Mohon tunggu...
Penggunaan ganja secara drastis meningkatkan risiko kematian akibat serangan jantung dan stroke, menurut temuan studi besar.

Menggunakan ganja berisiko kematian dua kali lipat akibat serangan jantung, menurut analisis baru terhadap data medis yang dikumpulkan yang melibatkan 200 juta orang dengan sebagian besar berusia antara 19 dan 59 tahun.
“Yang paling mencolok adalah pasien yang dirawat di rumah sakit karena gangguan ini masih muda (dan dengan demikian, tidak mungkin memiliki gejala klinis akibat merokok tembakau) dan tidak ada riwayat penyakit kardiovaskular atau faktor risiko kardiovaskular,” ucap penulis senior Émilie Jouanjus, seorang profesor madya farmakologi di Universitas Toulouse, Prancis, dalam sebuah email
Dibandingkan terhadap yang bukan pengguna, mereka yang menggunakan cannabis atau ganja juga memiliki risiko 99% lebih tinggi terkena serangan jantung dan risiko 20% lebih tinggi terkena stroke, menurut studi yang dipublikasikan hari selasa dalam Journal Heart.
“Ini adalah salah satu studi terbesar yang pernah ada mengenai hubungan antara ganja dan penyakit jantung, dan studi ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai asumsi bahwa ganja hanya menimbulkan sedikit risiko terhadap kardiovaskular,” ucap dokter anak Dr. Lynn Silver, seorang profesor klinis epidemiologi dan biostatistik di Universitas California, San Francisco.
“Memahami hal ini dengan benar itu sangat penting karena penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama kematian baik di Amerika Serikat maupun di seluruh dunia,” ucap Silver, yang juga seorang penasihat senior di Public Health Institute, sebuah organisasi kesehatan masyarakat nonprofit yang menganalisis kebijakan dan legalisasi ganja.
Silver adalah rekan penulis pada editorial yang diterbitkan bersama tulisan ilmiah yang menyerukan perubahan pada bagaimana ganja ditinjau oleh para profesional kesehatan, badan pengatur dan masyarakat umum.
“Dokter perlu melakukan skrining pada orang-orang yang menggunakan ganja dan mengedukasi mereka mengenai bahayanya, sama seperti yang kami lakukan untuk rokok tembakau, karena pada beberapa kelompok populasi ganja digunakan lebih luas dibandingkan tembakau konvensional.” Ucapnya. “Sistem regulasi kami, yang sudah hampir sepenuhnya berfokus pada pembangunan infrastruktur legal dan perizinan bisnis (ganja) yang berorientasi profit, perlu lebih berfokus pada peringatan kesehatan yang mengedukasi masyarakat mengenai risiko sebenarnya.”
Bahaya asap (dan mungkin makanan)
Tinjauan sistematis baru dan meta-analisis menganalisis informasi medis dari studi observasi besar yang diadakan di Australia, Mesir, Kanada, Perancis, Swedia dan Amerika Serikat antara tahun 2016 dan 2023.
Studi tersebut tidak bertanya pada orang-orang bagaimana mereka menggunakan ganja seperti melalui rokok, vaping, dabbing, makanan, tingtur atau topikal. (Dabbing termasuk menguapkan konsentrat ganja dan menghirup uapnya.) Namun, “berdasarkan data epidemiologis, kemungkinan besar ganja dihisap dalam sebagian besar kasus,” ucap Jouanjus.
Merokok tembakau terkenal menyebabkan penyakit jantung, asap dan bahan kimia dalam tembakau keduanya dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan perdarahan, menurut US Centers for Disease Control and Prevention.
Oleh karena itu, tidak mengejutkan bahwa merokok, vaping, dan dabbing ganja dapat menyebabkan hal yang sama, ucap Silver: “Berbagai cara menghirup ganja pasti berisiko bagi penggunanya, dan ada pula risiko dari paparan asap rokok, yang serupa dengan risiko dari paparan tembakau.”
Gagasan bahwa merokok ganja tidak begitu berbahaya karena ganja itu “alami” ini merupakan gagasan yang salah, Dr. Bert Cohen, seorang profesor kedokteran di University of California, San Francisco, mengatakan kepada CNN dalam wawancara sebelumnya.
“Saat anda membakar sesuatu, apakah itu tembakau atau ganja, hal itu membentuk senyawa toksik, karsinogenik, dan materi partikulat yang berbahaya bagi kesehatan,” ucap Cohen dalam sebuah email.
Namun, makanan juga mungkin berperan dalam penyakit jantung, menurut studi pada Mei 2025:
Orang yang mengonsumsi makanan yang dicampur dengan tetrahydrocannabinol, atau THC, menunjukkan tanda-tanda penyakit kardiovaskular lebih awal yang mirip dengan perokok tembakau.
“Kami menemukan bahwa fungsi vaskular berkurang 45% pada perokok ganja dan 56% pada konsumen makanan yang mengandung THC dibandingkan dengan yang bukan pengguna atau konsumen,” Dr. Leila Mohammadi, seorang asisten peneliti kardiologi di Universitas California, San Francisco, mengatakan kepada CNN dalam wawancara sebelumnya.
Bahaya ganja berpotensi tinggi
Tak satu pun penelitian yang termasuk dalam meta-analisis baru menanyakan pada pengguna mengenai potensi THC dalam produk yang mereka konsumsi. Bahkan jika mereka memilikinya, informasi tersebut akan lebih cepat kadaluwarsa, ucap Silver.
“Pasar ganja adalah target yang terus bergerak. Ini menjadi semakin kuat setiap harinya.” Ucapnya.
“Apa yang dijual pada orang-orang di California saat ini 5 hingga 10 kali lebih kuat daripada di tahun 1970an. Konsentrat dapat mengandung 99% THC murni. Vape mengandung lebih dari 80% THC.”
“Berbagai macam kanabinoid yang diekstraksi secara kimia dapat menghasilkan THC yang hampir murni, dan semua ini memiliki efek yang sangat berbeda pada orang-orang dibandingkan dengan merokok ganja pada tahun 1970an.”
Ganja dengan potensi yang lebih tinggi berkontribusi pada segudang masalah, termasuk peningkatan adiksi. Studi pada Juli 2022 menemukan bahwa konsumsi ganja yang berpotensi tinggi telah dikaitkan dengan peningkatan empat kali lipat dari risiko ketergantungan.
Di Amerika Serikat, sekitar 3 dari 10 orang yang menggunakan ganja mengalami gangguan akibat penggunaan ganja, istilah medis untuk kecanduan ganja, menurut CDC.
“Kami tahu bahwa ganja yang lebih kuat membuat orang-orang cenderung menjadi kecanduan,” ucap Silver. “Kami tahu bahwa ganja yang lebih kuat membuat orang-orang cenderung mengalami psikosis, yaitu melihat dan mendengar sesuatu yang tidak ada di sana, atau skizofrenia. Pengguna rutin juga mungkin mengalami muntah yang tidak terkontrol.”
Peningkatan potensi ini menjadi salah satu alasan mengapa penelitian saat ini mungkin belum sepenuhnya menangkap risiko ganja terhadap penyakit jantung, ucap Jouanjus: Kami takut bahwa hubungannya akan lebih kuat dari yang dilaporkan.
Sementara ilmu pengetahuan terus mempelajari risikonya, para ahli mengatakan saatnya untuk berpikir dua kali tentang potensi bahaya dari penggunaan ganja, terutama jika penyakit jantung menjadi perhatian.
“Jika saya orang dengan usia 60 tahun yang memiliki beberapa risiko penyakit jantung, saya akan sangat waspada tentang penggunaan ganja,” ucap Silver. “Saya melihat lansia yang menggunakan ganja untuk mengatasi rasa nyeri dan tidur, beberapa dari mereka memiliki risiko kardiovaskular yang signifikan, atau yang sudah menderita stroke atau mengalami serangan jantung atau angina, dan mereka tidak memiliki kepedulian bahwa hal ini dapat menempatkan mereka pada risiko yang lebih besar.”