Mohon tunggu...

IMG-LOGO

Acetylcysteine 200 mg Nulab

Categories:

Inventaris:
Tersedia
Views:
52
Skor:
0
Fitur lainnya:
Jumlah Pesanan:

Deskripsi Obat

Acetylcysteine 200 mg merupakan agen mukolitik yang bekerja dengan memecah serat asam mukopolisakarida yang membuat dahak lebih encer dan mengurangi kekentalan lendir pada dinding tenggorokan sehingga mempermudah pengeluaran lendir pada saat batuk.

Indikasi Obat

Acetylcysteine 200 mg digunakan untuk mengencerkan dahak di saluran pernapasan.

Dosis Obat dan Aturan Pakai

Perhatian : Pastikan dosis yang Anda gunakan sesuai dengan instruksi dokter dengan mempertimbangkan keparahan penyakit, usia, berat badan, dsb. Dosis yang tertera di sini adalah dosis umum. Dosis Acetylcysteine 200 mg untuk mengencerkan dahak ▪ Dosis dewasa dan anak > 14 tahun : 2-3 kali sehari 1 kapsul. ▪ Dosis anak usia 6-14 tahun : 2 kali sehari, 1 kapsul. Dosis Acetylcysteine 200 mg mukovisidosis ▪ Dosis anak > 6 tahun : 3 kali sehari, 1 kapsul. Aturan pakai : ▪ Gunakanlah obat ini setelah atau bersamaan dengan makan. ▪ Selalu ikuti anjuran dokter atau petunjuk penggunan yang tertera pada kemasan sebelum mulai mengonsumsinya. ▪ Untuk anak dibawah 6 tahun pertimbangkan gunakan sediaan lain. ▪ Gunakanlah antara satu dosis lainnya pada jarak jam yang sama, misalkan dua kali sehari berarti per 12 jam, tiga kali sehari berarti per 8 jam. Oleh sebab itu, untuk memudahkan usahakan untuk mengonsumsinya pada jam yang sama setiap hari.

Kontraindikasi dan Peringatan

Sebagai mukolitik (oral): Tidak digunakan pada anak-anak kurang dari 2 tahun. Hati-hati penggunaan pada pasien dengan penyakit asma, riwayat bronkopasma, dan atopik; peningkatan refleks batuk, predisposisi terhadap hemoragi saluran pencernaan. Hati-hati penggunaan pada anak-anak, ibu hamil dan ibu menyusui.

Efek Samping

Acetylcysteine 200 mg umumnya ditoleransi baik oleh tubuh. Namun demikian, ada efek samping yang perlu diperhatikan. Efek samping Acetylcysteine 200 mg meliputi: ▪ Gangguan sistem imun. ▪ Sakit kepala. ▪ Tinnitus (Telinga berdengung). ▪ Takikardia. ▪ Pendarahan. ▪ Bronkopasme dyspnoea. ▪ Gangguan pencernaan seperti diare, mual, muntah, nyeri perut, dispepsia. ▪ Reaksi alergi pada kulit seperti urtikaria, ruam, gatal, angiodema, edema wajah. ▪ Tekanan darah menurun. ▪ Stomatitis.

Interaksi Obat

Hati-hati saat menggunakan Acetylcysteine 200 mg bersamaan dengan obat lain. Interaksi dapat terjadi antara Acetylcysteine 200 mg dengan obat-obat berikut: ▪ Antitusif, dapat menurunkan reflek batuk sehingga menyebabkan akumulasi sekresi bronkial. ▪ Arang aktif, dapat mengurangi efektivitas Acetylcysteine. ▪ Antibiotik oral, diberikan dengan selang waktu. ▪ Nitrogliserin, dapat menyebabkan penurunan tekanan darah dan menimbulkan sakit kepala.

Pengawasan Klinis

Sebelum dan selama menggunakan obat ini, harap perhatikan hal-hal dibawah ini: ▪ Sampaikan pada dokter atau apoteker Anda jika pernah mengalami reaksi alergi saat mengonsumsi obat mengandung Acetylcysteine. ▪ Obat ini sebaiknya tidak digunakan pada anak di bawah 2 tahun karena dapat menginduksi obstruksi pernafasan. ▪ Hati-hati penggunaan obat ini pada penderita asma bronkial, karena dapat menyebabkan dispepsia (kesulitan bernafas). ▪ Hati-hati penggunaan obat ini pada pasien ulkus peptikum. ▪ Obat ini dapat meningkatkan jumlah cairan bronkus terutama pada awal terapi. Bila ini terjadi dan kesulitan mengekspektorasi secara efektif hubungi dokter Anda. ▪ Pada penderita bronkitis dan mukovisidosis, pengobatan harus diberikan dalam jangka waktu lama, sebagai pencegahan terhadap infeksi. ▪ Pada wanita hamil dan ibu menyusui sebelum menggunakan obat ini, konsultasikan kepada dokter Anda.

Penggunaan pada Kehamilan dan Ibu Menyusui

Penggunaan pada Kehamilan Acetylcysteine 200 mg digolongkan sebagai obat kategori B untuk ibu hamil. Untuk menghindari risiko yang mungkin terjadi sebaiknya obat ini hanya digunakan berdasarkan hasil konsultasi kepada dokter spesialis kandungan jika sangat dibutuhkan saja selama masa kehamilan. Penggunaan pada Ibu Menyusui Acetylcysteine 200 mg belum diketahui dapat mengontaminasi ASI ibu menyusui atau tidak. Oleh karena itu, penggunaan obat ini dianggap cukup aman asalkan dikonsumsi dalam pengawasan dokter dan sebaiknya di beri jeda waktu sebelum pemberian ASI setelah konsumsi obat, hal itu untuk menghindari kemungkinan efek samping yang ditimbulkan.

Penggunaan untuk Batuk Berdahak

Batuk Berdahak

atribut produk

Atribut

  • Bentuk Produk Kapsul
  • Nomor di dalam kotak 100 kapsul
  • Jenis Kelamin Laki-laki, Perempuan
  • Kelompok Usia Pengguna Anak-anak usia 6 tahun hingga dewasa

PT. Nulab Pharmaceutical Indonesia

PT. Nulab Pharmaceutical Indonesia

PT. Nulab Pharmaceutical Indonesia telah menjadi salah satu pendatang baru yang tumbuh paling cepat dalam industri farmasi dengan pilihan obat generik dan produk generik bermerek yang luas.

Tolong Gabung atau daftar

Keapotek comment product Customer
By Jamilah in history Senin, 10 November 2025

Malam mas/mba saya mau tanya, saya diberi acetylsistein dan amoksilin oleh dokter tapi perlu diberi selan waktu saya lupa menanyakan berapa lama. kira-kira diberi jeda waktu berapa lama kalo mau minum amoksilin setelah asetilsistein?

Keapotek comment product Replier Kurnia Citra
KEAPOTEK

Malam kak, untuk jeda minum obat antara amoxicillin dan acetylsystein baiknya diberi jeda 2 jam, keduanya diminum setelah makan


Acetylcysteine 200 mg Nulab Batuk Berdahak

Artikel Terkait

,

Acetylcysteine

Asetilsistein adalah obat mukolitik (obat yang berfungsi untuk menghancurkan atau mengencerkan lendir/dahak). Obat ini biasanya diberikan dengan cara dihirup (inhalasi), tetapi di rumah sakit juga bisa diberikan dengan cara lain.

Keranjang Anda

Keranjang anda kosong