Mohon tunggu...

IMG-LOGO
Mar 12, 2026 | 27

Hormon

Hormon merupakan zat organik yang disekresikan oleh tumbuhan dan hewan yang berfungsi mengatur aktivitas fisiologis serta menjaga keseimbangan tubuh (homeostasis)

Hormon sebagai Pengatur Aktivitas Fisiologis


Hormon merupakan zat organik yang disekresikan oleh tumbuhan dan hewan yang berfungsi mengatur aktivitas fisiologis serta menjaga keseimbangan tubuh (homeostasis). Hormon bekerja dengan memicu respons pada organ atau jaringan target yang peka terhadap keberadaan hormon, bahkan dalam jumlah yang sangat kecil.

Secara klasik, hormon diproduksi oleh kelenjar endokrin dan dilepaskan langsung ke aliran darah untuk kemudian dibawa menuju organ target. Proses pelepasan hormon ke dalam aliran darah ini disebut sekresi endokrin.

Namun, perkembangan ilmu pengetahuan memperluas pengertian hormon. Saat ini hormon juga mencakup zat pengatur lain yang dapat bekerja secara lokal dengan berdifusi melalui membran sel tanpa harus melalui sistem peredaran darah.


Hubungan antara Regulasi Endokrin dan Sistem Saraf


Pengaturan hormon (endokrin) berkaitan erat dengan pengaturan oleh sistem saraf. Keduanya berbeda terutama pada kecepatan dan durasi efeknya. Regulasi endokrin biasanya bekerja lebih lambat, tetapi efeknya berlangsung lebih lama dan dapat memengaruhi banyak bagian tubuh. Sebaliknya, sistem saraf menghasilkan respons yang cepat, berdurasi singkat, dan efeknya lebih terlokalisasi.

Sel saraf pada dasarnya juga bersifat sekretori karena melepaskan zat kimia yang disebut neurotransmiter, seperti asetilkolin dan norepinefrin, untuk menyampaikan sinyal antar sel saraf. Selain itu, terdapat sel saraf khusus yang disebut sel neurosekretori yang mampu mengubah sinyal saraf menjadi sinyal kimia berupa neurohormon.

Neurohormon biasanya berupa polipeptida yang dilepaskan melalui akson menuju aliran darah pada daerah khusus yang disebut organ neurohemal. Setelah masuk ke dalam darah, neurohormon bekerja dengan cara yang mirip dengan hormon yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin. Penemuan ini menunjukkan bahwa hubungan antara sistem saraf dan sistem endokrin sangat erat, sehingga batas antara keduanya tidak lagi dianggap benar-benar terpisah.


Evolusi Hormon


Hormon memiliki sejarah evolusi yang sangat panjang. Memahami evolusi hormon penting untuk mengetahui bagaimana hormon bekerja dan berfungsi dalam tubuh makhluk hidup.

Banyak ciri penting dari sistem endokrin pada vertebrata sudah ditemukan pada vertebrata primitif yang tidak memiliki rahang, seperti Lamprey dan Hagfish. Hewan-hewan ini termasuk kelompok Agnatha dan dianggap mirip dengan nenek moyang vertebrata yang hidup lebih dari 500 juta tahun yang lalu.

Pada vertebrata yang lebih maju dan memiliki rahang (Gnathostomata), sistem hormon mengalami perkembangan. Perkembangan ini meliputi munculnya hormon baru, perubahan pada hormon yang sudah ada, serta spesialisasi organ target sehingga menghasilkan respons tubuh yang lebih kompleks.

Asal mula hormon pertama belum diketahui secara pasti. Namun, hormon merupakan salah satu bentuk mekanisme pengaturan kimia dalam tubuh. Mekanisme lain yang juga berperan antara lain zat pengatur perkembangan embrio dan feromon pada serangga yang berfungsi sebagai penarik pasangan serta pengatur organisasi sosial.

Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa hormon pertama mungkin muncul sebagai produk sampingan metabolisme. Contohnya adalah Carbon dioxide (CO₂), yang membantu mengatur aktivitas pernapasan pada serangga dan vertebrata. Zat seperti ini disebut parahormon, yaitu zat yang berperan dalam pengaturan fisiologis tetapi bukan hormon sejati yang disekresikan oleh kelenjar endokrin.


Hormon-Hormon Kelenjar di Bawah Otak: Kelenjar Pituitari Mamalia


Kelenjar pituitari atau hipofisis adalah kelenjar utama dalam sistem endokrin vertebrata. Pada mamalia, kelenjar ini terdiri dari dua bagian berbeda:


  1. Neurohipofisis

·         Terbentuk dari pertumbuhan ke bawah dari dasar otak.

·         Terdiri dari eminensia median dan lobus saraf.

·         Bersifat sebagai organ neurohemal, yaitu tempat hormon dilepaskan dari saraf ke darah.


  1. Adenohipofisis

·         Berkembang dari pertumbuhan dari rongga mulut (bukal).

·         Biasanya terdiri dari pars distalis dan pars intermedia.

·         Menyekresikan beberapa hormon protein atau polipeptida.

·         Hormon-hormon ini memiliki struktur kimia yang kompleks, sehingga tidak selalu mudah dianalisis.


Hormon tropic


·         Sebagian hormon adenohipofisis disebut hormon tropik, karena targetnya adalah kelenjar endokrin lain.

·         Fungsi hormon tropik baru bisa dipahami berdasarkan cara kelenjar target merespons hormon tersebut.


Adenohipofisis dan Hormon Pertumbuhan


Hormon pertumbuhan (somatotropin) disekresikan oleh adenohipofisis dan berperan penting dalam pertumbuhan dan metabolisme. Hormon ini berupa protein, dengan struktur primernya telah ditetapkan pada manusia dan sapi. Representasi struktur kimianya dapat dilihat sebagai model atom penuh atau pita protein.

 

Hormon pertumbuhan kemungkinan tersebar luas pada gnathostoma (vertebrata berkahang), tetapi keberadaannya pada agnatha (vertebrata tanpa rahang) masih belum pasti. Sifat fisik dan kimianya bervariasi antar spesies, yang memengaruhi aktivitas biologisnya. Menariknya, sebagian molekul hormon dapat hilang (hingga 25%) tanpa menurunkan efek biologis.

Manusia merespons hormon pertumbuhan dari primata lain, sedangkan tikus merespons hormon dari berbagai spesies. Pertumbuhan ikan teleost berhenti jika kelenjar pituitari diangkat, namun dapat dipulihkan dengan hormon pertumbuhan mamalia. Hormon dari ikan paru-paru dan sturgeon juga dapat memengaruhi pertumbuhan mamalia, kemungkinan karena struktur molekulnya lebih mirip.

Hormon pertumbuhan meningkatkan sintesis protein, memengaruhi metabolisme ion (natrium, kalium, kalsium), mendorong pemecahan lemak, dan memengaruhi metabolisme karbohidrat, sehingga kadang menaikkan kadar glukosa darah. Hal ini merangsang produksi insulin untuk menjaga keseimbangan gula darah. Pada anjing, perawatan jangka panjang dapat menekan fungsi pankreas, tetapi efek serupa jarang terjadi pada manusia.

Kelebihan hormon pertumbuhan pada manusia dapat merusak:


  • Sebelum penutupan epifisis tulang panjang → gigantisme
  • Setelah penutupan epifisis → akromegali, dengan pembesaran tulang, jaringan lunak, dan perubahan bentuk tengkorak.

Prolaktin


Prolaktin adalah hormon protein yang pada mamalia betina memulai dan mempertahankan produksi susu. Kelenjar susu sebelumnya telah dipersiapkan oleh hormon lain untuk fungsi ini. Pada tikus betina, prolaktin juga mempertahankan sekresi progesteron yang dihasilkan oleh korpus luteum, sehingga prolaktin juga berperan sebagai gonadotropin yang menargetkan kelenjar endokrin. Struktur molekul prolaktin mirip dengan hormon pertumbuhan, yang menjelaskan tumpang tindih beberapa sifat biologis; misalnya, prolaktin dapat mendorong pertumbuhan pada banyak vertebrata darat, sementara hormon pertumbuhan manusia memiliki sifat luteotropik seperti prolaktin.

Aksi biologis prolaktin bervariasi antar kelompok vertebrata. Pada burung, hormon ini merangsang produksi susu tembolok untuk memberi makan anaknya, dengan perubahan pada dinding tembolok sebagai indikator biologisnya. Pada beberapa kadal air (misalnya, spesies Triturus), prolaktin memengaruhi perilaku, mendorong hewan muda masuk ke air. Pada ikan bertulang, hormon ini mengatur kadar natrium plasma dan penting untuk kehidupan di air tawar.

Namun, efek prolaktin berbeda antar spesies. Beberapa teleost, seperti belut, tetap hidup di air tawar meski hipofisektomi, menunjukkan prolaktin hanyalah satu faktor dalam mekanisme pengaturan kompleks. Prolaktin mamalia dapat memengaruhi metabolisme natrium pada belut, tetapi preparat kelenjar pituitari ikan tidak merangsang produksi susu tembolok pada burung. Hal ini menunjukkan bahwa prolaktin telah mengalami perubahan evolusioner dalam struktur dan fungsi biologisnya, beradaptasi secara spesifik dengan organ target seperti tembolok dan kelenjar susu.


Hormon Adrenokortikotropik (ACTH)


  • Fungsi: Mengatur korteks adrenal (zona fasciculata & reticularis) untuk produksi glukokortikoid (kortisol, kortikosteron). Tidak memengaruhi aldosteron di zona glomerulosa.
  • Mekanisme: Dimediasi cAMP, yang meningkatkan sintesis enzim untuk hormon steroid. Sekresi diatur oleh umpan balik negatif: kadar glukokortikoid rendah → ACTH meningkat. Epinefrin juga memengaruhi pelepasan ACTH.
  • Struktur: Polipeptida 39 asam amino; 20 pertama membentuk pusat aktif yang cukup untuk aktivitas. Bagian lain mendukung sifat antigenik atau interaksi dengan reseptor.

Tirotropin (TSH / Hormon Perangsang Tiroid)


  • Fungsi: Merangsang sekresi hormon tiroid; stimulasi jangka panjang dapat menyebabkan hiperplasia dan pembesaran kelenjar.
  • Efek berlebih: Pada manusia dapat memicu eksoftalmos akibat zat terkait TSH.
  • Struktur: Glikoprotein (~26.000–30.000 Da), ada variasi respons antar spesies, menunjukkan evolusi molekuler.
  • Catatan: Mungkin tidak ada pada agnathans (vertebrata tanpa rahang).

 

Hormon Perangsang Folikel (FSH)


FSH adalah gonadotropin, yang mengatur aktivitas gonad (kelenjar seks) sebagai sumber sel telur dan sperma. Pada betina, FSH merangsang perkembangan folikel Graafian di ovarium. Pada jantan, hormon ini mendorong perkembangan tubulus testis dan diferensiasi sperma.

Seperti tirotropin, FSH adalah glikoprotein, dengan berat molekul sekitar 41.000–43.000 pada manusia. Efek rinci FSH terkait reproduksi akan dibahas lebih lanjut pada bagian hormon sistem reproduksi.


Hormon Luteinizing (LH / Hormon Perangsang Sel Interstisial)


Sekitar 10% sel kelenjar pituitari adalah gonadotrof, yang mensekresikan gonadotropin, termasuk hormon luteinizing (LH) dan hormon perangsang folikel (FSH). Kedua hormon ini penting untuk kesuburan.

LH adalah gonadotropin glikoprotein dengan berat molekul sekitar 26.000 pada manusia.


  • Pada betina, LH mendorong transformasi folikel Graafian menjadi korpus luteum setelah ovulasi, sehingga mendukung produksi hormon seks wanita.
  • Pada jantan, LH merangsang perkembangan sel Leydig di testis, yang mendorong sekresi testosteron. Fungsi ini terkait erat dengan FSH, dan hubungan timbal balik keduanya menyulitkan pemisahan pasti dua hormon ini pada beberapa vertebrata tingkat rendah.

Menariknya, LH dan FSH mamalia juga dapat memiliki aksi tirotropik pada vertebrata rendah, yaitu merangsang sekresi hormon tiroid. Efek ini, yang disebut efek heterotirotropik, menunjukkan bahwa FSH, LH, dan TSH mungkin berevolusi dari modifikasi molekul glikoprotein leluhur yang sama, sehingga muncul tumpang tindih sifat biologisnya.


Hormon Perangsang Melanosit (MSH / Intermedin)


MSH disekresikan oleh pars intermedia kelenjar pituitari dan mengatur perubahan warna pada vertebrata tingkat rendah dengan meningkatkan konsentrasi pigmen di melanosit atau kromatofor. Pada ikan bertulang dan reptil, MSH bekerja bersama sistem saraf untuk mengubah warna kulit. Pada burung dan mamalia, MSH tetap disekresikan, tetapi tidak memicu perubahan fisiologis warna; efeknya lebih bersifat morfologis, yaitu mengubah jumlah pigmen kulit, misalnya kulit manusia menjadi lebih gelap setelah dosis tinggi MSH.


MSH memiliki tiga bentuk:


  • α-MSH: 13 asam amino, urutannya konstan pada semua spesies yang telah dipelajari.
  • β-MSH dan γ-MSH: panjang dan urutannya bervariasi.
    Ketiga bentuk berasal dari proopiomelanocortin (POMC) dan masing-masing mengaktifkan reseptor melanokortin (MCR) tertentu.

Regulasi Adenohipofisis oleh Hipotalamus


Sekresi hormon adenohipofisis dikontrol oleh sistem neurosekretori hipotalamus, melalui faktor pelepas hipotalamus yang sebagian besar berupa polipeptida sederhana. Jalur komunikasi kimianya ada dua:


  1. Serabut neurosekretori langsung: serabut dari hipotalamus memasuki adenohipofisis, bersentuhan dengan sel sekretori atau kapiler dekat sel target. Contohnya, pada pars intermedia, jika koneksi ini diputus (misal pada amfibi), sekresi MSH meningkat, menyebabkan penggelapan kulit yang berkepanjangan hingga saraf beregenerasi.
  2. Jalur vaskular (portal hipofisis): faktor pelepas hipotalamus dilepaskan di eminensia median, kemudian diangkut melalui sistem portal hipofisis ke pars distalis, memengaruhi sel sekretori tertentu.

Kedua jalur ini memungkinkan komunikasi kimia antara sistem saraf pusat dan adenohipofisis, sehingga aktivitas kelenjar endokrin dapat disesuaikan dengan kondisi internal dan eksternal. Sistem ini juga mendukung umpan balik negatif, di mana hormon dari kelenjar target memengaruhi sekresi hormon tropik dari adenohipofisis, langsung atau melalui hipotalamus.


Hormon Kelenjar Tiroid


Kelenjar tiroid menghasilkan Tiroksin (T4) dan Triiodotironin (T3).


Biosintesis:


Hormon terbentuk dari tirosin dalam tiroglobulin, dengan yodium ditambahkan oleh enzim iodida peroksidase menjadi MIT dan DIT, kemudian digabung menjadi T3 dan T4. Hormon disimpan dalam koloid dan dilepaskan setelah pemecahan tiroglobulin; yodium sebagian disimpan kembali. Dalam darah, hormon biasanya terikat protein plasma dan harus dilepaskan sebelum aktif.


Regulasi:


Sekresi dikendalikan umpan balik negatif. TSH dari adenohipofisis merangsang sintesis hormon, penyerapan koloid, dan metabolisme sel tiroid. Stimulasi berkepanjangan dapat menyebabkan pembesaran kelenjar (gondok).


Gangguan:


Goitrogen menghambat produksi hormon: tiosianat mengurangi penyerapan yodium, sedangkan tiourea/tiourasil menghambat peroksidase. Gondok muncul saat mekanisme umpan balik berusaha mempertahankan hormon meski ada kekurangan yodium atau penghambatan enzim.


kalsitonin dan jaringan ultimobranchial:


Kalsitonin, hormon yang menurunkan kadar kalsium darah, diproduksi oleh sel parafolikular (sel C) di kelenjar tiroid. Sel-sel ini berasal dari jaringan ultimobranchial, yang muncul dari bagian belakang faring pada vertebrata. Pada mamalia, sel C berada di dalam kelenjar tiroid, sedangkan pada burung, kelenjar ultimobranchial tetap terpisah, sehingga menjadi jelas bahwa jaringan ini merupakan sumber kalsitonin.

Hormon ini berupa polipeptida yang terdiri dari 32 asam amino, dengan berat molekul sekitar 3.400–3.430, tergantung spesies. Kalsitonin salmon lebih kuat dibandingkan kalsitonin mamalia. Fungsi utamanya adalah menurunkan kadar kalsium darah dengan mengurangi mobilisasi kalsium dari tulang, bertindak berlawanan dengan parathormon dari kelenjar paratiroid. Karena tulang bersifat metabolik, kalsium terus-menerus bertukar antara kerangka dan plasma darah, sehingga peran kalsitonin sangat penting untuk keseimbangan mineral ini.

Pada vertebrata tingkat rendah, seperti ikan, kalsitonin mungkin tidak bekerja melalui tulang, karena beberapa spesies tidak memiliki tulang sejati atau tulangnya tidak dapat dibentuk ulang. Sebagai gantinya, hormon ini kemungkinan mengatur kadar kalsium plasma melalui pergerakan ion melintasi membran sel. Penemuan ini menekankan pentingnya studi perbandingan dalam endokrinologi, karena menunjukkan bagaimana fungsi hormon berkembang sesuai dengan struktur dan kebutuhan organisme.


Kelenjar Paratiroid


Kelenjar paratiroid adalah kelenjar kecil yang berfungsi mengatur kadar kalsium dalam darah melalui hormon parathormon (PTH). Kalsium penting untuk fungsi otot, saraf, dan pembekuan darah.

Jika kadar kalsium darah menurun, kelenjar paratiroid akan meningkatkan produksi PTH. Hormon ini membantu meningkatkan kadar kalsium dengan mengambil kalsium dari tulang, meningkatkan penyerapan di usus, dan mengurangi pembuangan kalsium melalui ginjal.

Parathormon bekerja berlawanan dengan hormon kalsitonin yang menurunkan kadar kalsium darah. Selain itu, vitamin D juga berperan penting dalam membantu tubuh menyerap kalsium. Kekurangan vitamin D pada anak dapat menyebabkan kelainan tulang seperti rakitis.


Hormon Pankreas:


Insulin


Insulin adalah hormon yang dihasilkan oleh sel beta pada pulau Langerhans di pankreas. Hormon ini berfungsi mengatur kadar gula darah dalam tubuh. Kekurangan insulin dapat menyebabkan penyakit diabetes melitus.

Insulin bekerja dengan cara membantu glukosa masuk ke dalam sel, terutama pada sel otot dan jaringan lemak, sehingga dapat digunakan sebagai sumber energi. Selain itu, insulin juga membantu menyimpan kelebihan glukosa sebagai glikogen di hati dan otot.

Insulin juga mengurangi penggunaan lemak dan protein sebagai sumber energi serta membantu pembentukan lemak dan protein. Di hati, insulin menurunkan pembentukan glukosa baru sehingga kadar gula darah dapat menurun.

Produksi insulin meningkat ketika kadar gula darah naik dan menurun ketika kadar gula kembali normal. Hormon ini bekerja bersama glukagon, yang memiliki fungsi kebalikan yaitu menaikkan kadar gula darah.


Glukagon


Glukagon adalah hormon yang dihasilkan oleh sel alfa pada pulau Langerhans di pankreas. Hormon ini tersusun dari 29 asam amino dan berfungsi meningkatkan kadar gula darah.

Glukagon bekerja dengan cara memecah glikogen di hati menjadi glukosa (glikogenolisis) sehingga kadar gula darah meningkat. Selain itu, glukagon juga mengurangi pembentukan glikogen, mendorong pemecahan protein, dan meningkatkan penggunaan lemak sebagai sumber energi.

Glukagon bekerja berlawanan dengan insulin. Jika insulin menurunkan kadar gula darah, maka glukagon menaikkannya sehingga membantu menjaga keseimbangan gula darah (homeostasis) dalam tubuh.


Hormon Kelenjar Adrenal


Kelenjar adrenal terdiri dari dua bagian, yaitu korteks (bagian luar) dan medula (bagian dalam). Medula adrenal mengandung jaringan kromafin yang menghasilkan hormon epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin (noradrenalin), yang termasuk kelompok katekolamin.

Kedua hormon ini dibentuk dari asam amino tirosin melalui beberapa tahap, yaitu tirosin → dopa → dopamin → norepinefrin → epinefrin.

Fungsi Epinefrin dan Norepinefrin

Kedua hormon ini berperan dalam respons tubuh terhadap keadaan darurat atau stres (fight or flight), dengan efek seperti:

·         meningkatkan detak jantung dan tekanan darah

·         meningkatkan pernapasan

·         meningkatkan kadar gula darah

·         meningkatkan kewaspadaan dan aktivitas saraf

Hormon ini bekerja bersama sistem saraf simpatik untuk membantu tubuh merespons kondisi darurat dengan cepat.


Jaringan Adrenokortikal Korteks


Korteks adrenal adalah bagian luar kelenjar adrenal yang menghasilkan hormon steroid (kortikosteroid). Hormon ini berasal dari kolesterol dan diproduksi melalui proses metabolisme tertentu.

Tiga hormon utama yang dihasilkan korteks adrenal adalah:


·         Kortisol

·         Kortikosteron

·         Aldosteron

Fungsi Hormon


·         Kortisol dan kortikosteron (glukokortikoid) berperan dalam mengatur metabolisme karbohidrat dan membantu menjaga kadar gula darah, terutama saat tubuh kekurangan glukosa.

·         Aldosteron (mineralokortikoid) berfungsi mengatur keseimbangan garam dan air, terutama dengan meningkatkan penyerapan natrium di ginjal dan mengeluarkan kalium melalui urin.

Hormon-hormon ini juga penting untuk membantu tubuh menghadapi stres dan menjaga keseimbangan tubuh (homeostasis). Kekurangan hormon korteks adrenal dapat menyebabkan penyakit Addison, yang ditandai dengan kelemahan tubuh dan gangguan metabolisme.


Hormon Sistem Reproduksi Wanita (Ringkasan Singkat)


Hormon reproduksi wanita terutama adalah estrogen dan progesteron, yang diproduksi oleh ovarium. Hormon ini bekerja bersama hipotalamus dan kelenjar pituitari untuk mengatur siklus reproduksi.


Estrogen


Estrogen dihasilkan oleh folikel ovarium. Hormon utama adalah estradiol.
Fungsi estrogen:


·         mengatur siklus menstruasi

·         merangsang pertumbuhan lapisan rahim (endometrium)

·         mempersiapkan tubuh untuk proses reproduksi


Progesteron


Progesteron diproduksi terutama oleh korpus luteum setelah ovulasi.
Fungsi progesteron:

·         mempersiapkan rahim untuk implantasi embrio

·         mempertahankan kehamilan

·         menghambat ovulasi selama kehamilan

Pengaturan Siklus

Siklus reproduksi diatur oleh hormon dari kelenjar pituitari, yaitu:


·         FSH (Follicle Stimulating Hormone) → merangsang pertumbuhan folikel ovarium

·         LH (Luteinizing Hormone) → memicu ovulasi


Jika terjadi pembuahan, plasenta akan menghasilkan hormon yang membantu mempertahankan kehamilan.


Hormon Seks Pria


Hormon seks pria terutama diatur oleh testis, yang menghasilkan hormon steroid yang disebut androgen, dengan testosteron sebagai yang paling penting. Produksi testosteron dikendalikan oleh kelenjar pituitari melalui dua hormon: FSH, yang merangsang pertumbuhan tubulus seminiferus dan pembentukan sperma, serta LH, yang mendorong sel-sel interstisial testis menghasilkan testosteron.

Testosteron berperan dalam membentuk ciri-ciri seksual sekunder pria, seperti otot yang lebih besar, suara lebih berat, dan pertumbuhan rambut tubuh. Selain itu, hormon ini mempertahankan fungsi sperma dan tubulus seminiferus, serta mendorong pertumbuhan tulang selama masa pubertas. Peningkatan sekresi androgen pada masa pubertas memicu percepatan pertumbuhan, hingga epifisis tulang panjang menutup, menandai akhir pertumbuhan tulang.

Hormon ini juga berpengaruh pada perilaku jantan, mendukung ciri-ciri khas pria, dan secara biologis memastikan tubuh siap untuk reproduksi. Meskipun testosteron dapat diubah menjadi estrogen dalam tubuh, jumlahnya kecil dan biasanya tidak mengganggu fungsi reproduksi. Dengan demikian, hormon seks pria menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, reproduksi, dan ciri fisik yang khas pada pria.


Hormon-hormon Sistem Pencernaan


Pada vertebrata, aktivitas saluran pencernaan dikendalikan oleh mekanisme saraf dan hormon. Hormon pencernaan bekerja secara relatif mandiri, mengatur organ yang memproduksinya.

Pada mamalia, beberapa hormon pencernaan penting telah dikenal, terutama gastrin, sekretin, dan kolesistokinin (CCK), serta hormon lain seperti ghrelin, motilin, dan peptida penghambat lambung.

·         Gastrin dilepaskan oleh lambung saat makanan masuk dan merangsang produksi asam lambung serta pepsinogen.

·         Sekretin dilepaskan oleh usus halus (duodenum) dan mendorong pankreas mengeluarkan cairan bikarbonat serta hati memproduksi empedu.

·         Kolesistokinin (CCK) merangsang pelepasan enzim pankreas dan kontraksi kantung empedu, memudahkan pencernaan lemak dan protein.

Mekanisme hormon pencernaan sudah muncul sejak vertebrata awal, termasuk agnathan dan gnathostoma, menunjukkan evolusi awal pengaturan pencernaan. Beberapa hormon modern, seperti glukagon dan sekretin, kemungkinan berevolusi dari molekul leluhur yang sama karena kesamaan struktural.


Kelenjar dan sekresi mirip endokrin


Selain hormon utama, vertebrata memiliki zat dan kelenjar mirip endokrin yang fungsinya belum sepenuhnya dipahami, tetapi kemungkinan berperan dalam regulasi fisiologis.

·         Bradikinin, polipeptida dari darah, dapat menyebabkan kontraksi otot polos dan melebarkan pembuluh darah, berpotensi mengatur aliran darah atau respons peradangan.

·         Badan karotis pada arteri karotis merespons rendahnya kadar oksigen dan mungkin menghasilkan zat yang merangsang eritropoiesis (pembentukan sel darah merah).

·         Kelenjar pineal pada vertebrata tingkat tinggi menghasilkan serotonin dan melatonin. Melatonin mengatur pigmen pada amfibi dan diduga terlibat dalam pengaturan reproduksi.

·         Kelenjar timus penting untuk sistem imun; ia menghasilkan protein timosin yang merangsang perkembangan limfosit, meski status hormoniknya belum pasti.

·         Urohipofisis, ditemukan pada elasmobranch dan ikan bertulang, adalah organ neurosekretori yang mirip dengan lobus neural hipofisis.

·         Korpuskel Stannius pada ikan bertulang memengaruhi homeostasis ionik meski tidak memproduksi kortikoid seperti korteks adrenal.

Dengan demikian, vertebrata memiliki banyak kelenjar dan zat sekresi yang berperan dalam regulasi internal, meski beberapa masih bersifat misterius dan memerlukan penelitian lebih lanjut.


Tonton melalui youtube




 

Keranjang Anda

Keranjang anda kosong