Jan 05, 2026
|
662
Langkah Praktis Hindari HIV
8 Langkah Sederhana Mencegah HIV
Pencegahan HIV bukan
hanya soal mengikuti aturan. Ini tentang memahami risiko dan mengetahui
bagaimana HIV dapat ditularkan dan tidak ditularkan. Hal ini juga tentang
mengambil langkah ekstra untuk mengedukasi diri sendiri mengenai bentuk
pencegahan HIV yang baru maupun yang tradisional. Yang paling penting, ini
tentang mengenali diri sendiri.
Pada akhirnya, kondisi
setiap orang akan berbeda. Beberapa orang lebih rentan terhadap infeksi
dibandingkan yang lainnya. Individu lainnya mungkin memiliki tujuan yang
spesifik, seperti memulai untuk berkeluarga atau hamil, yang memerlukan
perhatian khusus dan memiliki risiko yang berbeda.
Untuk melindungi diri
sendiri, Anda perlu melihat dengan jujur faktor risiko pribadi Anda dan
merancang strategi pencegahan individual untuk meminimalkan risiko.
Artikel ini membahas
delapan teknik yang berbeda yang dapat Anda masukkan ke dalam strategi
pencegahan HIV Anda.
1. Ketahui Risikonya
Pencegahan HIV dimulai
dengan memastikan fakta sudah tepat, mengerti berbagai macam cara penularan dan
mengidentifikasi aktivitas apa saja yang membuat Anda sebagai individu yang
berisiko.
Mulai dengan
mengetahui dasarnya:
- HIV menyebar melalui kontak
intim dengan air mani, cairan pre-ejakulasi (“pre-ejakulasi”), darah, cairan
vagina, cairan rektal, dan Air Susu Ibu (ASI).
- HIV sebagian besar menyebar
melalui seks anal, seks vaginal, dan penggunaan jarum bersama.
- HIV juga dapat menyebar dari
ibu ke anak selama kehamilan atau menyusui, atau melalui paparan di tempat
kerja (seperti cedera tertusuk jarum).
- HIV tidak dapat menyebar
melalui sentuhan, ciuman, nyamuk, penggunaan bersama dari peralatan, toilet,
wastafel, tempat minum umum, meludah, atau menyentuh cairan tubuh
2. Mengonsumsi PrEP
HIV Pre-exposure prophylaxis (PrEP) merupakan strategi pencegahan yang mana dosis harian
obat-obatan HIV, dikenal sebagai antiretroviral, dapat mengurangi risiko Anda
terinfeksi HIV sebesar 99%.
Apretude
(cabotegravir) dan Yeztugo (lenacapavir) merupakan pilihan PrEP terbaru yang
tidak memerlukan pil harian. Apretude diberikan sebagai injeksi setiap dua
bulan, sedangkan Yeztugo diberikan sebagai injeksi setiap enam bulan.
Menurut Center for
Disease Control and Prevention (CDC), semua individu yang merupakan orang
dewasa dan remaja yang aktif secara seksual harus diberi edukasi tentang PrEP. PrEP direkomendasikan untuk setiap orang yang lebih mungkin untuk didiagnosis
HIV, termasuk orang dalam hubungan serodiskordan ketika jumlah virus dalam
tubuh pasangan mereka terdeteksi atau tidak diketahui; orang dengan satu atau
lebih pasangan seks dengan status HIV tidak diketahui; dan orang yang pernah
mengalami infeksi menular seksual bakteri dalam enam bulan terakhir. PrEP dapat digunakan
oleh setiap orang dengan risiko HIV yang ingin mengurangi peluang mereka untuk
terinfeksi.
3. Mencapai dan Mempertahankan
Kondisi Tidak Terdeteksi
Tidak terdeteksi =
tidak menularkan. Strategi berbasis bukti pada orang dengan viral load yang
tidak terdeteksi tidak dapat menularkan virus pada orang lain.
Viral load adalah pengukuran
jumlah virus dalam sampel darah. Tidak terdeteksi artinya tidak ada virus yang
terdeteksi dalam sampel darah, yang didefinisikan sebagai memiliki kurang dari
200 kopi virus HIV per mL darah.
Berdasarkan bukti pada
penelitian PARTNER1 dan PARTNER2 yang berlangsung dari 2010 hingga 2018, Anda
tidak dapat menularkan virus ke orang lain jika Anda mencapai dan
mempertahankan viral load yang tidak terdeteksi.
4. Gunakan Kondom
Tidak ada alasan untuk
bersikap longgar atau tidak tegas dalam hal penggunaan kondom. Selain tidak
berhubungan seks sama sekali, kondom internal dan eksternal tetap menjadi cara
yang paling diandalkan dari pencegahan kehamilan, HIV, dan penyakit menular
seksual lainnya. Tidak ada strategi pencegahan lain yang bisa melakukan
ketiganya.
Mencegah penyakit
menular seksual itu penting karena dapat meningkatkan risiko HIV dengan merusak
jaringan vagina atau anal. Hal ini tidak hanya berlaku pada penyakit menular
seksual seperti sifilis yang menyebabkan luka terbuka, tetapi juga pada setiap
penyakit menular seksual yang menyebabkan peradangan genital.
5. Hamil dengan Aman
Pada hampir seperempat
dari semua pasangan yang hidup dengan HIV, satu pasangan positif HIV dan
lainnya negatif HIV.
Dengan kemajuan terapi
HIV, pasangan serodiskordan sekarang memiliki peluang lebih besar dari
sebelumnya untuk hamil, memungkinkan terjadinya kehamilan sekaligus
meminimalkan risiko penularan pada pasangan yang tidak terinfeksi HIV.
Faktanya, kombinasi
antara PrEP dan viral load yang tidak terdeteksi seharusnya hampir sepenuhnya
menjamin perlindungan terhadap penularan dalam hubungan serodiskordan.
6. Hindari Penularan dari Ibu ke
Anak
Pencegahan penularan
HIV dari ibu ke anak mencakup pada semua tahap dalam kehamilan. Karena
pemeriksaan rutin HIV selama kehamilan, penularan dari ibu ke anak menjadi
jarang terjadi di Amerika Serikat. Meskipun begitu, hal tersebut tetap bisa
terjadi.
Memberikan ibu terapi
antiretroviral pada awal kehamilan, risiko penularan menjadi sangat rendah.
Bahkan jika pengobatan dimulai pada tahap akhir kehamilan, risiko keseluruhan
tetap kurang dari 2%.
Karena virus HIV dapat
ditemukan dalam Air Susu Ibu (ASI), menyusui juga harus dihindari.
7. Hindari Penggunaan Jarum
Bersama
Tingkat HIV di antara
orang yang menggunakan injeksi narkoba (PWID) tinggi. Penelitian menunjukkan
bahwa di mana pun dari 20% hingga 40% PWID terinfeksi HIV karena berbagi
penggunaan jarum atau suntikan.
Dan tidak hanya PWID yang berisiko. Pasangan seks mereka juga mungkin berisiko, khususnya jika
mereka tidak peduli pada penggunaan obat pasangannya.
Program pertukaran
jarum gratis yang disponsori oleh pemerintah tersedia di banyak negara untuk
mencegah penyebaran HIV dan infeksi yang ditularkan melalui darah (seperti
hepatitis C). Program jarum bersih telah menunjukkan pengurangan drastis risiko
HIV di antara PWID dengan mengurangi praktik berbagi jarum.
8. Mencegah HIV setelah Terpapar
Jika Anda percaya Anda
telah terpapar HIV, baik melalui seks yang tidak menggunakan kondom atau
aktivitas risiko tinggi lainnya, Anda dapat mengonsumsi obat HIV selama 28 hari
untuk mencegah potensi dari infeksi.
Yang disebut post-exposure prophylaxis (PEP), strategi ini bekerja dengan baik jika dimulai
segera setelah terpapar virus. Penelitian menunjukkan bahwa PEP dapat
mengurangi risiko HIV hingga 81% jika dimulai dalam 72 jam. Semakin awal Anda
memulai pengobatan, semakin baik hasilnya.
Kesimpulan
Saat ini, pencegahan
HIV memiliki banyak bentuk. Tergantung pada faktor risiko individu Anda, Anda
mungkin mendapatkan manfaat dari menggunakan satu dari beberapa pencegahan
tersebut:
- Kondom internal dan eksternal
- Menggunakan pre-exposure
prophylaxis (PrEP) jika Anda tidak terinfeksi HIV
- Menjaga viral load yang tidak
terdeteksi jika Anda terinfeksi HIV
- Memulai terapi HIV jika Anda
sedang hamil
- Hindari menyusui jika Anda
terinfeksi HIV
- Hindari penggunaan jarum dan
suntikan bersama
- Gunakan post-exposure
prophylaxis (PEP) jika Anda tidak sengaja terpapar HIV
Edukasi juga merupakan
kunci. Lebih banyak yang Anda tahu tentang HIV dan bagaimana cara mencegahnya,
semakin terjamin perlindungannya.