaruhi oleh keseimbangan berbagai faktor. Beberapa hal dapat berperan dalam munculnya gangguan kesehatan mental.

 

1. Tekanan Sosial dan Ekonomi

Memiliki kondisi keuangan yang terbatas atau berasal dari kelompok masyarakat yang terpinggirkan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental. Hal ini bisa terjadi karena adanya perbedaan akses dan perlakuan dalam pelayanan kesehatan.

Sebuah penelitian pada tahun 2015 di Iran menjelaskan beberapa penyebab sosial ekonomi yang dapat memengaruhi kesehatan mental, seperti kemiskinan dan tinggal di daerah pinggiran kota besar.

Peneliti juga membagi faktor yang memengaruhi layanan kesehatan mental menjadi dua jenis, yaitu faktor yang dapat diubah dan faktor yang tidak dapat diubah.

 

Faktor yang dapat diubah (modifiable):

 

  • Kondisi sosial ekonomi, misalnya ketersediaan pekerjaan di suatu daerah
  • Jenis pekerjaan
  • Tingkat keterlibatan seseorang dalam kehidupan sosial
  • Tingkat pendidikan
  • Kualitas tempat tinggal

 

Faktor yang tidak dapat diubah (nonmodifiable):

 

  • Jenis kelamin
  • Usia
  • Etnis atau suku
  • Kewarganegaraan

 

Penelitian tersebut menemukan bahwa perempuan memiliki risiko hampir empat kali lebih besar mengalami kondisi kesehatan mental yang rendah. Selain itu, orang dengan kondisi ekonomi yang lemah memiliki tingkat gangguan kesehatan mental yang lebih tinggi.

 

2. Pengalaman Buruk di Masa Kecil

 

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pengalaman traumatis di masa kecil—seperti kekerasan pada anak, kehilangan orang tua, perceraian orang tua, atau penyakit serius pada orang tua—dapat memengaruhi kesehatan mental dan fisik anak saat tumbuh dewasa.

Pengalaman buruk tersebut juga berhubungan dengan meningkatnya risiko gangguan kesehatan mental. Bahkan, kondisi tersebut dapat membuat seseorang lebih rentan mengalami Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau gangguan stres pascatrauma.

3. Faktor Biologis

 

Menurut National Institute of Mental Health (NIMH), riwayat kesehatan mental dalam keluarga dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami gangguan kesehatan mental. Hal ini karena beberapa gen atau variasi gen tertentu dapat meningkatkan risiko tersebut.

Namun, memiliki gen yang berkaitan dengan gangguan kesehatan mental tidak selalu berarti seseorang pasti akan mengalaminya. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki riwayat keluarga pun tetap bisa mengalami gangguan kesehatan mental.

Selain itu, stres kronis dan gangguan mental seperti depresi dan kecemasan juga dapat muncul akibat penyakit fisik yang serius, seperti kanker, diabetes, atau nyeri kronis.

 

Jenis-Jenis Gangguan Kesehatan Mental

 

Tenaga kesehatan biasanya mengelompokkan gangguan kesehatan mental berdasarkan kesamaan gejala atau ciri-cirinya. Beberapa di antaranya meliputi:

 

  • Gangguan kecemasan
  • Gangguan suasana hati (mood)
  • Gangguan skizofrenia

 

1.      Gangguan Kecemasan

 

Menurut Anxiety and Depression Association of America, gangguan kecemasan merupakan jenis gangguan kesehatan mental yang paling umum.

Orang yang mengalami kondisi ini biasanya memiliki rasa takut atau kecemasan yang sangat kuat terhadap objek atau situasi tertentu. Kebanyakan orang dengan gangguan kecemasan akan berusaha menghindari hal-hal yang memicu kecemasan mereka.

Berikut beberapa contoh gangguan kecemasan:

 

Gangguan Kecemasan Umum (Generalized Anxiety Disorder / GAD)

 

Generalized Anxiety Disorder adalah kondisi ketika seseorang mengalami kekhawatiran atau ketakutan yang berlebihan sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari.

Gejala fisik yang dapat muncul antara lain:

 

  • Gelisah
  • Mudah lelah
  • Sulit berkonsentrasi
  • Otot terasa tegang
  • Gangguan tidur

 

Pada penderita GAD, kecemasan sering muncul tanpa penyebab yang jelas. Bahkan situasi sehari-hari yang sebenarnya tidak berbahaya, seperti pekerjaan rumah atau janji pertemuan, dapat menimbulkan kecemasan berlebihan.

 

Gangguan Panik

 

Orang dengan Panic Disorder sering mengalami serangan panik yang terjadi secara tiba-tiba. Serangan ini biasanya disertai rasa takut yang sangat kuat, seolah-olah akan terjadi bencana atau kematian.

 

Fobia

 

Ada banyak jenis fobia. Hal yang mungkin terlihat biasa bagi seseorang bisa menjadi ketakutan besar bagi orang lain hingga mengganggu kehidupan sehari-hari.

Beberapa jenis fobia antara lain:

 

  • Fobia sederhana: ketakutan berlebihan terhadap objek, situasi, atau hewan tertentu, misalnya takut laba-laba.
  • Fobia sosial: juga disebut kecemasan sosial, yaitu rasa takut dinilai atau diperhatikan oleh orang lain. Orang dengan kondisi ini sering menghindari lingkungan sosial.
  • Agorafobia: ketakutan terhadap situasi yang membuat seseorang sulit melarikan diri, seperti berada di lift atau kereta yang sedang berjalan. Banyak orang salah mengartikan kondisi ini sebagai takut keluar rumah.

 

Gangguan Obsesif-Kompulsif

 

Pada Obsessive-Compulsive Disorder (OCD), seseorang mengalami pikiran yang terus muncul dan menimbulkan stres, serta dorongan untuk melakukan tindakan berulang, misalnya mencuci tangan berulang kali.

 

Gangguan Stres Pascatrauma

 

Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) dapat terjadi setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang sangat menegangkan atau traumatis. Pada saat kejadian tersebut, seseorang mungkin merasa hidupnya atau hidup orang lain dalam bahaya, merasa sangat takut, atau merasa tidak memiliki kendali atas situasi.

Pengalaman trauma dan rasa takut ini dapat memicu munculnya PTSD.

 

Gangguan Suasana Hati (Mood Disorders)

 

Gangguan suasana hati juga sering disebut gangguan afektif atau gangguan depresi.

Orang dengan kondisi ini mengalami perubahan suasana hati yang signifikan, biasanya berupa:

 

  • Mania (energi dan kegembiraan yang sangat tinggi)
  • Depresi (perasaan sedih yang mendalam)
  •  

Contoh gangguan suasana hati:

 

Depresi Mayor

Pada Major Depressive Disorder, seseorang mengalami suasana hati yang sangat rendah dalam waktu lama dan kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai. Kondisi ini disebut anhedonia. Penderitanya dapat merasakan kesedihan yang berkepanjangan atau sangat mendalam.

 

Gangguan Bipolar

 

Seseorang dengan Bipolar Disorder mengalami perubahan besar pada suasana hati, tingkat energi, aktivitas, dan kemampuan menjalani kehidupan sehari-hari.

Periode suasana hati yang sangat tinggi disebut fase mania, sedangkan periode suasana hati yang sangat rendah disebut fase depresi.

 

Seasonal Affective Disorder (SAD)

 

Seasonal Affective Disorder (SAD) adalah jenis depresi yang berkaitan dengan musim. Kondisi ini biasanya terjadi saat paparan sinar matahari berkurang pada musim gugur, musim dingin, dan awal musim semi. Gangguan ini lebih sering terjadi di negara yang jauh dari garis khatulistiwa.

 

Gangguan Skizofrenia

Istilah Schizophrenia sering digunakan untuk menggambarkan sekelompok gangguan mental yang ditandai dengan gejala psikosis dan gejala berat lainnya. Kondisi ini termasuk gangguan mental yang kompleks.

Menurut informasi dari healthkompas.com tanda skizofrenia biasanya mulai muncul setelah masa puberitas. Kebanyakan orang didiagnosis pada akhir masa remaja hingga usia 30-an.

Penderita dapat mengalami pikiran yang tidak teratur serta kesulitan memproses informasi.

Gejala skizofrenia dibagi menjadi dua jenis:

Gejala positif, seperti:

 

  • Delusi (keyakinan yang tidak sesuai dengan kenyataan)
  • Halusinasi
  • Gangguan pola pikir

 

Gejala negatif, seperti:

 

  • Menarik diri dari lingkungan sosial
  • Kurangnya motivasi
  • Ekspresi emosi yang datar atau tidak sesuai

 

Tanda-Tanda Awal

 

Tidak ada tes fisik atau pemindaian tertentu yang dapat memastikan secara langsung apakah seseorang mengalami gangguan kesehatan mental. Namun, ada beberapa tanda yang perlu diperhatikan sebagai kemungkinan gejala awal, antara lain:

 

  • Menarik diri dari teman, keluarga, dan rekan kerja
  • Menghindari aktivitas yang biasanya disukai
  • Tidur terlalu banyak atau terlalu sedikit
  • Makan terlalu banyak atau terlalu sedikit
  • Merasa putus asa
  • Selalu merasa lelah atau kekurangan energi
  • Lebih sering menggunakan zat yang dapat memengaruhi suasana hati, seperti alkohol  dan nikotin
  • Menunjukkan emosi negatif secara berlebihan
  • Merasa bingung
  • Tidak mampu menyelesaikan tugas sehari-hari, seperti pergi bekerja atau memasak
  • Memiliki pikiran atau ingatan yang terus muncul berulang-ulang
  • Memikirkan untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain
  • Mendengar suara-suara yang sebenarnya tidak ada
  • Mengalami delusi atau keyakinan yang tidak sesuai dengan kenyataan

 

 

Diagnosis

 

Mendiagnosis gangguan kesehatan mental biasanya memerlukan beberapa tahap. Dokter biasanya akan memulai dengan melihat riwayat kesehatan seseorang dan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh untuk memastikan apakah ada penyakit fisik yang menyebabkan gejala tersebut.

Dokter juga dapat melakukan tes laboratorium, seperti pemeriksaan pencitraan (imaging) dan tes darah, untuk mencari kemungkinan penyebab lain yang mendasari.

Selanjutnya, tenaga kesehatan akan melakukan evaluasi psikologis. Dalam tahap ini, dokter akan menanyakan gejala yang dialami seseorang, pengalaman hidupnya, serta bagaimana kondisi tersebut memengaruhi kehidupannya sehari-hari. Dokter juga dapat meminta pasien mengisi kuesioner kesehatan mental untuk membantu memahami pola pikir, perasaan, dan perilakunya.

 

 

Pengobatan

 

Berbagai metode tersedia untuk membantu mengatasi gangguan kesehatan mental. Jenis pengobatan yang diberikan biasanya berbeda pada setiap orang, karena kondisi dan kebutuhan tiap individu tidak sama.

Beberapa metode pengobatan akan lebih efektif jika digunakan secara bersamaan. Selain itu, seseorang mungkin memilih jenis perawatan yang berbeda pada tahap kehidupan yang berbeda.

Penting bagi seseorang untuk bekerja sama dengan dokter agar dapat menentukan pengobatan yang paling sesuai dengan kebutuhannya.

Berikut beberapa pilihan pengobatan untuk gangguan kesehatan mental.

 

1. Psikoterapi (Terapi Bicara)

 

Beberapa jenis terapi psikologis yang sering digunakan antara lain:

 

  • Cognitive Behavioral Therapy (CBT)
  • Exposure Therapy
  • Dialectical Behavior Therapy (DBT)

 

Terapi ini biasanya dilakukan oleh psikiater, psikolog, psikoterapis, atau dokter umum yang memiliki pelatihan khusus.

Terapi dapat membantu seseorang memahami penyebab gangguan kesehatan mental yang dialaminya. Dengan bantuan tenaga kesehatan, seseorang juga dapat belajar mengelola kehidupan sehari-hari dengan lebih baik serta mengurangi risiko isolasi sosial dan perilaku menyakiti diri sendiri.

 

2.      Pengobatan dengan Obat

Beberapa orang menggunakan obat yang diresepkan oleh dokter, seperti:

 

  • Antidepresan
  • Antipsikotik
  • Obat anti-kecemasan

 

Obat-obatan ini tidak selalu menyembuhkan gangguan kesehatan mental sepenuhnya, tetapi dapat membantu mengurangi gejala yang muncul.

Beberapa obat bekerja dengan meningkatkan penyerapan zat kimia di otak yang memengaruhi suasana hati, seperti Serotonin. Ada juga obat yang meningkatkan kadar zat tersebut atau mencegah kerusakannya.

 

3.      Perawatan Mandiri (Self-Help)

 

Seseorang yang mengalami gangguan kesehatan mental juga dapat melakukan beberapa perubahan gaya hidup untuk membantu menjaga kesejahteraannya, misalnya:

 

  • Mengurangi konsumsi alkohol (jika ada)
  • Meningkatkan kualitas tidur
  • Mengonsumsi makanan yang seimbang dan bergizi
  • Mengambil waktu istirahat dari pekerjaan jika memungkinkan
  • Melakukan teknik relaksasi seperti pernapasan dalam, meditasi, dan mindfulness

Memiliki dukungan dari orang lain, seperti kelompok pendukung, teman dekat, atau keluarga, juga sangat membantu dalam menjaga kesehatan mental seseorang.

 

Mitos dan Fakta tentang Kesehatan Mental

 

Ada beberapa kesalahpahaman yang sering dipercaya masyarakat tentang kesehatan mental. Berikut beberapa contoh mitos dan fakta yang sebenarnya.

Mitos

Fakta

Orang yang memiliki gangguan kesehatan mental memiliki kecerdasan yang rendah.

Gangguan kesehatan mental dapat dialami oleh siapa saja, tanpa memandang tingkat kecerdasan, pendapatan, atau status sosial.

Remaja tidak memiliki masalah kesehatan mental. Perubahan suasana hati mereka hanya disebabkan oleh hormon.

Remaja memang sering mengalami perubahan suasana hati, tetapi bukan berarti mereka tidak bisa mengalami gangguan kesehatan mental. Bahkan sekitar setengah dari gangguan kesehatan mental mulai muncul sebelum usia 14 tahun.

Orang dengan gangguan kesehatan mental berbahaya, kasar, dan tidak dapat diprediksi.

Kejahatan yang dilakukan oleh orang dengan gangguan kesehatan mental serius hanya sekitar 5% dari seluruh kasus kejahatan kekerasan.

Obat psikiatri berbahaya.

Gangguan kesehatan mental adalah kondisi medis yang nyata, seperti penyakit lainnya. Tenaga kesehatan dapat meresepkan obat untuk membantu mengurangi gejala dan membantu seseorang menjalani kehidupan sehari-hari.

Orang dengan gangguan bipolar selalu mudah berubah suasana hati.

Perubahan suasana hati pada Bipolar Disorder biasanya terjadi dalam siklus yang dapat berlangsung beberapa minggu hingga beberapa bulan, bukan berubah secara cepat setiap saat.

Orang dengan gangguan kesehatan mental adalah orang yang lemah. Orang yang kuat tidak akan mengalaminya.

Mengalami gangguan kesehatan mental tidak ada hubungannya dengan kelemahan atau kurangnya kemauan. Siapa pun bisa mengalami gangguan kesehatan mental.

Pola asuh yang buruk menyebabkan remaja mengalami gangguan kesehatan mental.

Banyak faktor yang dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang. Hubungan dengan orang tua hanyalah salah satu faktor. Bahkan anak yang tumbuh di lingkungan keluarga yang baik tetap bisa mengalami gangguan kesehatan mental.

Orang dengan gangguan kesehatan mental tidak bisa bekerja dengan baik.

Orang dengan gangguan kesehatan mental tetap bisa bekerja dan berprestasi dengan baik, terutama jika berada di lingkungan kerja yang mendukung kesehatan mental.

 

 

Bantuan Tersedia

 

Bantuan Pencegahan Bunuh diri  Indonesia, sekarang dikenal sebagai Healing119.id, adalah sumber daya yang tersedia untuk Anda jika Anda:

 

  • Berpikir tentang bunuh diri, menyakiti diri sendiri atau menyakiti orang lain
  • Cemas, stres, atau mengalami hari yang buruk
  • Dalam krisis
  • Menghadapi masalah yang berkaitan dengan siapa Anda berhubungan seks atau merasa tertarik, menjadi transgender atau non-biner
  • Merasa kewalahan dengan hal-hal seperti keuangan, perumahan, dan akses makanan
  • Membutuhkan seseorang untuk diajak bicara atau merasa sulit untuk menyendiri
  • Membutuhkan saran jika Anda khawatir tentang orang yang Anda cintai

Di Indonesia, ketika Anda menelepon atau mengirim SMS ke 119, jaringan konselor lokal akan membantu Anda dengan masalah apa pun yang Anda hadapi. Untuk krisis atau situasi di mana keselamatan Anda dalam bahaya, konselor dapat mengirim bantuan tambahan ke lokasi Anda untuk menawarkan dukungan jika Anda membutuhkannya.

Seseorang tersedia untuk membantu Anda 24/7. Anda tidak perlu berada dalam krisis atau terpuruk untuk itu.

 

Prospek

 

Gangguan kesehatan mental cukup umum terjadi, tetapi tingkat keparahannya bisa berbeda-beda pada setiap orang. Banyak orang dapat mengelola gejalanya dan tetap menjalani kehidupan yang normal dengan pengobatan serta dukungan yang tepat.

Bagi sebagian orang, proses pemulihan juga berarti mempelajari cara-cara baru untuk mengelola kehidupan sehari-hari agar tetap sehat secara mental.

Gangguan kesehatan mental paling sering terjadi pada orang berusia 18–25 tahun, namun jumlahnya cenderung menurun pada orang berusia 50 tahun ke atas.

Memiliki gangguan kesehatan mental, terutama Depression, juga sering dikaitkan dengan penyakit kronis yang serius seperti Diabetes, Stroke, Cardiovascular Disease, dan Alzheimer's Disease.

 

Langkah-Langkah untuk Menjaga Kesehatan Mental

 

Beberapa langkah berikut dapat membantu seseorang menjaga kesehatan mental, mengurangi risiko gangguan mental, meningkatkan energi, dan mengontrol stres:

 

1. Berolahraga secara teratur


Melakukan Olahraga selama sekitar 45 menit sebanyak 3–5 kali seminggu dapat membantu meningkatkan kesehatan mental.

 

2. Mengonsumsi makanan bergizi dan cukup minum air


Pola makan yang seimbang dan cukup cairan membantu tubuh memiliki energi yang stabil sepanjang hari.

 

3. Tidur yang cukup dan berkualitas


Penelitian pada tahun 2021 menunjukkan bahwa kualitas tidur yang lebih baik dapat

meningkatkan kesehatan mental secara signifikan.

 

4. Melakukan aktivitas yang menenangkan


Latihan pernapasan, meditasi, penggunaan aplikasi kesehatan, atau menulis jurnal dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan.

 

5. Melatih kesadaran diri (mindfulness) dan rasa syukur


Seseorang dapat mencoba menuliskan hal-hal yang disyukuri setiap hari untuk membantu menjaga pikiran tetap positif.

 

6. Menjalin interaksi sosial yang positif


Berhubungan dengan orang lain dan menjaga hubungan yang baik dapat membantu mengurangi stres serta menjadi sumber dukungan ketika menghadapi kesulitan.

 

Ringkasan

 

Istilah kesehatan mental mengacu pada kesejahteraan seseorang dalam hal cara berpikir, berperilaku, dan mengelola emosi. Kesehatan mental memengaruhi bagaimana seseorang menghadapi stres, berinteraksi dengan orang lain, dan membuat keputusan.

Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan mental yang baik bukan hanya berarti tidak memiliki gangguan mental. Kesehatan mental juga berarti kemampuan seseorang untuk mengelola kondisi dan tekanan hidup yang ada sambil tetap menjaga kesejahteraan dan kebahagiaan.

Faktor-faktor seperti stres, Depression, dan Anxiety Disorder dapat berdampak negatif pada kesehatan mental seseorang dan bahkan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Tenaga kesehatan dapat membantu seseorang yang mengalami gangguan kesehatan mental untuk mengelola kondisinya, misalnya melalui terapi atau penggunaan obat-obatan yang sesuai.



 

Sumber :

Skizofrenia Muncul Usia Berapa? Berikut Penjelasannya...

Menkes Perkirakan 30 Persen dari 280 Juta Jiwa di Indonesia Miliki Penyakit Mental

FAQ_Cegah_Bunuh_Diri,_Dukung_Kesehatan_Jiwa__Kenali_Layanan_Healing119.id.pdf

 

 

 

Keranjang Anda

Keranjang anda kosong