Please wait...

IMG-LOGO
Jan 05, 2026 | 661

Langkah Praktis Hindari HIV

8 Langkah Sederhana Mencegah HIV

Pencegahan HIV bukan hanya soal mengikuti aturan. Ini tentang memahami risiko dan mengetahui bagaimana HIV dapat ditularkan dan tidak ditularkan. Hal ini juga tentang mengambil langkah ekstra untuk mengedukasi diri sendiri mengenai bentuk pencegahan HIV yang baru maupun yang tradisional. Yang paling penting, ini tentang mengenali diri sendiri. 

Pada akhirnya, kondisi setiap orang akan berbeda. Beberapa orang lebih rentan terhadap infeksi dibandingkan yang lainnya. Individu lainnya mungkin memiliki tujuan yang spesifik, seperti memulai untuk berkeluarga atau hamil, yang memerlukan perhatian khusus dan memiliki risiko yang berbeda. 

Untuk melindungi diri sendiri, Anda perlu melihat dengan jujur faktor risiko pribadi Anda dan merancang strategi pencegahan individual untuk meminimalkan risiko. 

Artikel ini membahas delapan teknik yang berbeda yang dapat Anda masukkan ke dalam strategi pencegahan HIV Anda.      




     1. Ketahui Risikonya 

Pencegahan HIV dimulai dengan memastikan fakta sudah tepat, mengerti berbagai macam cara penularan dan mengidentifikasi aktivitas apa saja yang membuat Anda sebagai individu yang berisiko. Mulai dengan mengetahui dasarnya:
  • HIV menyebar melalui kontak intim dengan air mani, cairan pre-ejakulasi (“pre-ejakulasi”), darah, cairan vagina, cairan rektal, dan Air Susu Ibu (ASI).
  • HIV sebagian besar menyebar melalui seks anal, seks vaginal, dan penggunaan jarum bersama.
  • HIV juga dapat menyebar dari ibu ke anak selama kehamilan atau menyusui, atau melalui paparan di tempat kerja (seperti cedera tertusuk jarum).
  • HIV tidak dapat menyebar melalui sentuhan, ciuman, nyamuk, penggunaan bersama dari peralatan, toilet, wastafel, tempat minum umum, meludah, atau menyentuh cairan tubuh

     2. Mengonsumsi PrEP 

HIV Pre-exposure prophylaxis (PrEP) merupakan strategi pencegahan yang mana dosis harian obat-obatan HIV, dikenal sebagai antiretroviral, dapat mengurangi risiko Anda terinfeksi HIV sebesar 99%. 

Apretude (cabotegravir) dan Yeztugo (lenacapavir) merupakan pilihan PrEP terbaru yang tidak memerlukan pil harian. Apretude diberikan sebagai injeksi setiap dua bulan, sedangkan Yeztugo diberikan sebagai injeksi setiap enam bulan. 

Menurut Center for Disease Control and Prevention (CDC), semua individu yang merupakan orang dewasa dan remaja yang aktif secara seksual harus diberi edukasi tentang PrEP. PrEP direkomendasikan untuk setiap orang yang lebih mungkin untuk didiagnosis HIV, termasuk orang dalam hubungan serodiskordan ketika jumlah virus dalam tubuh pasangan mereka terdeteksi atau tidak diketahui; orang dengan satu atau lebih pasangan seks dengan status HIV tidak diketahui; dan orang yang pernah mengalami infeksi menular seksual bakteri dalam enam bulan terakhir. PrEP dapat digunakan oleh setiap orang dengan risiko HIV yang ingin mengurangi peluang mereka untuk terinfeksi. 


     3. Mencapai dan Mempertahankan Kondisi Tidak Terdeteksi 

Tidak terdeteksi = tidak menularkan. Strategi berbasis bukti pada orang dengan viral load yang tidak terdeteksi tidak dapat menularkan virus pada orang lain. 

Viral load adalah pengukuran jumlah virus dalam sampel darah. Tidak terdeteksi artinya tidak ada virus yang terdeteksi dalam sampel darah, yang didefinisikan sebagai memiliki kurang dari 200 kopi virus HIV per mL darah. 

Berdasarkan bukti pada penelitian PARTNER1 dan PARTNER2 yang berlangsung dari 2010 hingga 2018, Anda tidak dapat menularkan virus ke orang lain jika Anda mencapai dan mempertahankan viral load yang tidak terdeteksi. 


     4. Gunakan Kondom 

Tidak ada alasan untuk bersikap longgar atau tidak tegas dalam hal penggunaan kondom. Selain tidak berhubungan seks sama sekali, kondom internal dan eksternal tetap menjadi cara yang paling diandalkan dari pencegahan kehamilan, HIV, dan penyakit menular seksual lainnya. Tidak ada strategi pencegahan lain yang bisa melakukan ketiganya. 

Mencegah penyakit menular seksual itu penting karena dapat meningkatkan risiko HIV dengan merusak jaringan vagina atau anal. Hal ini tidak hanya berlaku pada penyakit menular seksual seperti sifilis yang menyebabkan luka terbuka, tetapi juga pada setiap penyakit menular seksual yang menyebabkan peradangan genital. 


     5. Hamil dengan Aman 

Pada hampir seperempat dari semua pasangan yang hidup dengan HIV, satu pasangan positif HIV dan lainnya negatif HIV. 

Dengan kemajuan terapi HIV, pasangan serodiskordan sekarang memiliki peluang lebih besar dari sebelumnya untuk hamil, memungkinkan terjadinya kehamilan sekaligus meminimalkan risiko penularan pada pasangan yang tidak terinfeksi HIV. 

Faktanya, kombinasi antara PrEP dan viral load yang tidak terdeteksi seharusnya hampir sepenuhnya menjamin perlindungan terhadap penularan dalam hubungan serodiskordan. 


     6. Hindari Penularan dari Ibu ke Anak 

Pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak mencakup pada semua tahap dalam kehamilan. Karena pemeriksaan rutin HIV selama kehamilan, penularan dari ibu ke anak menjadi jarang terjadi di Amerika Serikat. Meskipun begitu, hal tersebut tetap bisa terjadi. 

Memberikan ibu terapi antiretroviral pada awal kehamilan, risiko penularan menjadi sangat rendah. Bahkan jika pengobatan dimulai pada tahap akhir kehamilan, risiko keseluruhan tetap kurang dari 2%. Karena virus HIV dapat ditemukan dalam Air Susu Ibu (ASI), menyusui juga harus dihindari. 

     
     7. Hindari Penggunaan Jarum Bersama 

Tingkat HIV di antara orang yang menggunakan injeksi narkoba (PWID) tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa di mana pun dari 20% hingga 40% PWID terinfeksi HIV karena berbagi penggunaan jarum atau suntikan. 

Dan tidak hanya PWID yang berisiko. Pasangan seks mereka juga mungkin berisiko, khususnya jika mereka tidak peduli pada penggunaan obat pasangannya. 

Program pertukaran jarum gratis yang disponsori oleh pemerintah tersedia di banyak negara untuk mencegah penyebaran HIV dan infeksi yang ditularkan melalui darah (seperti hepatitis C). Program jarum bersih telah menunjukkan pengurangan drastis risiko HIV di antara PWID dengan mengurangi praktik berbagi jarum. 


     8. Mencegah HIV setelah Terpapar 

Jika Anda percaya Anda telah terpapar HIV, baik melalui seks yang tidak menggunakan kondom atau aktivitas risiko tinggi lainnya, Anda dapat mengonsumsi obat HIV selama 28 hari untuk mencegah potensi dari infeksi. 

Yang disebut post-exposure prophylaxis (PEP), strategi ini bekerja dengan baik jika dimulai segera setelah terpapar virus. Penelitian menunjukkan bahwa PEP dapat mengurangi risiko HIV hingga 81% jika dimulai dalam 72 jam. Semakin awal Anda memulai pengobatan, semakin baik hasilnya. 




Kesimpulan 

Saat ini, pencegahan HIV memiliki banyak bentuk. Tergantung pada faktor risiko individu Anda, Anda mungkin mendapatkan manfaat dari menggunakan satu dari beberapa pencegahan tersebut: 
  • Kondom internal dan eksternal 
  • Menggunakan pre-exposure prophylaxis (PrEP) jika Anda tidak terinfeksi HIV 
  • Menjaga viral load yang tidak terdeteksi jika Anda terinfeksi HIV 
  • Memulai terapi HIV jika Anda sedang hamil 
  • Hindari menyusui jika Anda terinfeksi HIV
  • Hindari penggunaan jarum dan suntikan bersama 
  • Gunakan post-exposure prophylaxis (PEP) jika Anda tidak sengaja terpapar HIV 
Edukasi juga merupakan kunci. Lebih banyak yang Anda tahu tentang HIV dan bagaimana cara mencegahnya, semakin terjamin perlindungannya.


Your Cart

Your basket is empty